Rullysyah
Rullysyah Wiraswasta

Belajar dan Berbagi

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Prediksi Pilpres 2019 untuk Jawa-Sumatera, Jokowi 48,87% dan Prabowo 51,13%

10 Maret 2019   09:26 Diperbarui: 15 Maret 2019   20:28 18372 17 11
Prediksi Pilpres 2019 untuk Jawa-Sumatera, Jokowi 48,87% dan Prabowo 51,13%
Dok. Pribadi

Sejatinya cara yang paling ilmiah untuk dapat dipakai sebagai dasar untuk memprediksi suatu Hasil Pemilu adalah Survey Elektabilitas dari Lembaga Survey yang Kredible. 

Minimal Hasil Survey dari 5 Lembaga Kredible yang ada kita rata-ratakan angkanya kemudian kita hitung Angka Proporsionalnya dengan menghilangkan angka Undecided Votes, maka ketemulah angka Prediksi kasar yang secara teori tidak akan berbeda jauh dari hasil KPU.  

Prinsip ini sangat saya yakini sejak tahun 2012 setelah sebelumnya sudah melakukan beberapa penelitian pribadi alias utak-atik angka-angka Hasil Survey lembaga survey yang ada.

Pada tahun 2012 tepatnya pada Pilgub DKI 2012, saat itu saya sempat memprediksi Pilgub DKI 2012 Putaran Kedua. Kebetulan sekali hasilnya hanya meleset 0,46 %. Prediksi saya tanggal 20 September saat dini hari  adalah Jokowi-Ahok 54,28% dan Fauzi Bowo -Nara 45,72%.  Sementara Hasil KPUD adalah: Jokowi-Ahok 53,82% dan Fauzi Bowo - Nara 46,18%.

Pastilah itu hanya kebetulan belaka tetapi sebenarnya perhitungan yang saya gunakan waktu itu secara teori tidak jauh dengan metoda sampling  yang digunakan sebuah lembaga  survey.

Bedanya saya tidak melakukan survey tetapi melakukan perhitungan proporsional terhadap Hasil Putaran Pertama Pilgub DKI 2012. Sudah pasti respondennya sangat memenuhi syarat. Karena bukan ribuan responden lagi tetapi Jutaan responden sesuai dengan data mereka yang sudah mencoblos di putaran pertama.

Data Hasil Putaran Pertama itu akhrnya saya hitung kembali dengan memperhatikan Hasil Survey Lembaga Survey yang memperhitungkan Trend Suara yang berpindah dari Suara Hidayat Nur Wahid, Alex Noerdin dan Faisal Basri cenderung ke Jokowi atau Fauzi Bowo. Akhirnya ketemulah angka diatas yang hanya meleset dibawah 1%.

Artikel yang saya buat tahun 2012 ada di bawah (saya sertakan link nya). Tetapi sekali lagi tidak ada maksud saya untuk pamer kemampuan atau bagaimana.

Penjelasan-penjelasan di atas sebenarnya hanyalah dimaksud untuk  menggambarkan betapa (tadinya) saya sangat percaya hasil survey elektabilitas lembaga survey  dan saya sangat bergantung dari hasil survey lembaga survey untuk  memprediksi hasil  dari sebuah Pemilu.

dokpri
dokpri
SULIT BAGI SAYA MEMPERCAYAI HASIL SURVEY PILPRES 2019

Perjalanannya kemudian dalam 2 tahun terakhir saya kecewa dengan hasil-hasil survey dari Lembaga Survey yang ada. Sudah 2 buah artikel yang saya buat dalam 3 minggu terakhir yang menjelaskan kekecewaan saya terhadap lembaga-lembaga survey yang ada.

Hasil Survey Pilkada 2017 dan beberapa Pilkada 2018 angkanya saya catat meleset sekitar 20% (sudah saya bahas dalam artikel-artikel saya).

Dan ketika saya melihat hasil-hasil survey lembaga-lembaga survey yang ada untuk Pilpres 2019 saya terkejut karena sama sekali tidak cocok dengan Analisa-analisa kesimpulan yang sudah saya buat sejak beberapa tahun lalu. 

Saya punya beberapa teori pribadi untuk mengukur hasil survey sebuah lembaga maupun memprediksi hasil sebuah pemilu. Salah satu contoh adalah untuk Pilkada DKI dan Pilpres dimana bila ada kontestannya lebih dari 2 dan membutuhkan hasil pemenang 50%+1, maka Putaran kedua saya yakin saya bisa memprediksi siapa pemenangnya.

Teori lainnya adalah untuk sebuah Kontestasi dengan kasta tertinggi seperti Pilpres di Indonesia dan di negara lain, bila hanya ada 2 kontestan maka pemilih yang ada akan mengkristal menjadi 2 kubu. Dampaknya kemudian Elektabiltas kedua Kontestan akan berada di selisih tipis. Rentang selisih maksimal seharusnya paling tinggi 10%.

Contohnya kurang lebih sebagai berikut:

  1. Survey Elektabilitas Pilpres 2014: LSI-Indobarometer-Poltracking merilis angka Elektabilitas: Jokowi di kisaran 45-48% sementara Prabowo di kisaran 38-42%, Undecided Voters sekitar 10-15%.
  2. Survey Pilpres Amerika: Hillary Clinton 48% - Donald Trump 43%. (Selisih di kisaran 5%).
  3. Survey Pemilu Malaysia: Mahatir 47,3% - Najib 40,3%. Sarawak-Sabah dianggap Najib pasti menang.

Dari 3 survey diatas tidak ada yang memperlihatkan selisih antara kontestan mencapai 10%. Akan tetapi survey-survey lembaga survey kita untuk Pilpres 2019 berkali-kali hingga sampai minggu ini selisih Elektabilitas Jokowi-Prabowo ada diangka lebih dari 20%. 

Ini sangat aneh menurut saya. Jauh dari kesimpulan saya selama ini tentang peta kekuatan 2 kontestan dalam pemilu. Dan satu hal lagi hasil survey-survey lembaga yang ada malah berbanding terbalik dengan hasil Polling-polling yang ada.

Dengan kondisi demikian saya ingin mencoba cara lain untuk memprediksi Hasil Pilpres 2019. Cara yang saya pakai adalah Menggunakan Peta Kekuatan Pilpres 2014 dan  dikomparasikan dengan Peta Kekuatan Pemenang Pilkada khususnya di wilayah Sumatra dan Jawa. 

Kita semua tahu bahwa Peta Suara Pilpres hampir 60% ada di Pulau Jawad an hampir 20% ada di Sumatra. Jadi memang itulah prioritas saya untuk menghitung. Sementara untuk Wilayah lainnya selain data Pilkada untuk Kalimantan, Sulawesi, Bali-NTB-NTT , Maluku dan Papua sulit dipantau. Berkali-kali saya browsing tidak mendapatkannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2