Rushans Novaly
Rushans Novaly program pemberdayaan masyarakat

Terus Belajar Memahami Kehidupan Sila berkunjung di @NovalyRushan

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Tugas Kemanusian Itu Lancar Terlaksana karena Pertamax

31 Oktober 2017   20:30 Diperbarui: 31 Oktober 2017   20:57 714 0 0
Tugas Kemanusian Itu Lancar Terlaksana karena Pertamax
Sumber Ilustrasi : merdeka.com

Mobil Toyota Innova berkelir hitam itu melesat meninggalkan kawasan perkantoran Ciputat . Saya duduk di baris depan persis di samping bangku pengemudi. Kendaraan operasional kantor ini menjadi kendaraan yang paling sering saya dan tim gunakan. Apalagi bertugas di lembaga kemanusian yang harus sering turun ke lapangan untuk membantu korban bencana atau menjalankan program kemanusian lainnya. Keberadaan mobil bagi kami menjadi rumah kedua.

Kehandalan dan performa kendaraan menjadi penting , mengingat saya dan tim kadang harus menempuh perjalanan lumayan jauh. Bukan itu saja, kendaraan harus siap siaga digunakan kapan saja. Fulltime24 jam. Bencana bisa datang kapan saja dan program kegiatan kemanusiaan yang tiada putusnya. Jangan heran bila di lingkungan kantor saya, kendaraan operasional selalu diparkir dalam posisi siap berangkat.

Bayangkan bila tiba tiba ada bencana datang, secepat kilat kendaraan harus siap mengantar tim ke lokasi. Seperti kejadian kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa bumi, atau tsunami. Selama kejadian ada di Pulau Jawa bahkan juga di Pulau Sumatera, mobil operasional harus siap berangkat. Tak hanya membawa tim penyelamat, tetapi juga membawa segala perlengkapan yang cukup banyak. Dari perlengkapan penyelamatan, perlengkapan posko, alat medis hingga perlengkapan pribadi selama bertugas.

Untuk performa kendaraan, lembaga mensyaratkan perawatan maksimal temasuk mengisi bahan bakar berkualitas. Maka jangan heran bila kendaraan operasional selalu di isi bahan bakar jenis Pertamax. Hal ini bukan untuk gaya gayaan tapi memang tuntutan beban tugas pekerjaan.

Rupanya, bila dihitung dengan kebutuhan dan beban tugas yang berat, menggunakan Pertamax membuat biaya perawatan dan performa kendaraan jauh lebih bertenaga namun tetap efisien. Saya dan tim pernah harus berkendara selama lebih dari 14 jam agar sampai di ujung Pulau Jawa tepat waktu. Ketika itu terjadi bencana tanah longsor di Ponorogo pada bulan April lalu.

Dari Ciputat, tempat saya berkantor, jarak yang harus ditempuh hampir mencapai 700 Km ke Ponorogo, Jawa timur. Jarak 700 Km ditempuh dalam 14 jam perjalanan. Saya dan tim berangkat jam 11 menjelang siang dan tiba di lokasi bencana di Ponorogo jam 2 dini hari keesokan harinya.

Perjalanan panjang ini hampir tanpa istirahat kecuali untuk makan, sholat, dan membeli bahan bakar saja. Selebihnya, mobil berjalan terus dengan pengemudi yang bergantian. Selama perjalanan kami hanya menggunakan bahan bakar jenis Pertamax. Selain butuh kecepatan, saya dan tim juga butuh mobil tetap prima selama bertugas di wiayah bencana.

Karena selama di wilayah bencana, mobil akan melakukan banyak tugas mengangkuti perbekalan dan mobilitas anggota tim dari posko ke lokasi terdampak. Saya dan tim tak mau mengambil risiko mobil operasional bermasalah ketika dibutuhkan.

Kendaraan yang kami pakai harus terus melaju dengan kecepatan maksimal, berburu dengan waktu. Tak ada kata terlambat datang bagi lembaga kemanusian seperti kami. Terlambat berarti kalah. Untuk itulah performa kendaraan menjadi taruhan penting. Sepanjang jalan, mobil digeber abis.

Menempuhjalurberat nan panjang
Kali ini tujuan tugas kami adalah sebuah lokasi di wilayah Banten Selatan, tepatnya di Kabupaten Lebak. Agar aman, mobil diisi penuh dengan bahan bakar jenis Pertamax. Kami juga membawa satu kendaran jenis Ford Ranger dengan mesin Diesel. Untuk kendaraan bermesin diesel dengan standar Euro 2 yang kami bawa, bahan bakar yang biasa kami isi adalah Pertamina Dex.

Dua kendaraan operasional ini berjalan beriringan dengan satu tujuan menuju lokasi. Saya dan tim sadar sekali untuk memaksimalkankendaraan pada performa paling optimal. Pilihan menggunakan bahan bakar jenis Pertamax, karena nilai RON yang dimiliki Pertamax mencapai angka 92, biasanya orang hanya menyebutan oktan saja. RON merupakan kepanjangan dari research octane number.

Untuk menentukan nilai RON dilakukan melalui mesin uji dengan rasio kompresi variabel dengan sebuah kondisi yang teratur. Bila ditilik angka atau nilai RON merupakan perbandingan campuran antara iso-oktanadan n-heptana. Nah jadi jelasnya seperti ini bila nilai RON 90 berarti 90 persen kandungan iso-oktana dan 10 persennya n-heptana.

Semakin tinggi nilai RON maka akan semakin baik untuk performa mesin. Bahan bakar seperti Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Bio Solar, Dexlite, Pertamax Dex memiliki kandungan yang berbeda.

Untuk Pertalite, Pertamax , Pertamax Turbo diukur menggunakan RON. Sedangkan Dexlite, Pertamax Dex dan Dexlite dihitung menggunakan standar cetane. Di dalam kandungan bahan bakar kendaraan berbasis diesel, ada kandungan sulfur. Semakin tinggi kandungan sulfur maka punya pengaruh terhadap kebersihan injector dan tenaga mesin.

Itulah mengapa, bahan bakar mobil operasional berbasis mesin diesel selalu diisi dengan jenis Perrtamina Dex yang memiliki kandungan sulfur paling rendah hanya 300 ppm, tetapi memiliki angka cetane mencapai angka tertinggi 53.

Penggunaan bahan bakar berkualitas mempunyai pengaruh yang nyata di mesin kendaraan, performa kendaraan benar benar terasa. Bagi orang lapangan seperti saya dan tim. Perbedaan bahan bakar yang diisi di kendaraan benar benar terasa. Karena saya dan tim pernah kehabisan bahan bakar dan yang tersedia hanya jenis Premium. Dari pada mogok, kami pun terpaksa menggunakan Premium. Hasilnya kendaraan tidak maksimal digeber seperti menggunakan Pertamax. Ya, ketika itu hitungannya jangan sampai kami terlantar bersama kendaraan di tengah perkebunan yang jauh dari jalan utama.

Toyota Innova keluaran tahun 2015 ini memiliki rasio kompresi diangka 9,8 : 1 dengan nilai RON yang disarankan 91. Maka, bahan bakar yang cocok tentu yang memiliki RON minimal 91 atau yang diatasnya. Maka, pilihan bahan bakar jenis Pertamax cocok digunakan di mobil operasional kami. Selain itu kelebihan pertamax selain nilai RONnya yang tinggi, Pertamax merupakan jenis bahan bakar yang mengandung zat additif Ecosave Technology yang berstandar internasional World Wide Fuel Charter (WWFC).

Zat aditif yang terkandung di pertamax bersifat detergensy. Sifat detergensy ini membuat komponen jeroan mesin seperti injektor dan ruang bakar akan terjaga kebersihannya. Selain itu bersifat corrotioninhibitor, berfungsi sebagai pelindung anti karat. Dan sifat demulsifier yang fungsinya menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air sehingga proses pembakaran menjadi sempurna.

Nilai RON yang tinggi juga menjamin ketahanan bahan bakar terhadap tekanan kompresi. Maka keluhan gejala mesin 'ngelitik' atau 'knocking' akan hilang ketika menggunakan bahan bakar yang memiliki angka RON tinggi seperti Pertamax.

Selain itu, hasil pembakaran yang terjadi di ruang bakar menjadi sempurna , ujungnya bisa ditebak. Emisi buang menjadi rendah sehingga mengurangi polutan udara alias ramah lingkungan. Standar emisi buang kadang dihitung menggunakan ukuran Euro 1, Euro 2, Euro 3 hingga seterusnya. Saat ini di Eropa angka Euro sudah mencapai Euro 5.

Daya jelajah yang jauh biasa saya dan tim lakukan. Lokasi bencana atau lokasi program kemanusian seringkali berada di wilayah terpencil yang sarana jalannya rusak. Bisa dipastikan, wilayah terdampak bencana tidak memiliki infrastruktur yang normal. Untuk itu, mobil operasional harus dalam kondisi prima, performa maksimal. Jenis kendaraan yang biasa saya dan tim bawa rata rata mobil dengan ground cleareance yang tinggi dengan 4 penggerak roda (4WD).

Maka mobil seperti Toyota Hilux, Toyota Fortuner, Ford Ranger, Isuzu Touring hingga Mitsubisi Pajero menjadi mobil andalan untuk medan off road. Namun untuk membawa tim, mobil jenis Toyota Innova dan Avanza juga masih biasa kami gunakan.

Penggunaan Pertamax sejatinya juga menambah jarak tempuh yang bisa dicapai. Dibanding, bahan bakar jenis Premium, Pertamax dapat melahap jarak yang lebih jauh. Bahkan perbedaannya bisa mencapai 20 persen. Bila Premium mampu melahap jarak 10 Km maka menggunakan Pertamax akan melahap jarak hingga 12 Km per liter (hasil uji coba Pertamina).

Jadi bila dihitung dari sisi efisiensi dan nilai ekonomis. Harga Pertamax walau lebih mahal ketimbang jenis bahan bakar lainnya seperti Premium dan pertalite namun mendapat tiga hal yang menguntungkan.

Pertama, dengan angka RON 92 maka tidak timbul ledakan BBM di dalam ruang piston, atau biasa dikenal dengan knocking.

Kedua, memiliki bahan aditif yang bersifat membersihkan. Sehingga ruang bakar dan jeroan mesin menjadi lebih bersih.

Ketiga, jarak tempuh yang lebih sehingga mampu melahap jarak yang lebih jauh dengan begitu lebih ekonomis.

Jadi bila dihitung hitung, menggunakan bahan bakar Pertamax malah lebih untung karena memiliki beberapa keunggulan. Belum lagi performa mesin yang gahar ketika harus menaklukan medan yang cukup berat. Sebenarnya Pertamina punya produk Pertamax Racing yang punya RON 100. Produk ini dipakai para pembalap yang akan berlaga di sirkuit. Hebatnya, Pertamina Racing digunakan pembalap dari Lamborgini di kejuaraan balapan di Eropa.

Perjalanan saya dan tim masih beberapa puluh kilometer lagi. Di penunjuk bahan bakar di panel speedometer, baru sepertiga yang terpakai. Ini berarti, persedian bahan bakar cukup untuk perjalan pulang. Ford Ranger yang berada dibelakang kami terus membututi, Mobil berpostur besar itu juga memiliki performa mesin yang tangguh. Berkat pilihan bahan bakar, Pertamina Dex yang selalu dikonsumsi.

Saya dan tim sadar tugas menyelamatkan manusia dalam keadaan bencana membutuhkan kecepatan waktu, kehadiran yang tepat. Tentu memiliki kendaraan yang bisa diandalkan, performa optimal dan yang pasti efisien menjadi tuntutan yang tak bisa ditawar.

Perubahanmindsetpenggunabahanbakar
Secara pribadi, saya sudah sejak dua tahun tak lagi menggunakan bahan bakar bersubsidi Premium. Sepeda motor yang saya miliki memang dari generasi skutik. Yamaha Xeon keluaran tahun 2013. Sejak saya beli dan saya gunakan, saya selalu mengisi dengan bahan bakar jenis Pertamax atau minimal Pertalite. Selain sudah menggunakan teknologi injection , sepeda motor keluaran terbaru memiliki rasio kompresi 9 hingga 10 : 1. Sepeda motor keluaran terbaru memang memiliki kebutuhan RON antara 90 hingga 95.

Ada pemandangan unik yang saya lihat ketika mengantre di SPBU di dekat perumahan saya, terlihat perbedaan panjang antrean. Untuk antrean Premium terlihat semakin menyusut saja. Saya bisa merasakan, perubahan mindset para pengendara sepeda motor yang beralih menggunakan bahan bakar nonsubsidi.

Selain memiliki keunggulan karena zat adiktif dan angka RON yang tinggi, Pertamax merupakan bahan bakar yang memiliki emisi gas buang yang rendah. Bisa dibayangkan bila seluruh kendaraan yang ada mampu menurunkan emisi gas buang. Maka kehidupan akan lebih baik.

Saat ini angka penjualan Pertamax naik hingga 53 persen dari penjualan tahun 2016. Angka ini diyakini akan terus tumbuh. Apalagi hampir seluruh kendaraan yang dikeluarkan beberapa tahun terakhir ini sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih. Rata rata sudah mengadopsi teknologi injection, dengan rasio kompresi yang tinggi.

Sumber : Okezone.com
Sumber : Okezone.com

Perpindahan penggunaan bahan bakar juga dikarenakan keinginan sebagian besar anak muda yang ingin memiliki kendaraan yang responsif, enteng tarikannya. Pertamax memang memiliki kehandalan dalam hal akselerasi.

Jadi seperi gaya hidup, Pertamax hadir ketika bertemunya keinginan dan kebutuhan berkendara dengan performa tinggi namun tetap bisa efisien. Dengan uang yang lebih mahal namun mendapatkan keunggulan yang membuat biaya perawatan kendaraan dan spare part jauh lebih awet.

Pada kuartal pertama tahun 2017, Pertamina mencatat Pertamax terjual hingga 14.607 kiloliter/hari. Angka ini naik hingga 4 persen. Dari total SPBU yang berjumlah 6.454 , SPBU yang menjual SPBU Pertamax sebanyak 4.455 (sumber data: www.pertamina.com).

Pada kuartal satu 2017, market share untuk Pertamax sudah di angka 17,5 %, Pertalite di angka 44,4%, sisanya 39% masih menggunakan Premium. Ini artinya lebih dari separuh masyarakat Indonesia sudah beralih menggunakan bahan bakar nonsubsidi.

Dengan terus berkurangnya penggunaan bahan bakar bersubsidi, maka uang negara bisa dihemat dan dialihkan kepada program lain seperti kesehatan dan pendidikan. Atau bisa digunakan untuk subsidi silang untuk BBM nelayan atau BBM di pulau terluar.

Maka, sudah selayaknya kita beralih dari BBM bersubsidi ke BBM nonsubsidi untuk Indonesia yang lebih baik.

Yuk gunakan BBM berkualitas nonsubsidi.