romensy augustino
romensy augustino Mahasiswa

Etnomusikologi 2014, sekolah di jurusan musik tapi nggak ahli main musik. prespektifku mengatakan musik tidak harus menuntut kamu bermain dengan alat musik atau kecanduan mendengarkannya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memaknai Takbiran

14 Juni 2018   02:02 Diperbarui: 14 Juni 2018   03:56 226 0 0

Bulan ramadhan menjelang garis finish. Esok pada hari jumat insyaallah umat muslim Indonesia akan melaksanakan sholat Ied. "Tinggal menunggu pengumuman dari Kementrian Agama aja nih".

Moment lebaran selalu memberikan kesan berbeda di setiap tahunnya. Berkumpul dengan keluarga di hari nan fitri mungkin adalah moment yang paling dicari. Perantau rela menempuh jarak, dan waktu perjalanan yang panjang untuk mendapatkan moment itu. Tak jarang kekecewaan pun terpampang ketika gagal mudik. "Gak bisa ketemu keluarga deket, temen sebaya, dan tradisi desa yang merindukan".

Indonesia punya tradisi takbiran sebelum datangnya hari raya idul fitri dan idul adha. Masyarakat Sabang hingga Merauke, tanpa terkecuali melakukan tradisi ini. Kemasannya macem-macem. Ada yang cukup di masjid dengan pengeras suara atau berkeliling diiringi alat musik. Serentak mereka mengumandangkan takbir mengagungkan Sang Ilahi.

Jalan-jalan besar pun ramai hingga tak ada sebuah tempat pun yang tidak mendengar seruan takbir. Mobil-mobil bak terbuka mondar-mandir di jalanan membawa pelantun takbir beserta alat musik seperti bedug dan alat-alat perkusi lain. 

Lingkungan kami juga memiliki tradisi takbiran keliling. Memang kami tidak menggunakan mobil bak terbuka untuk melakukan itu. Kami cukup melakukannya dengan berjalan kaki. Berjalan putar-putar di lingkungan kami sendiri sembari bercengkerama dengan teman-teman.

Bisanya, suara takbir mulai dikumandangkan setelah kami selesai menyiapkan peserta, alat musik, dan obor. Peserta mayoritas adalah anak-anak, antusiasnya sangat luar biasa, seolah mereka memang sangat menunggu untuk melakukan aktivitas setahun 2 kali itu. 

Teriakan-teriakan takbir anak-anak kami iringi oleh alat musik yang kami kumpulkan sendiri. Barang-barang bekas layaknya ember, galon kosong, botol beralih fungsi sebagai pengiring. Terkecuali rebana dan kentongan yang fungsi utamanya memang sebagai alat musik. 

Lewat tradisi ini kami mencoba memberikan kebahagiaan kepada masayarakat desa kami. Meski terkandang kami tidak memainkan alat musik dengan harmoni yang benar. Tempo alat-alat perkusi yang kami mainkan sering tidak selaras dengan suara takbir. Meskipun begitu kami selalu berhasil melihat senyum masyarakat yang melihat kami. 

Masyarakat desa kami tidak menilai berdasarkan keharmonisan suara. Mereka sangat maklum karena memang teadisi ini baru sekitar 5 tahun lalu. Dan memang belum ada konsep bermain musik yang jelas untuk tradisi takbiran di desa kami. Bagi kami yang penting dari tradisi ini adalah pemaknaan gembira atas Idul Fitri dan Idul Adha.

Pemaknaan kami mungkin berbeda dengan pemaknaan orang lain. Dengan orang yang belum bisa mudik atau mungkin dengan orang yang sedang berada di tengah perjalanan. Saya pun bertanya-tanya, "bagaimana ya ketika saya mendengar gema takbir Idul Fitri, dan sedangkan saya berada di tempat yang jauh dari keluarga?". Mungkin saya akan sedikit menitikan air mata. Karena suara-suara takbir akan membuat saya mengingat kenangan-kenangan di rumah.

Takbiran adalah tradisi penting dalam kebudayaan Indonesia. Sisi humanis yang melatarbelakanginya mungkin menjadi aspek terpenting dalam tradisi ini. Selaras dengan tradisi-tradisi berkembang pada kultur budaya agraris. Budaya yang selalu menjunjung tinggi gotong-royong yang kini sudah jarang kita temui pada masyarakat perkotaan yang cenderung individualis. Tak sabar untuk melakukannya malam nanti.