Mohon tunggu...
Rusman
Rusman Mohon Tunggu... Libang Pepadi Kab. Tuban - Pemerhati budaya - Praktisi SambangPramitra
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama". Penulis juga aktif sebagai litbang Pepadi Kab. Tuban dan aktivis SambangPramitra.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

7. Rusman, Tafsir Serat Tripama

13 April 2019   12:39 Diperbarui: 9 Mei 2019   03:13 0 2 0 Mohon Tunggu...
7. Rusman, Tafsir Serat Tripama
Raden Karna Gugur oleh panah Adiknya sendiri

Memang sejauh ini dalam berbagai diskusi kecil tentang isi Serat Tripama banyak kita temui rasa penasaran. 

Selalu menjadi pertanyaan, mengapa tiga priyagung itu yang menjadi personifikasi dari nilai keutamaan?

Bukankah puluhan atau bahkan ratusan ksatriya tidak kalah keluhuran budinya dibandingkan dengan Sumantri, Kumbokarna maupun Suryaputra?

Mengapa bukan Pandawa yang sudah kondang kaloka sebagai sinatriya utama?

Puntadewa misalnya yang tidak satupun orang menyamai kejujurannya, Bima yang terkenal kuat kepribadiannya, atau mungkin Arjuna yang jagonya para dewa?

Yang tahu jawabannya tentu Sri Mangkunegara IV sendiri sebagai penulisnya.

Namun demikian sebagai pembaca kitapun diwenangkan untuk menanggapi, mencerna dan mengambil hikmahnya. 

Karena itu ada beberapa hasil kajian yang ingin penulis kemukakan dalam kesempatan ini:

1. Melalui Serat Tripama Kanjeng Sri Mangkunegara IV ingin menitipkan pesan kepada kita bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna.

Ketiga ksatriya yang dipilih adalah para tokoh yang relatif berimbang antara sisi baik dan buruknya. Mereka adalah figur yang mewakili jamannya masing-masing. Patih Suwanda mewakili jaman sebelum Ramayana. 

Raden Kumbakarna mewakili jaman Ramayana, dan Raden Karna mewakili jaman Mahabarata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3