Sosbud Pilihan

Tradisi Unik Lebaran di Indonesia dan Jawa Barat

14 Juni 2018   05:59 Diperbarui: 14 Juni 2018   06:57 802 0 0
Tradisi Unik Lebaran di Indonesia dan Jawa Barat
ideramadhan.com

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata Lebaran? Yang pasti jawabannya kurang lebih sama dari dulu hingga sekarang, yang tersirat dan paling sering kita dengar antara lain seperti mudik, takbiran, sholat ied, silaturahmi, ketupat, opor ayam, dan ziarah adalah tradisi yang kerap mewarnai saat menjelang Lebaran. Indonesia mempunyai berbagai adat istiadat, suku, serta budaya yang amat beragam di tiap daerah masing-masing. Tradisi-tradisi unik sering ditemukan di pelbagai daerah yang tersebar di Indonesia.

Mungkin Lebaran kali ini Anda juga sempat berkunjung untuk melihat salah satu dari beberapa tradisi unik Lebaran tersebut.

Seperti di Pontianak, menyambut Lebaran yang ceria, warga di sana mengadakan suatu festival yang menarik, yang dinamakan Festival Meriam Karbit. Upp, ini bukan perang!

Di Aceh, tradisi Meugang, memasak daging yang sebagian hasil masakannya dibagikan kepada kaum dhuafa.

Di Bali, Tradisi Ngejot, memberikan makanan kepada tetangga sebagai rasa terima kasih.

Ada juga tradisi Lebaran di Bengkulu, Lombok, Gorontalo,  Maluku Tengah, Riau, Sulawesi Tengah.

Tradisi Grebeg Syawal di Yogya

Tradisi Grebeg Syawal ini cukup terkenal di kalangan masyarakat luar Yogyakarta. Tradisi ini merupakan tradisi keraton dalam memperingati Lebaran. Grebeg Syawal diawali dengan keluarnya Gunungan Lanang (Kakung) dan dibawa ke masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.

Gunung Lanang ini terbuat dari sayuran dan hasil bumi lainnya serta dikawal oleh prajurit keraton. Nantinya masyarakat akan berebutan mengambil hasil bumi yang terdapat di Gunung Lanang. Konon katanya tradisi ini dipercaya oleh masyarakat bisa membawa keberkahan dan ketenteraman.

Sedang di Jawa Barat, tradisi dan kebiasaan yang berkaitan dengan Lebaran ini dikenal dengan berbagai kegiatan antara lain: ngadulag, nganteruran, sungkeman, nyekar.

Ngadulag

Dulag berkaitan dengan kata beduk, dalam lidah sunda 'bedug'. Dulag adalah suara bedug yang dipukul diiringi suara kentongan dengan irama tertentu. Sementara ngadulag adalah kata kerjanya.

Pada malam hari raya, ngadulag dilakukan selepas isya sampai subuh. Suara itu mengiringi takbiran. Orang-orang, anak-anak maupun dewasa, kecuali perempuan, berkumpul di mesjid. Orang tua biasanya takbiran. Sementara anak muda ngadulag. Kadang diiringi mercon atau petasan. Masjid menjadi pusat keramaian.

Nganteuran

Nganteuran adalah tradisi dimana beberapa mengunjungi atau bersilaturahmi sembari membawa makanan masakan rumah di rantang. Biasanya dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Bisa juga antar tetangga dekat. Tradisi saat menjelang Lebaran ini kadang disebut mawakeun, artinya sama. Hanya kata 'mawa' mungkin terdengar lebih kasar daripada 'nganteur'.

Sungkeman

Tradisi ini biasanya dilakukan tepat setelah melaksanakan sholat Idul Fitri. Biasanya dilakukan oleh sesama anggota keluarga dahulu, baru kepada tetangga dan teman-teman.

Nyekar

Waktu berkunjung ke makam ini terkadang menjadi ajang silaturahmi mereka-mereka yang saling kenal, mereka saling bersalaman. Tidak jarang mereka janjian untuk berkunjung ke rumah masing-masing.

Di makam, mereka berdoa dan membaca Surat Yasin. Ada pula yang meminta juru makam untuk membacakan doa memimpin keluarga untuk mendoakan yang telah wafat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2