Bola Pilihan

Bambang Seharusnya Dijatuhi Sanksi Lebih Berat

7 Desember 2018   10:28 Diperbarui: 7 Desember 2018   11:13 508 2 2
Bambang Seharusnya Dijatuhi Sanksi Lebih Berat
jabr.tribunnews.com

Sikap ksatria Hidayat yang mengakui kesalahannya patut mendapat respek. PSSI telah menjatuhkan sanksi kepada salah seorang anggota Komite Eksekutif itu berupa larangan melakukan aktivitas sepakbola di Indonesia selama dua tahun ditambah denda Rp 150 juta.

Hidayat terbukti terlibat dalam upaya match fixing.

PS Ngada, salah satu peserta Liga 3, berniat mengungkap satu lagi kasus pengaturan skor yang dilakukan oleh Bambang Surjo. Bambang Surjo adalah manajer dari Persekam Metro FC. 

Bernard Ferdinand Burah, selaku manajer PS Ngada berharap Bambang Surjo dijatuhkan juga sanksi dari PSSI yang dituduh bermaksud mengatur jalannya laga babak 32 besar Liga 3 Grup G minggu lalu di Kediri, Kediri merupakan tuan rumah penyelenggaraan Liga 3.

Menurut Bernard, seharusnya PSSI menjatuhkan sanksi lebih berat kepada Bambang Surjo ketimbang sanksi yang telah diberikan kepada Hidayat. Entah dalam bentuk apa sanksi itu, Bernard menyerahkan hal itu kepada PSSI.

Bernard beralasan mengapa harus lebih berat sanksinya, karena menurutnya Bambang Surjo sudah lama berkecimpung dalam upaya pengaturan skor atau match fixing di kompetisi negeri ini.

Bernard juga mengatakan memiliki bukti rekaman, dan berharap ada tindak adil kepada Bambang Surjo dari PSSI seperti yang diberikan kepada Hidayat.

Yang menjadi pemberat bagi Bambang Surjo, menurut Bernard, Bambang Surjo menyebutkan salah seorang pejabat PSSI yang akan diberi uang hasil kongkalikong antara PS Ngada dan Metro FC. Bambang Surjo menyebutkan nama pejabat PSSI itu ada di rekaman pembicaraan.

Bambang Surjo diklaim telah mengajak pelatih PS Ngada NTT, Kletus Marselinus Gabhe untuk patungan mengumpulkan dana Rp 200 juta untuk diberikan kepada dua petinggi PSSI, yaitu Andi Darussalam, dan Joko Driyono (Waketum PSSI).

Tanggal 21 Nopember 2018, BS menelepon Marselinus Gabhe mengajak Gabhe untuk mengatur skor, supaya klub BS yaitu Persekam Metro FC dan klub Gabhe PS Ngada bisa lolos ke babak 16 besar Liga 3.

Gabhe menanyakan, bagaimana caranya?

BS lantas menerangkan caranya, agar PS Ngada menyediakan uang Rp 100 juta. Nanti uang yang Rp 100 juta lagi akan disiapkan Persekam Metro FC guna diberikan kepada beberapa petinggi PSSI yang dapat menolong.

Gabhe juga mengungkapkan, BS mengatakan bahwa Persik Kediri tidak punya uang untuk itu, Persik cuma mengandalkan permainan saja.

Kehadiran Bambang Surjo dalam acara "Mata Najwa" yang merupakan mantan runner match fixing, mengatakan kalau dirinya turut membongkar kalau ada orang-orang yang berniat jahat melakukan pengaturan skor di dunia persepakbolaan Indonesia.

Adapun PS Ngada NTT tetap akan mengungkapkan kasus ajakan match fixing  oleh Bambang Surjo selaku manajer Persekam Metro FC. 

PS Ngada mempunyai bukti percakapan telepon dan akan menyerahkannya kepada PSSI, setelah Liga 3 selesai.

Adapun mengenai PS Ngada NTT sendiri, mereka lolos ke babak 16 besar Liga 3 dan akan berhadapan dengan Celebest FC pada Minggu (9/12/2018) di Stadion Brantas, Kota Baru.

PS Ngada memang serius mau mengungkap kasus match fixing ini sampai tuntas dan barang buktinya akan diserahkan kepada PSSI.

Untuk membersihkan persepakbolaan kita, memang kasus match fixing harus diberantas.

Marselinus Gabhe merupakan saksi kunci.