Mohon tunggu...
Oom Roes
Oom Roes Mohon Tunggu...

Lahir dan besar di Solo, sekolah di FE Undip Semarang dan University of Oregon, AS, bekerja di Bank BRI sampai tahun 2002, sekarang tinggal di Bintaro Jaya, Tangerang. Twitter @roesharyanto FB: Oom Roes

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mencari Teman-teman Lama

3 Agustus 2015   11:45 Diperbarui: 3 Agustus 2015   11:45 299 1 0 Mohon Tunggu...

Salah satu kegiatan yang sudah lama ingin saya lakukan, bahkan menjadi semacam obsesi, setelah saya benar-benar pensiun ialah mencoba mencari teman-teman lama. Teman lama bisa berarti teman main di kampung, teman sekolah, teman kuliah, bekas guru, rekan di tempat kerja sampai tempat kost waktu kuliah dulu. Terus terang saya agak menyesal  karena seharusnya hal ini saya lakukan dulu-dulu, namun baru menyadarinya sekarang. Ketika saya berhasil menemukannya sebagian sudah meninggal dunia atau dalam keadaan yang memprihatinkan.

 The gang of four

Di kampung dulu saya punya gang of four (empat sekawan) bersama-sama dengan Slamet(Meok), Giarto(Pruthul) dan mas Wiek (Wirawan). Wirawan rumahnya bersebelahan, saya selalu memanggilnya mas karena saya kalau memanggil ibunya Budhe Bei, walaupun sebenarnya tidak ada hubungan saudara sama sekali. Kegiatan gang mulai dari kasti, bal-balan, perang-perangan sampai mandi di sungai, melempari mangga tetangga dan mencuri tebu. Sampai SMP kita masih sering main bersama walaupun tidak ada satupun yang satu sekolahan. Waktu di SMA sudah mulai kurang, selepas SMA hampir tidak pernah ketemu lagi. Selesai SMP Slamet masuk tentara, tidak pernah mendengar khabarnya lagi. Giarto kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil dan sekarang bekerja dan tinggal di Bandung. Mas Wiek melanjutkan kuliah di Gajah Mada.

Tahun 2000-an ketika saya pulang ke Solo, saya diberitahu kakak saya kalau dia sempat ketemu dengan mas Wiek dan diberi alamatnya. Saya berhasil mencari rumahnya di Kalitan, Solo. Rupanya setelah pensiun dia memilih kembali ke Solo, karena istrinya mendapat warisan sebuah rumah kuno yang sangat antik di Kalitan. Ini pertemuan kembali setelah berpisah lebih dari 40 tahun. Dia tidak banyak berubah, awet muda, rambut masih hitam. Mungkin kalau ketemu di jalan, saya kira saya tidak akan pangling. Sampai sekarang kalau pulang ke Solo selalu saya sempatkan mampir.

 Teman SD jadi tukang becak

Masih di Solo, sekitar tahun 90-an, saya mempunyai pengalaman yang sedikit mengharukan.Waktu itu saya harus naik becak dari Kleco ke Purwosari, rumah Ibu. Saya tidak sempat tawar menawar ongkosnya langsung naik saja, karena semahal-mahalnya ongkos becak di Solo pasti masih lebih murah untuk ukuran Jakarta. Belum lama saya duduk, tukang becaknya bertanya : “Saiki neng endi Roes ?” (Sekarang dimana Roes) Dengan agak terkejut saya menengok kebelakang. Rupanya dia Tembong, teman baik saya waktu di SD dulu, yang tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya. Alhasil, saya kasih dia Rp20.000 untuk ongkos becak yang biasanya cuma Rp2.000. Tidak apa-apa, for old time’s sake. Saya tidak tahu apakah dia sekarang masih kuat narik becak.

 Guru-guru sudah meninggal

Usaha untuk mencari bekas guru-guru SD dan SMP betul-betul saya rasakan sangat terlambat. Awal tahun 80-an ketika saya main ke SMP I Manahan, Solo, saya dapati guru-gurunya sudah baru semua, guru-guru lama sudah pensiun. Maklum sudah lebih dari 20 tahun saya meninggalkan SMP. Bahkan saya diberitahu kalau pak Isman (Kepala Sekolah), pak Djoko (guru sejarah), Bu Marni (guru bahasa Inggris), pak Tabri (guru ilmu hayat) sudah meninggal semua. Pak Hardiyatmo, gulu aljabar, yang masih masih relatif muda juga sudah pindah menjadi kepala sekolah di SMP lain.

Ketika saya iseng-iseng main ke SD Kalitan, sebetulnya saya tidak berharap akan bertemu dengan pak Harno, guru klas VI saya dulu.  Setelah sekian puluh tahun berlalu, mungkin beliau tidak lagi mengajar di sana. Ternyata setelah sempat dipindah mengajar ke Sragen, pak Harno kembali lagi ke SD Kalitan sebagai kepala sekolah. Mula-mula pembicaraan berlangsung dalam bahasa Jawa halus sebagaimana orang Jawa yang baru berkenalan. Setelah saya jelaskan bahwa saya dulu bekas muridnya, tanpa canggung-canggung pak Harno mengganti bahasanya dengan Jawa ngoko.  “Wah nek ngono tak jabel nggonku basa ya Roes.” (Wah kalau begitu saya tarik kembali bahasa Jawa saya ya) katanya. “Lha monggo, kula nggih malah remen.” (Silahkan, saya juga malah senang) jawab saya. Betul-betul suatu pertemuan yang sangat luar biasa, karena dialog seperti suasana kelas 30 tahun yang lalu serasa hidup kembali. Dua tahun kemudian saya sempat mampir lagi ke SD Kalitan, pak Harno sudah tidak ada lagi di sana karena telah berpulang ke rachmatullah.

 Mencari ibu kost

Saya mulai kuliah di UNDIP Semarang tahun 63, indekost di rumah keluarga Brotomartono di Jl Lampersari 12, Semarang Timur. Induk semang saya sangat baik sekali, penuh perhatian dan tidak terlalu komersiil. Mungkin karena pada waktu itu saya satu-satunya anak kost. Saya bisa merasakan mereka lebih banyak berkorban dengan merawat saya daripada memperoleh untung dari uang kost. Ketika teman-teman yang lain pada gonti-ganti tempat kost, saya dapat bertahan sampai hampir 6 tahun. Ketika tahun 69 saya keluar dari rumah pak Broto bukan karena tidak kerasan, tetapi karena harus menunggui rumah oom yang kosong di Jl Sultan Agung , Candi Baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x