Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Lainnya - Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Evolusi Budaya Bahasa Jurnalis

3 November 2023   07:52 Diperbarui: 3 November 2023   08:04 192
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi :Harriet Nobel/New Scientist. 

Jika kita simak dengan cermat berbagai laporan ataupun berita utamanya TV dan juga berita tertulis di dunia maya maka kita akan dapat menemukan benang merah beberapa  bahasa baku yang terus menerus digunakan seolah menjadi bahasa standar jurnalis yang sangat menarik untuk dibahas.

Saya ambil 2 contoh dua  kata  yang paling banyak digunakan dalam pemberitaan yaitu kata "Korban Jiwa" dan  "mengancam".

Kita tentunya sudah sangat akrab mendengar laporan liputan yang dilakukan oleh jurnalis yang kira kita bunyinya sbb :

".....walaupun si jago merah melalap dan menghancurkan puluhan dan bahkan ratusan jiwa, namun tidak ada korban jiwa"

Gaya bahasa serupa juga digunakan untuk memberitakan bencana alam lainnya seperti  angin puting beliung, banjir dan bencana alam lainnya yang selalu melakukan "kausalitas" antara kerusakan yang ditimbulkan dengan korban jiwa.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah bagaimana proses evolusi bahasa yang digunakan oleh jurnalis ini yang melakukan kausalitas antara bencana yang dihasilkan dengan korban jiwa?  Apakah kalau ada bencana harus selalu ada korban jiwa? Apakah kalau  ada korban jiwa beritanya menjadi lebih  berbobot?

Atau sebaliknya kalimat " ....walaupun ... tidak ada korban jiwa"    merupakan ungkapan baku bahwa kalau tidak ada korban jiwa beritanya kurang seru?

Kata kedua yang juga sering digunakan adalah kata "mengancam " seperti yang sering kita dengar yang akrab dengan telinga kita seperti  berikut:

".....massa yang berjumlah ribuan akhrnya membubarkan diri, namun massa mengancam akan mengerahkan massa yang lebih besar lagi  jika tuntutannya tidak dipenuhi".

Apakah kalau tidak ada kata "masa mengancam akan mengerahkan masa yang lebih besar lagi" menjadikan berita lebih berbobot?  Dalam kenyataannya banyak unjuk rasa yang tidak melakukan untuk rasa lanjutannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun