Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Sudah Saatnya Indonesia Mengendalikan Industri Rokok

27 Juni 2016   07:45 Diperbarui: 28 Juni 2016   03:31 1348 33 17 Mohon Tunggu...
Sudah Saatnya Indonesia Mengendalikan Industri Rokok
Foto: lipsus.kompas.com

Dalam minggu ini debat terkait pro dan kontra merokok kembali menghangat di tengah-tengah pembahasan RUU Pertembakauan. Memang tidak dapat disangkal peran industri rokok terhadap perekonomian Indonesia yang sangat besar, namun di lain pihak juga tidak dapat diragukan  juga bahwa pengaruh negatif merokok bagi kesehatan merupakan fenomena gunung emas yang sangat mengkhawatirkan.  

Industri rokok  di Indonesia merupakan salah satu industri yang terbesar mengingat tingginya angka perokok di Indonesia terutama di kalangan laki-laki.  Diperkirakan 65% laki-laki Indonesia adalah perokok.

Luasan lahan dan produksi tembakau dan cengkeh di Indonesia tahun 2015. Sumber:komunitaskretek.or.id
Luasan lahan dan produksi tembakau dan cengkeh di Indonesia tahun 2015. Sumber:komunitaskretek.or.id
Ada ungkapan yang sangat menarik yang disampaikan oleh sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo dalam diskusi “diskusi "Kejar Tayang Baleg DPR RI terhadap RUU Pertembakauan" di Jakarta pada  Minggu (26/6/2016) yang lalu yang diangkat oleh Kompas sebagai pemberitaan.

Iman Prasodjo mengutarakan bahwa merokok itu bukanlah budaya asal Indonesia, namun hanya merupakan kebiasaan yang tidak bermanfaat.  Kebiasaan merokok tidak perlu dilestarikan karena merupakan kebiasaan negatif yang  terbukti merusak kesehatan.

Sementara itu sebelumnya budayawan Taufik Ismail juga menyebutkan hal yang sama.  Merokok kretek bukanlah budaya asli Indonesia dan bagi yang berusaha kuat untuk memasukkan  rokok kretek sebagai budaya Indonesia dalam undang-udang kebudayaan yang pernah heboh tersebut  hanya merupakan akal-akalan korperasi rokok saja mengingat tembakau dan cengkeh bukanlah tanaman asli Indonesia. Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan  masyarakat asing yang dibawa ke Indonesia melalui aktivitas perdagangan.

Data rokok di Indonesia

Menurut WHO pada tahun 2015 di Indonesia terdapat sebanyak 95 juta orang perokok.  Data yang lebih  mengkhawatirkan adalah  sebanyak 20% pemuda belia Indonesia adalah perokok dan usia orang mulai merokok  di Indonesia semakin lama semakin muda.  Tidak hanya sampai disitu saja terdapat jutaan orang di Indonesia yang secara sadar maupun tidak  masuk dalam kaegori perokok pasif.

Ditinjau dari segi industri rokok, Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua di Asia setelah China sebagai pasar rokok.  Dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 255 juta orang proporsi perokok di kalangan laki laki mencapai 2/3 nya. Di tingkat dunia,  Indonesia menempati peringkat ketiga setelah China dan Rusia dalam hal konsumsi rokok.

Jika data dipilah  sebagai persentase perokok terhadap jumlah penduduk dewasa maka Indonesia menempati urutan pertama.

Peningkatan angka perokok di Indonesia mengkhawaitrkan. Sumber: cdn.static-economist.com
Peningkatan angka perokok di Indonesia mengkhawaitrkan. Sumber: cdn.static-economist.com
Hal lain yang cukup memprihatinkan adalah diperkirakan para perokok di Indonesia menghabiskan sekitar 5-6% dari penghasilan bulannya untuk membeli rokok  atau produk sejenis lainnya.   Data lain yang menarik untuk diunggap adalah 85% perokok di Indonesia mengkonsumsi rokok kretek yang merupakan racikan dari tembakau, cengkeh giling, minyak cengkeh dan ramuan lainnya. Sebanyak 75% rokok kretek di Indonesia merupakan  hasil produksi mesin, sedangkan sisanya diperkirakan merupakan hasil lintingan tangan.

Pertumbuhan industri cenkeh dan rokon di Indonesia. Sumber: Wall Street Journal
Pertumbuhan industri cenkeh dan rokon di Indonesia. Sumber: Wall Street Journal
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) dalam kurun waktu 2010-2014 industri rokok  di Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 4,68%, kecuali pada tahun 2015 yang mengalami penurunan sebesar 5,4%.  Penurunan di tahun 2015 ini diduga akibat kombinasi penurunan daya beli dan kenaikkan cukai rokok.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x