Ronald Wan
Ronald Wan Trader and Freelancer

@Pseudonym | Love to Read | Try to Write

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bukan Hanya Hard Skills, Soft Skills juga Penting Dipelajari

22 April 2017   11:38 Diperbarui: 27 April 2017   06:08 282 9 6
Bukan Hanya Hard Skills, Soft Skills juga Penting Dipelajari
Ilustrasi (sumber Pinterest.Com)

Soft skill, menurut wikipedia adalah kombinasi dari kemampuan berhubungan dengan orang lain, kemampuan sosial, kemampuan komunikasi, karakter dan bagaimana kita bersikap. Yang memungkinkan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, bisa bekerja sama, bisa bekerja baik dan dapat mencapai tujuan jika digabungkan dengan hard skill yang mereka miliki. Antara lain, komunikasi, manajemen waktu, disiplin, kerjasama tim dan lainnya

Hard skill, menurut Investopedia adalah kemampuan yang bisa diajarkan, didefinisikan serta diukur efektifitas nya. Seperti matematika, mengetik, menjahit, mengoperasikan mesin dan lainnya.

Pada akhir tahun 90an, saya pernah menjadi salah satu pembina kegiatan ekstrakurikuler bersama sahabat saya almarhum Adi Nasution di komplek Akabri Sahardjo Jakarta. Pertemuan saya dengan sahabat saya, waktu itu saya aktif di sebuah organisasi Marching Band dan kebetulan Adi menjadi pelatihnya. Hubungan kami menjadi akrab, saya diajak ke tempat dia melatih Cheerleader dan Dance, sampai akhirnya kami bersahabat.

Pada awalnya saya hanya ikut-ikutan, karena sebagai laki-laki pasti tertarik dengan suatu tempat  yang banyak perempuannya. Kegiatan Cheerleader dan Dance, yang dilatih oleh Adi memang lebih banyak diikuti oleh perempuan remaja SMP, SMA dan Mahasiswi. Walaupun ada juga satu dua group dance yang beranggotakan laki-laki.

Di dalam kegiatan ini, Adi berperan sebagai koreografer dan pelatih. Sedangkan saya lebih ke arah pelatih dan pembina manajemen tim. Selain kami berdua masih ada beberapa sahabat yang juga terlibat.

Ilustrasi Piramida (sumber Youtube.Com)
Ilustrasi Piramida (sumber Youtube.Com)

Berlatih cheerleader dan dance, memaksa para anggota tim untuk belajar tentang kerjasama tim. Dalam cheerleader ada satu adegan yang dinamakan piramida, dimana ada anggota yang berposisi sebagai dasar piramida, dinaiki satu level sampai mencapai puncaknya. Tanpa kerja sama yang erat piramida akan mudah runtuh, jika para anggota tidak saling percaya. Tidak mungkin bisa membentuk satu piramida yang utuh.

Ilustrasi Dance Group (sumber Youtube.com)
Ilustrasi Dance Group (sumber Youtube.com)

Dance group, juga sama. Dalam lomba salah satu penilaian adalah kesamaan gerak para anggota. Bukan hanya bisa bergerak dalam waktu yang sama, tetapi juga gerakan harus seseragam mungkin. Jika lengan ditekuk 90 derajat berarti semua anggota harus menekuk lengan 90 derajat. Memaksa anggota menjadi satu kesatuan dan satu hati.

Disiplin juga kami latih, setiap anggota yang melakukan kesalahan akan menerima hukuman seperti push up. Bukan kami kejam, selain mengingatkan untuk disiplin, hukuman ini juga berguna untuk melatih fisik dan stamina mereka untuk bisa tampil lebih baik lagi.

Pencapaian target juga ditekankan, artinya dalam satu latihan ada target tertentu. Berapa gerakan yang harus dihapalkan. Dalam satu bulan minimal harus bisa menghapalkan satu koreografi. Selain itu tim yang kami latih, juga kami ajarkan bagaimana menganalisa tim lawan, kekuatan dan kelemahannya. Sehingga bisa membuat strategi sebelum lomba, apa yang perlu fokus dilatih supaya bisa mengurangi kelemahan tim dan menguatkan kelebihan.

Manajemen keuangan dan manajemen waktu beberapa hal lagi yang dipelajari dalam kegiatan ekstrakurikuler. Bagaimana tim mengelola keuangan, agar cukup untuk membayar pelatih, membuat kostum, membayar biaya lomba, transport dan logistik lomba dan lainnya. Manajemen waktu, bagaimana mereka mengatur dan bisa membagi waktu agar kegiatan menari tidak mengganggu prestasi akademis.

Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa, karena dipaksa jadi bisa. Itulah moto kami yang sering kami ingatkan. Dalam artian semuanya bisa asal kita mau bekerja keras dan berusaha. Walaupun hasil akhir tidak bisa kita pastikan.

Saya sangat bangga, bahkan terkadang iri. Beberapa siswa binaan kami bisa melebihi saya dalam berkarir, salah satunya bisa menjadi direktur perusahaan multinasional dan berkantor di Shanghai. Ada yang  meneruskan karir menari dengan menjadi penari profesional. Dan ada yang menjadi salah satu koreografer yang cukup diakui di Indonesia. Dalam ranah tarian pop.

Bukti bahwa tidak hanya hard skill, soft skill juga penting untuk dipelajari.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Adi Nasution,yang ketika meninggal, ratusan mungkin hampir seribu orang mengantarkan ke liang kubur. Seorang sahabat dan lawan diskusi. Seorang kakak bagi saya dan banyak orang lain.

Salam

Hanya sekedar berbagi