Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... dibuang sayang

Kutuliskan lagu ini Kupersembahkan padamu Walau pun tiada indah, syair lagu yang kugubah Kuingatkan kepadamu, akan janjimu padaku

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Jangan Malas Mengajak Anak Anda ke Dapur

21 Juni 2018   10:55 Diperbarui: 21 Juni 2018   10:55 842 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Malas Mengajak Anak Anda ke Dapur
www.republika.co.id

Puasa Ramadhan sudah dijalani umat muslim satu bulan penuh, THR diperoleh, saat kemenangan tiba, saling silaturahmi antar keluarga, kerabat dan handai taulan.

THR Anda digunakan untuk apa saja? Beli baju, makanan, ongkos, atau wisata. Masih ada sisa? Buat saya pengeluaran selama Lebaran persentase terbanyak adalah untuk berwisata, ongkos perjalanan, makanan dan pakaian baru.

Namun ingat, sesudah "lebar" janganlah Anda membalas dendam dengan melahap semua makanan-makanan yang lezat dan nikmat, yang tidak ada nutrisinya, karena itu bisa berakibat kesehatan Anda menjadi terganggu, seperti mencret, berat badan melonjak, dan sebagainya.

Oke, berhubungan dengan makanan dan dapur, jika Anda pintar memasak, pernahkah Anda mengajarkan anak Anda belajar memasak?

Jangan malas mengajak anak ke dapur, karena kepercayaan diri dalam memasak akan memberinya banyak manfaat, ungkap studi terbaru dalam Journal of Nutrition Education and Behavior.

Studi jangka panjang yang bertajuk "Project Eating and Activity in Teens and Young Adults" ini menemukan bahwa mengembangkan keahlian masak saat belia membuat anak lebih sehat saat ia dewasa, mengonsumsi menu yang lebih bernutrisi dan lebih sedikit fast food.

Studi ini dimulai pada 2002-2003, saat partisipan berusia 18-23 tahun. Mereka diminta menilai kemampuan memasak mereka. Lantas, pada 2015-2016, ketika partisipan berusia 30-35 tahun, tim peneliti menganalisis profil nutrisi mereka.

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu mereka jawab antara lain, seberapa sering mereka menyiapkan makanan yang mencakup sayur-sayuran, makan bersama keluarga, dan makan atau memesan dari restoran fast food.

Hasilnya? Partisipan yang menilai diri mereka pandai memasak umumnya memiliki beberapa indikator nutrisi positif saat dewasa, termasuk peluang lebih besar untuk menyiapkan hidangan dari sayur cukup sering dan konsumsi fast food lebih jarang.

Ketika partisipan yang menganggap diri mereka jago masak lantas berkeluarga saat dewasa, maka mereka cenderung lebih sering makan bersama keluarga, lebih jarang memesan fast food, dan memiliki lebih sedikit halangan dalam persiapan memasak.

Sayangnya, saat ini kebiasaan masak di rumah kian merosot, dan semakin jarang diajarkan di sekolah. Karena itulah, Jennifer Utter, PhD, MPH, kepala peneliti dari University of Auckland, New Zealand, mengingatkan agar keluarga, profesional kesehatan dan nutrisi, dan pendidik untuk terus berinvestasi dalam pendidikan memasak.

Ingatlah, keahlian memasak akan membekali anak dengan manfaat jangka panjang saat ia dewasa dan hidup mandiri.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x