romensy augustino
romensy augustino Mahasiswa

Etnomusikologi 2014, sekolah di jurusan musik tapi nggak ahli main musik. prespektifku mengatakan musik tidak harus menuntut kamu bermain dengan alat musik atau kecanduan mendengarkannya.

Selanjutnya

Tutup

Musik

Musik Diplomasi "Penolakan Atas Teror"

10 Juni 2018   15:17 Diperbarui: 10 Juni 2018   15:19 196 0 0

Tinggal menghitung hari lagi bulan ramdhan akan beralih menjadi bulan syawal. Kue-kue lebaran telah banyak terpajang di pasar-pasar modren. Terminal-terminal transportasi juga sudah mulai sesak dengan calon-calon pemudik. Tunjangan Hari Raya tidak ketinggalan sebagai hal yang membuat orang-orang tersenyum.

Terlepas dari segala kesibukan mempersiapkan lebaran yang kita lakukan hari ini, Isu terorisme dan radikalisme masih gencar menggoyang gendang-gendang telinga masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebelum masuk Bulan Ramadhan aksi teror kembali terjadi. Dalam tempo satu minggu (tanggal 8-14 Mei 2018) beberapa wilayah di pulau jawa diteror. Mulai dari kerusuhan Mako Brimob Depok hingga bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya.

Pasca teror, banyak kejadian-kejadian yang menjadi sorotan semisal, #kamitidaktakut yang viral di twitter, hingga isu dikriminasi yang menimpa perempuan-perempuan yang memakai cadar. Kejadian ini memberi pertanda bahwa teror memberi dampak buruk. Bukan hanya korban luka-luka atau meninggal, serta kerusakan gedung, tetapi meluas dan menyerang sisi-sisi psikologis setiap orang. Masyarakat menjadi was-was atas keselematan mereka, hingga mungkin berdampak pada prasangka buruk terhadap komunitas tertentu.

Dampak teror paling nyata telah dirasakan oleh saudara-saudara kita di Palestine. Setiap tahun masyarakatnya menerima berbagai teror. Yang terbaru adalah pengumuman oleh presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Ibu Kota Negara Israel adalah Yerusallem pada 6 Desember 2017. Sontak hal ini mendapat kecaman dari seluruh masyarakat dunia.

Mendekati Bulan Ramadhan di sekitaran bulan Mei 2018. Zain, salah satu kelompok telekomunikasi Kuwait merillis sebuah video iklan berjudul "Mr. President". Bertema Bulan Ramadhan, video ini menceritakan kisah seorang anak yang memohon kepada pemimpin-pemimpin negara adidaya. Aktor-aktor yang memerankan Donald Trump, Vladimir Putin, Angela Marker, Justin Trudeau, Hingga Kim Jong Un diajak oleh sang anak menyaksikan derita yang ia alami.

Gambar-gambar bergerak memvisualisasikan keadaan yang dialami oleh para korban terorisme. Lagu "Mr. President" yang melatarbelakangi gambar-gambar begerak itu menambah kesan miris. Suara anak yang menjadi vokal membuat kita akan bergerak mengelus dada dengan rasa iba. Motif-motif musik dari suara instrumen pun telah merepresentasikan darimana si anak berasal. Sementara lirik-lirik lagu semisal, "Tiap ku pejamkan mata, ku dengar ledakan", kemudian "lagu menjadi tangisan, mainanku turut berdarah", adalah akibat nyata atas aksi tindakan terorisme.

Anak-anak tidaklah seharusnya menyaksikan pembunuhan, mendengarkan suara dentuman bom, dan suara jatuhnya peluru-peluru yang terlontar dari senapan. Dunia mereka bukanlah dunia peperangan, melainkan dunia permainan yang imajiner. Mereka akan bergaul dengan siapa saja yang mereka temui, tanpa kemudian memikirkan, "apa manfaat saya bergaul dengan dia?".

Ruang yang berada jauh tak membuat kita buta terhadap peristiwa-peristiwa kemanusiaan. "Mr. President", memberikan kita banyak pelajaran tentang teror. Teror, erat kaitannya dengan politik kekuasaan dan nafsu kekuatan-kekuatan super power menguasai wilayah-wilayah yang mereka kehendaki. Dan dari "Mr. President" kita juga belajar bahwa menyerukan perdamaian tidaklah harus dilakukan dengan cara-cara yang radikal.