Kesehatan

Konsekuensi Medis Akibat Khitan pada Perempuan

13 Maret 2018   09:50 Diperbarui: 13 Maret 2018   09:58 678 0 0
Konsekuensi Medis Akibat Khitan pada Perempuan
www.nationalgeographic.com.au

Praktik khitan atau penyunatan para gadis masih berlangsung di beberapa negara Arab seperti Mesir, Sudan, Yaman dan sebagian negara teluk, dan bahkan di Indonesia sekalipun. Arti penting yang diberikan oleh keperawanan dan selaput darah yang utuh pada masyarakat, ini merupakan sebuah alasan mengapa khitan perempuan masih dijalankan secara luas meski tumbuh kecenderungan saat ini untuk meninggalkannya karena dianggap ketinggalan dan membahayakan.

Di balik makna penyunatan terdapat kepercayaan bahwa dengan membuang bagian-bagian tertentu dari organ kelamin luar seorang gadis, hasrat seksual bisa dikurangi. Ini mengharuskan seorang wanita yang mencapai usia rawan pubertas dan keremajaan untuk menjaga keperawanannya dengan sangat hati-hati.

Khitan sering dilaksanakan pada anak-anak perempuan saat berusia tujuh tahun (sebelum memasuki masa menstruasi). Praktek khitan pada masa dahulu atau di pedesaan lebih mengandalkan tenaga dukun setempat sehingga banyak terjadi kasus komplikasi yang muncul akibat operasi primitif yang membahayakan jiwa seorang gadis.

Bagi beberapa dukun khitan yang bodoh percaya bahwa penyunatan yang efektif memerlukan potongan yang dalam dengan sebuah silet untuk menjamin pemotongan klitoris yang sempurna agar tidak ada bagian organ sensitif seksual yang tersisa. Dengan demikian pendarahan yang banyak menjadi peristiwa yang biasa bahkan terkadang mengakibatkan kematian. Para dukun khitan tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang penyucian kuman sehingga terjadi peradangan sebagai akibat operasi. Fenomena tersebut menjadi tekanan psikologis sepanjang hidup dari prosedur kejam ini yang konsekuensinya meninggalkan bekas dalam kepribadian si anak sehingga ia menginjak usia remaja dan dewasa.

Lalu bagaimana menurut dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC Dokter Anak, Konsultan Laktasi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan dengan tegas (dapat dilihat pada situs resmi WHO: www.who.int) bahwa sunat pada anak perempuan atau disebut juga female circumcision atau female genital mutilation TIDAK memiliki manfaat medis sama sekali. Sunat pada perempuan lebih dilatarbelakangi kepercayaan dan kebiasaan. 

Cara dan bagian apa yang dipotong pun amat bervariasi, tergantung pada kebiasaan masyarakat setempat. Sunat perempuan di Indonesia ternyata berbeda dari yang dilakukan di benua Afrika pada umumnya, dan sunat yang dilakukan di pulau Jawa dan luar Jawa ternyata juga berbeda. Ada yang sekadar "dicolek" atau pemotongan total klitoris. Tapi ada juga yang sampai perlukaan labia minora dari alat kelamin perempuan. Sunat perempuan memiliki konsekuensi medis yang bersifat segera timbul maupun konsekuensi jangka panjang.

Yang bersifat segera timbul antara lain: nyeri hebat, syok, perdarahan, tetanus, infeksi, retensi urin (sulit BAK), dan kerusakan jaringan alat kelamin. Sedangkan konsekuensi jangka panjang antara lain: infeksi saluran kemih berulang dan infertilitas (sulit punya anak) hingga kemungkinan diperlukannya bedah rekonstruksi untuk memperbaiki kondisi alat kelamin. Jadi, ayo kita sebarluaskan kepada siapa saja untuk TIDAK melakukan sunat pada perempuan!