Sejarah

Mengunjungi Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

23 Mei 2018   05:59 Diperbarui: 23 Mei 2018   06:46 549 0 0
Mengunjungi Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya
Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya (chenghoo.co)

Surabaya memiliki banyak hal menarik yang bisa dieksplorasi. Tidak hanya memiliki banyak tempat wisata, tempat makan enak, tempat nongkrong anak-anak muda yang menarik, dan juga cafe unik. Lebih dari itu Surabaya juga memiliki sejarah yang sangat berkesan. Salah satunya yang berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Islam. Ada satu hal yang unik di sana, di mana ada sebuah masjid yang dibangun oleh tokoh etnis Tionghoa yang berdiri hingga saat ini dan bisa dikunjungi sebagai rumah ibadah maupun sebagai wisata sejarah. Inilah wisata Masjid Cheng Ho.

Masjid Cheng Ho ini mulai dibangun pada 15 Oktober 2001 dan diresmikan penggunaannya pada 13 Oktober 2002. Masjid ini dibangun pengurus Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dulu Pembina Iman Tauhid Islam Imam Tauhid Islam, dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Jawa Timur.

Nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, laksamana asal Cina yang beragama Islam. Ia melakukan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara dengan mengemban beberapa misi, di antaranya berdagang, menjalin persahabatan, serta menyebarkan agama Islam.

Lokasi masjid Cheng Ho ini berada di jantung kota Surabaya, tepatnya di sebelah utara dari kantor walikota Surabaya, sehingga menjadikan 'masjid cina' ini mudah diakses oleh para pelancong atau jamaah muslim dari manapun. Keunikan gaya arsitektur masjid ini juga kerap menarik decak kagum siapa pun yang singgah di dalamnya. Jika beruntung, Anda dapat menyaksikan pemandangan menarik berupa beberapa jamaah muslim keturunan etnis Tionghoa dengan baju koko lengkap dengan mengenakan sarung dan peci atau wanita-wanita muslim dengan wajah cina yang berhijab.

Kompleks masjid dibangun di atas tanah seluas 3.070 m2. Perpaduan gaya Arab dan Tiongkok menjadi ciri khas masjid ini. Arsitektur masjid diilhami masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada 996 Masehi, dan tampak pada bagian atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, masjid ini memadukan gaya arsitektur Arab dan Jawa. Arsitek masjid Cheng Ho Surabaya ialah Abdul Aziz. 

Cheng Ho adalah seorang tokoh angkatan laut Tiongkok pada abad ke XV yang beragama Islam. Ia lahir di desa He Dai, Kunyang, provinsi Yunan pada 1371 M dari marga Ma, suku Hui yang mayoritas beragama Islam.

Cheng Ho beberapa kali datang ke Indonesia. Ia memimpin muhibah perdagangan ke Nusantara dengan armada laut yang besar. Dalam kurun waktu tahun 1405-1433 atau tujuh kali ekspedisi pelayaran yang pernah dilakukannya, Cheng Ho tercatat pernah singgah di beberapa kawasan Indonesia, seperti Aceh, Palembang, dan beberapa tempat di Pulau Jawa. Misi kedatangan Cheng Ho yang membawa kedamaian selalu disambut hangat. Bahkan para raja Nusantara dan penduduk pribumi sangat menghormati Cheng Ho.

Sebagai utusan Kaisar Yung Lo, Cheng Ho mengunjungi Raja Majapahit dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Sejarah inilah yang menjadi awal mula Masjid Cheng Ho, yaitu mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Ho.

Masjid Cheng Ho terletak di Jalan Gading No. 2, Ketabang, Genteng, kota Surabaya. Jaraknya berada sekitar 1.000 meter di sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya. Untuk menuju lokasi ini, Anda dapat mengakses melalui Jalan Taman Kusuma Bangsa lalu menuju arah Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Masjid ini terletak di area komplek gedung serba guna Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Surabaya, Jawa Timur.

Selama beberapa dekade belakangan ini, tempat-tempat yang pernah dijelajahi oleh Laksamana Cheng Ho masih dapat ditelusuri dan diakui secara universal, salah satunya yang paling terkenal adalah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang, Jawa Tengah. Untuk membuat monumental catatan dan fakta perjalanan sejarah sebagai bahariwan yang termasyur, utusan perdamaian terpuji dan juga seorang muslim yang taat dan saleh, maka umat muslim dan kaum etnis Tionghoa di Surabaya membangun Masjid Muhammad Cheng Ho ini. "Karena di mana ada laut, di situlah ada Cheng Ho", mengutip dari ucapan Hasan Basri, seorang muslim keturunan etnis Tionghoa yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Masjid Cheng Ho Surabaya.