Mohon tunggu...
Rudy W
Rudy W Mohon Tunggu... dibuang sayang

The old home town looks the same As I step down from the train And there to meet me is my Mama and Papa Down the road I look and there runs Mary Hair of gold lips like cherries

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Miris, Mereka Tidak Hafal Kelima Sila Pancasila

1 Juni 2018   07:00 Diperbarui: 1 Juni 2018   07:57 0 0 0 Mohon Tunggu...
Miris, Mereka Tidak Hafal Kelima Sila Pancasila
images-4-5b0f98c95e13734bcf787c22.jpg

Mengenang peringatan hari lahirnya Pancasila yakni 1 Juni ada baiknya kita mengingat kembali peranan Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Tidak berarti kita sedang mengkultuskan seseorang, tetapi ini penting agar anak cucu kita tidak "dibingungkan" dengan kontroversi yang pernah ada mengenai siapa penggali Pancasila, kapan hari lahirnya Pancasila.

Menurut sejarawan Dr. Anhar Gonggong, Soekarno adalah tokoh pertama yang menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara. Pada tanggal 1 Juni Bung Karno secara eksplisit dan menyebut kata Pancasila sebagai calon dasar negara.

Coba kita lihat dulu beberapa kalimat profetik dari buku biografi "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang disusun oleh wanita Amerika Serikat Cindy Adam. "... ketika itulah datang Ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku pencipta Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir yang indah...."

Bagaimana tanggapan Bung Karno, seandainya beliau hidup kembali, lalu mendapati kenyataan hari ini, bahwa sejak reformasi 1998, Pancasila kehilangan pesona di negerinya sendiri. Berbagai hasil survei tentang pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila, menunjukkan adanya kemerosotan tajam. 

Sebagai contoh survei Kompas beberapa tahun lalu membuktikan bahwa 48,4% responden berusia 17-29 tahun tak becus menyebutkan kelima sila Pancasila secara lengkap; 42,7% responden berusia 30-45 tahun salah menyebutkan kelima sila Pancasila. Temuan terbaru, yang dilansir Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) bulan April 2016 , bahwa di tiga SMA di DIY, 100 siswanya yang diminta menulis teks Pancasila secara benar dan urut, tidak satu pun yang hafal dengan benar. Astaghfirullah.

Guru kita mengajarkan bahwa Pancasila itu selain dasar negara, falsafah negara, hukum dari segala sumber hukum, adalah roh bagi bangsa Indonesia, kini dan esok. Kalau hafal saja tidak, bagaimana bisa menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Sungguh kebangetan bila ada artis, anggota DPR, pejabat pemerintah, bahkan penegak hukum, tak hafal Pancasila lengkap dengan lambangnya? Apakah Bung Karno setuju, bahwa dengan hilangnya roh Pancasila itu, dampaknya dapat kita lihat/rasakan saat ini, yakni merosotnya moralitas bangsa. Hal itu, ditandai dengan hilangnya rasa malu, praktik korupsi terjadi di mana-mana, mulai dari bawah sampai atas, maraknya konsumsi dan jual beli narkoba. Hingga praktik jual beli manusia dan pemerkosaan kepada anak-anak di bawah umur dan remaja putri.

Kita perlu semacam P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam versinya yang baru, agar roh Pancasila segera kembali ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Demi Tuhan, kita tidak rela jika kehormatan Pancasila diganti "Pancasial".

Sial pertama, keuangan Yang Maha Kuasa. Sial kedua, kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab. Sial keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh persekongkolan partai dan penguasa. Dan sial kelima, keadilan tidak untuk seluruh bangsa Indonesia.