Mohon tunggu...
Rudi Santoso
Rudi Santoso Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Dinamika

Pengamat sosial budaya, Dosen Keuangan, Etika Profesi, Manajemen Investasi

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Pilihan

Pricing vs Selling

9 April 2024   08:00 Diperbarui: 11 April 2024   14:20 56
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
www.honda-indonesia.com/cr-v

Honda adalah salah satu "merek mahal" jepang, seperti mercedes benz atau BMW Jerman. Mereka adalah merek mahal (kata konsumen). Namun, bukan honda jika tidak bisa menjual produk dengan harga masuk akal di mata konsumen. Awal 2000an, konsumen Indonesia dibuat kaget ketika tiba-tiba Honda merilis Honda Legenda (salah satu type motor) honda dengan mesin paling durabel sepanjang sejarah. Harganya pada saat itu tidak lebih mahal dari pendahulunya, hanya saja model retro yang disematkan menjadi beda.

Suzuki juga pernah melakukan hal yg sama ketika mereka men-downgrade seri vitara yg super mahal ke type generik menjadi Sidekick Drag-1. Superbrand lain juga tidak malu melakukannya. Apple selalu memberi pilihan setiap produknya mau yang Pro atau lite. Konsumen dan orang lain tidak pernah ambil pusing apakah Anda menggunakan yang Pro atau Lite, selama masih ada logo apple tersemat, konsumen tidak pernah rewel.

Kawan, apa yg dilakukan Honda, Suzuki, bahkan Apple bukan dalam rangka merendahkan diri mereka. Namun apa yg dilakukan mereka adalah ekpansi pasar yang terlalu spesifik menjadi lebih luas. Hal ini disebabkan oleh persaingan yang super ketat di dunia mereka. Mereka bukan lagi perusahaan yang memproduksi unit terbatas yang akan menjadi predator. Namun anomali pasar membuat mereka pada akhirnya memproduksi unit generik. Produk ini berbekal brand yang kuat menyasar pelanggan yang kemarin hanya bisa "mimpi" memilikknya. Itulah kenapa merek-merej itu mampu bertahan hinga kini.

Strategi pricing pada produk generik mampu membius pelanggan untuk membelinya. Ia menciptakan militansi bagi pelanggan baru yang mempunyai euphoria pada produk tersebut. Hasilnya? Merek-merek tersehut bukan lagi milik kaum berduit. Ia sudah menyasar pada stratifikasi sosial paling bawah yang dulunya tidak mungkin bisa membeli produk tersebut.

Apakah brand tersebut mejadi brand yang murahan? Tidak juga. Merek tersebut masih menjadi merek yang paling dicari di Asia pasifik.

Kawan, jika produk kita terlalu mahal bagi konsumen, maka diferensiasi produk ke arah generik bisa menjadi pilihan. Diferensiasi harga (lebih murah) tidak akan menurunkan derajat brand kita. Namun impact dari quantity selling dari diferensiasi tersebut juga akan berdampak pada revenue.

Mau tetap pada harga yg mahal atau kita mau diferensiasi?

Itu pilihan Anda.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun