Mohon tunggu...
Rudi Haryono
Rudi Haryono Mohon Tunggu... Dosen - Dosen STKIP Muhammadiyah Bogor - Mahasiswa S3 Linguistik Terapan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya Jakarta -Pegiat Kepemudaan

Educator, Sociopreneur, Youth Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tahun Baru 2022: Antara Selebrasi dan Refleksi

1 Januari 2022   15:05 Diperbarui: 1 Januari 2022   15:14 178 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hari ini adalah hari pertama kita menginjakkan kaki di tahun baru 2022. Senantiasa ada selebrasi yang dilakukan dengan kedatangan tahun baru. Selebrasi tersebut dapat berupa berupa perayaan, refleksi dan evaluasi. 

Mereka yang merayakan tahun baru dengan perayaan biasanya dilakukan oleh golongan berada yang beranggapan bahwa tahun baru itu sebagai sebuah pencapaian (achievement) dalam hidup yang harus dirayakan dan diramaikan karena periodic waktu yang cukup lama yaitu setahun sekali. 

Perayaan juga sebagai bentuk kebahagiaan bercampur harapan akan tercapainya target hidup dan harapan yang baru dan lebih baik pada tahun yang baru. 

Golongan yang merayakan tahun baru dengan model seperti ini biasanya berasal dari golongan mapan (the have), selebiritis, public figure dan mereka yang terbiasa dengan rutinitas kehidupan yang metro dan dalam lingkungan yang secara status sosial dekat dengan budaya cosmopolitan. 

Simbol-simbol perayaan tahun baru seperti kembang api, music show, momentum hitung mundur (countdown), meniup terompet, pesta dan berkumpul (gathering) secara berkelompok sesuai komunitas masing-masing dan menghabiskan malam tahun baru dengan party. 

Golongan lain ada yang menyambut tahun baru dengan selebrasi berupa refleksi. Golongan ini menyambut tahun baru dengan cara melakukan perenungan atau muhasabah atas pergantian waktu atau tahun yang terjadi. 

Golongan ini menganggap bahwa pergantian tahun baru merupakan sebuah hal yang harus dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya bahwa terjadinya tahun baru hakikatnya adalah pengurangan "kuota" umur kehidupan di dunia yang sementara.

Hal tersebut juga dimaknai sebagai sebuah upaya untuk merenungkan sejauh mana kualitas dalam memaknai kehidupan sesuai dengan ketentuan Tuhan. 

Golongan ini memaknai pergantian tahun baru sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan perbaikan hidup yang lebih kea rah profetik dengan memperbaiki hubungan individualnya kepada Tuhan dan juga secara praksis sosial kepada manusia dalam hal bermuamalah.

Penyikapan pergantian tahun baru secara berbeda di atas tentunya sesuai dengan pengalaman kehidupan, lingkungan sosial dan pemahaman individu dalam memandang hakikat kehidupan. 

Perbedaan tersebut tentunya juga merupakan sebuah sunnatullah bahwa memang manusia memiliki kebebasan (freedom) dalam menentukan pilihan --pilihan hidupnya disamping juga  Tuhan secara tertulis telah menggariskan batasan-batasan dan juga rambu-rambu kehidupan yang sejatinya manusia taati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan