Rusdi Mustapa
Rusdi Mustapa pegawai negeri

Guru sejarah di MAN 1 Surakarta yang menyukai dunia literasi. Aktif sebagai blogger sejak tahun 2003 dengan membuat blog www.history1978.wordpress.com. Menulis adalah sebuah pengembaraan seru yang akan menemukan hal-hal baru. "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang akan terjadi", itulah keyakinannya untuk selalu menulis.

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Ratusan Guru Jateng-DIY Ikuti Pelatihan Menulis Artikel

21 Mei 2018   08:28 Diperbarui: 21 Mei 2018   09:30 276 1 0
Ratusan Guru Jateng-DIY Ikuti Pelatihan Menulis Artikel
Peserta Pelatihan Foto Bersama ( Dokpri)

Guru identik dengan dunia tulis menulis. Sebagai kaum intelektual guru dituntut untuk bisa membuat karya tulis ilmiah dan mempublikasikannya. Hal ini bertujuan untuk pengembangan profesi guru. Seperti kita ketahui menulis merupakan  aktivitas seluruh otak. Yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan otak kiri (logika). Peran otak kanan adalah tempat munculnya gagasan baru, gairah dan emosi. Sedangkan otak kiri tempat munculnya perencanaan, outline, tata bahasa, tanda baca dan penyuntingan.

Guru harus bisa menulis, bahkan wajib. Pemerintah sudah jauh-jauh hari mengimbau agar guru rajin menulis. Karena dengan menulis guru akan banyak membaca.

Guru yang baik adalah guru yang banyak membaca guna menyiapkan materi untuk anak didik. Setelah membaca, ia harus merumuskan atau memilah-milah poin yang ingin disampaikan. Tak bisa serta-merta mengajarkan semua dari buku. Bisa jadi tidak sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Untuk meningkatkan kualitas guru, pemerintah pun membuat kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Negara pendayagunaan  Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya yang berlaku efektif sejak awal tahun 2013.

Melalui aturan ini, guru-guru dituntut untuk membuat karya tulis ilmiah diantaranya dalam bentuk presentasi diforum ilmiah, hasil penelitian, tinjauan ilmiah, tulisan ilmiah popular, artikel ilmiah, buku pelajaran, modul / diktat, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, dan buku pedoman guru .

Bagi guru yang memiliki karya tulis ilmiah atau sering dimuat tulisannya di media, tentu memiliki angka kredit yang lebih tinggi dibandingkan guru yang tidak memiliki karya tulis ilmiah.  

Berangkat dari latar belakang inilah, portal SangPengajar.Com bersama Kelas Literasi Guru Jateng dan Jateng Pos menggelar "Pelatihan Menulis di Media Massa" yang  digelar di Hotel Red Chilies Solo, Ahad (20/5). Acara diikuti oleh hampir 190 guru di wilayah Jawa Tengah - DIY  menghadirkan narasumber Tukijo, S.Pd, guru dan master trainer asal Semarang.

Pelatihan digelar bagi guru untuk memfasilitasi dan menjadi solusi kebutuhan menulis di media massa.  Antusias yang luar biasa dari para guru menjadi motivasi penyelenggara. Seperti yang disampaikan pengelola SangPengajar.Com, Agus Dwianto, bahwa pelatihan memberi kesempatan bagi para guru untuk terus menulis sebagai langkah nyata dukungan terhadap gerakan literasi nasional. Kegiatan ini merupakan pelatihan angkatan kedua yang digelar SangPengajar.com. Sebelumnya, kegiatan yang sama digelar di Wonogiri 15 April 2018 lalu. Panitia menargetkan setiap peserta dapat mempublikasikan tulisannya di media massa yang dapat dinilaikan dengan angka kredit 1,5.

Tukijo menyampaikan materi di depan peserta (Dokpri)
Tukijo menyampaikan materi di depan peserta (Dokpri)
Tukijo, S.Pd memaparkan, budaya menulis di kalangan guru merupakan keniscayaan karena berhubungan dengan kegiatan Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan (PKB). PKB merupakan Pengembangan profesi guru yang dilaksanakan dengan kebutuhan bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya berdasarkan PermenegPAN dan RB NO. 16 Tahun 2009.

Salah satu unsur PKB adalah Pengembangan Ilmiah (PI). Menulis artikel ilmiah di media massa salah satu contohnya. Jika ingin diajukan dalam Penilaian Angka Kredit (PAK), ada syarat yang harus dipenuhi, diantaranya bukti guntingan artikel di koran, di sahkan kepala sekolah, harus jelas nama koran dan tanggal terbitnya. 

Melalui menulis, guru mudah berbagi ide dan pemikiran. Keterampilan menulis merupakan salah satu ciri kalangan terpelajar. Kaum terpelajar memanfaatkan keterampilan menulis untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, memberitahukan, dan memengaruhi publik

Sejak internet  hadir, banyak orang yang mengambil manfaat positifnya. Diantaranya yaitu dengan budaya menulis di blog. Blog juga bisa dimanfaatkan oleh para guru untuk mengasah kemampuan tulis-menulis.  Guru bisa menuliskan mata pelajaran yang bisa dibuka kapanpun oleh anak didik, ataupun bisa menulis pekerjaan rumah untuk siswa, artikel, dan lain-lain.

Alasan klasik yang biasa terlontar dari para guru adalah ketiadaan waktu. Sebenarnya kalau masalah waktu adalah masalah menyempatkan diri. Menulis tidak harus sekali jadi, menyempatkan satu jam dalam sehari untuk menulis, itu sudah awal yang baik. 

Seperti di Jateng Pos ada Opini Guru. Media ini bisa dimanfaatkan oleh para guru untuk lebih peka terhadap permasalahan yang terjadi didunia pendidikan dan menuliskannya. Atau menulis untuk citizen journalism.

Sesuai arti citizen jurnalism yang dibahasa-Indonesiakan berarti jurnalisme warga. Warga, artinya seluruh lapisan masyarakat, siapa pun orangnya. Bisa insinyur, penjual sayur, penjual bubur, penghibur, selama ia bisa menulis, mengapa tidak? Mulai dari pengusaha hingga asisten rumah tangga, dengan catatan, tentu saja tulisannya harus memenuhi kriteria. Ruang bagi citizen journalism sangat banyak. Diantarnya rubrik guru, rubrik mahasiswa, rubrik perempuan berbicara, opini dan lain-lain.