Wanita Pilihan

Sulit untuk Memaafkan Pengkhianat?

8 September 2017   09:17 Diperbarui: 8 September 2017   10:53 634 1 0
Sulit untuk Memaafkan Pengkhianat?
Sumber: www.mihanfal.com/

Siapa yang tak tersakiti saat pasangan mengkhianati? Tentu, membuka lembaran baru setelah melewati konflik tersebut juga tidak mudah. Saat badai sudah berlalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kehangatan pernikahan?

Setelah perselisihan hebat yang dipicu perselingkuhan sang suami, Susi memilih untuk memaafkan dan menata kembali relasinya yang sempat bermasalah. Apalagi, sang suami telah mengakui kesalahan dan berjanji tak mengulanginya. Tentu, ia layak mendapat kesempatan kedua, kan?

Ester Lianawati, M.Psi., staf pengajar Fakultas Psikologi UKRIDA, menilai bahwa sebuah hubungan biasanya terjalin atas rasa saling percaya. Namun, rasa percaya yang merupakan fondasi hubungan itu kerap dikhianati.

"Ketika pengkhianatan itu terungkap, kita pun dihadapkan pada dua pilihan: membangun kembali kepercayaan itu dengan melanjutkan hubungan, atau memilih untuk mengakhiri hubungan," papar Ester.

Rasa cinta yang mungkin masih ada akan menjadi faktor pendorong utama bagi pasangan yang dikhianati untuk memilih melanjutkan hubungan. Selain itu, bagi sebagian orang, ada yang terpaksa melanjutkan hubungan karena berbagai aspek struktural. Misalnya, pertimbangan nama baik, status, kondisi finansial, dan anak-anak.

"Adapun faktor yang mendasari dan keputusan apapun yang dipilih, ada satu hal yang harus dilakukan saat kita dikhianati, yaitu kita harus belajar memaafkan untuk dapat melanjutkan kehidupan pasca-pengkhianatan dengan lebih baik," tegas Ester.


Hal senada ditandaskan oleh Ahastari Nataliza, BA, M.Psi., Psikolog, dari Pion Clinic.

Menurut psikolog yang akrab disapa Liza ini, apapun pemicu pertengkaran, bentuk permasalahan yang terjadi dalam sebuah hubungan, maupun konflik yang terjadi, selalu ada alasan untuk kembali seperti sedia kala. Beragam alasan tersebut tergantung pada beberapa pertimbangan, antara lain adalah komunikasi.

"Pada dasarnya pernikahan adalah antara dua belah pihak. Karena itu, tiliklah diri sendiri maupun diri pasangan. Apakah pasangan benar-benar serius? Apakah kesepakatan yang dibuat bisa dipenuhi?" saran Liza.

"Kemudian, cek kesiapan diri. Apakah sebagai individu kita sudah menerima peristiwa yang menyakitkan itu dan bisa memaafkan? Kalau belum, akan sulit untuk menjalankan kesempatan kedua. Ujung-ujungnya, kita bisa membawa-bawa masa lalu ke hubungan yang baru," tandas Liza.


Sesungguhnya, kesempatan kedua bisa menjadi hal positif jika benar-benar diupayakan.

"Dengan adanya kesepakatan baru yang dibuat bersama, biasanya akan mendorong terjadi perubahan hal-hal positif seperti perubahan sudut pandang dan perubahan perilaku, baik bagi diri sendiri ataupun pasangan," ujar Liza.

Kesempatan kedua ini juga menjadi ajang untuk bisa lebih memahami pasangan, serta lebih menerima pasangan apa adanya dan sekaligus ajang untuk saling memaafkan.

Memang, memaafkan sebuah pengkhianatan tentu bukan hal yang mudah. Namun, menurut Ester, seberapa pun menyakitkan perbuatan pasangan, kita tetap perlu memaafkan pasangan yang telah berkhianat.

"Tentu, kita tidak dapat membenarkan perbuatannya, tetapi kita dapat menerima kesalahannya. Selain itu, kita perlu menghargai pasangan yang mau meminta maaf, karena meminta maaf bukanlah suatu hal yang mudah," saran Ester.

Apalagi, ketika memaafkan, kita sebagai si pemberi maaf juga akan "tersembuhkan". Memaafkan dapat memberi kelegaan, karena kita tidak lagi berfokus pada hal-hal negatif yang membutuhkan energi psikologis yang besar, yang membuat lelah mental dan sulit melakukan hal positif.


Ester juga mengingatkan agar pasangan yang berkhianat terlebih dahulu menerima bahwa pengkhianatan yang dilakukan adalah sepenuhnya kesalahannya.

Dengan dimilikinya rasa tanggung jawab personal seperti ini, maka akan membantunya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Selama pihak yang berkhianat masih membuat excuse atau alasan atas pengkhianatannya, maka proses memaafkan tidak dapat dimulai.

"Pasti akan ada saat-saat dimana Anda teringat akan pengkhianatan tersebut, dan ingatan itu akan memunculkan kembali amarah dan emosi negatif lain. Di saat-saat seperti itulah, pihak yang berkhianat harus dapat rendah hati menerima sebagai bagian dari proses penyembuhan," kata Ester.

Di sisi lain, pihak yang dikhianati harus benar-benar berkeinginan untuk memaafkan. Ketika kita memutuskan untuk memaafkan, berarti kita juga melupakan kesalahan pasangan. Kita harus menganggapnya sebagai manusia baru. Memaafkan berarti tidak lagi mengungkit kesalahan pasangan.

"Terus mengingatkan pasangan akan kesalahannya bukanlah hal yang bijak, karena ini dapat membuatnya merasa tidak mampu memperbaiki diri. Kesalahan yang pernah dilakukan pasangan bukan alasan kita dapat terus memakinya. Berhentilah menghukum pasangan dan memandangnya rendah, sesakit apapun perasaan kita," pesan Ester.

"Hendaknya, kedua pihak sama-sama introspeksi diri, belajar menemukan kebutuhan masing-masing pihak yang selama ini mungkin tidak terpenuhi," nasihat Ester.


Meski demikian, melanjutkan hubungan pasca-pengkhianatan tidak sekedar butuh maaf, melainkan juga upaya membangun kembali kepercayaan terhadap pasangan.

Liza menekankan, ketika kesempatan kedua dijalani, dibutuhkan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak. Komitmen ini sangat bergantung terhadap hubungan masing-masing. Pasangan perlu melihat apa yang kurang dari hubungan sebelumnya, lantas yang kurang itulah yang kemudian diperbaiki.

Selanjutnya, komunikasikan setiap pikiran dan perasaan kepada pasangan, sehingga pasangan tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan. Komunikasi yang terbuka seperti ini dapat meminimalisir kecurigaan dan membuat hubungan lebih dekat dan intim.

"Dalam komunikasi yang terbuka, pasangan yang menjadi pihak pendengar juga harus berkomitmen dan bersedia untuk mendengar tanpa membuat judgement, sehingga tercipta pola komunikasi yang nyaman," saran Liza.

Ada pula bentuk komitmen lain yang penting, misalnya komitmen untuk menyelesaikan setiap masalah yang terjadi dengan kepala dingin. Jadi, jika terjadi masalah atau konflik lagi, pasangan diharapkan menyelesaikan masalah itu dengan benar-benar fokus, tidak saling menyerang, dan tidak mengaitkan masalah ke masa lalu.


Liza menegaskan, pembuatan kesepakatan ini sebaiknya dilakukan bersama-sama, sehingga tidak ada pihak yang merasa terancam atau dipaksa untuk melakukan sesuatu. Jika memang tidak bisa sepakat, mungkin dibutuhkan mediator.

Untuk pasangan yang merasa tersakiti, tentu perlu waktu untuk merasakan semua emosi negatif yang ada, seperti marah, kesal, sedih, sampai akhirnya bisa menerima kejadian. Setelah itu, baru ia bisa memikirkan kembali langkah apa yang mau diambil dan melihat hikmah dari kejadian tersebut.

Ini tentu butuh waktu, dan bisa berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa cara yang bisa membantu pemulihan emosi negatif itu antara lain adalah mencari kegiatan-kegiatan yang disenangi sehingga dapat menyalurkan emosi negatif yang dirasakan.

Intinya, lakukan aktivitas yang bisa membuat diri Anda menerima apa yang terjadi dengan lapang dada. Hal ini penting agar ketika menjalani kesempatan kedua, Anda tidak lagi dihantui.

"Setelah Anda merasa bisa menerima, Anda pun siap untuk membuat kesepakatan baru dengan pasangan. Ingat, fokuslah pada masa sekarang. Here and now. Hal ini bisa sangat membantu Anda untuk melangkah maju," pesan Liza.