Mohon tunggu...
RuRy
RuRy Mohon Tunggu... Wiraswasta - Lahir di Demak Jawa Tengah

Orang biasa dari desa

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pentingnya Mengajarkan Anak "Rasa Empati" Sejak Dini

29 September 2020   20:07 Diperbarui: 29 September 2020   20:55 255
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kita hidup di dunia modern dengan watak narsistik yang terkadang tidak peduli terhadap sesama. Tak jarang kita mengabaikan sisi kepantasan juga kepatutan karena menganggap apa yang kita lakukan adalah hal yang biasa dan tidak merugikan orang lain.

Sebagai orang tua pasti menginginkan sang buah hati bertumbuh sehat dan cerdas. Nilai pelajaran yang baik, dan mampu berkompetisi dengan teman sebayanya. Namun, apakah cukup kepintaran saja yang harus dimiliki dan diajarkan anak sejak dini? Tentu tidak!

Sisi lain yang tak kalah urgen ditanamkan seorang anak sedari kecil adalah bagaimana mengajarkan buah hati rasa empati mulai dini. Empati adalah kemampuan untuk mengolah rasa yang harusnya dimiliki semua orang, sekalipun itu anak-anak.

Rasa empati membuat anak dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut.

Dari rasa empati pula anak nanti akan belajar apa yang disebut baik dan pantas. Dua kata yang mempunyai makna yang berbeda. Tidak cukup pintar dari segi mata pelajaran saja, tetapi kepribadianlah yang nanti menjadi parameter kualitas seorang anak itu sendiri.

Ada istilah Jawa wejangan roso yaitu memberikan pelajaran tentang rasa atau toleransi pada sesama. Bagaimana cara menempatkan diri agar mempunyai kepribadian yang fleksibel dan menyenangkan, paham akan dirinya, dan bagaimana menempatkan diri dengan semestinya.


Peran krusial orang tua

Tidak menutup kemungkinan tanpa adanya pengenalan belajar bagaimana menempatkan diri pada posisi orang lain seorang anak akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cuek, tidak peduli keadaan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Ini tentu sangat tidak baik untuk kehidupannya di kemudian hari.

Terlebih di zaman dan teknologi yang terus berkembang pesat, arus informasi datang silih berganti tak terbatas. Gawai pintar mampu menuntaskan tugas penting, membuat melakukan berbagai hal menjadi lebih mudah. Pelan tapi pasti ketergantungan pada lima indra menurun sampai ke tingkat sesorang lupa bagaimana menggunakannya.

Banyak contoh nyata dalam realitas kehidupan, begitu bertaburan orang dengan tingkat intelektual tinggi namun miskin 'rasa', melakukan hal dengan sekehendak hati tanpa memperhitungkan keadaan, kepatutan, juga kepantasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun