Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya Artikel Utama

Suka Duka Relawan Ranjau Paku "Saber Community"

4 April 2012   19:17 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:02 0 5 0 Mohon Tunggu...
Suka Duka Relawan Ranjau Paku "Saber Community"
13335552941573170456

[caption id="attachment_170055" align="aligncenter" width="597" caption=" Siswanto dan Abdul Rohim saat memperagakan cara kerja alat penyapu ranjau paku"][/caption] Kerap di caci maki pengendara yang lewat, lalu mendapat ancaman oleh oknum yang menyebarkan ranjau paku, kemudian niat baiknya sering disepelekan dan dianggap remeh oleh masyarakat hingga mengalami kecekaan serius akibat ditabrak pengendara sepeda motor sampai membuat salah satu anggotanya di rawat di rumah sakit. Itulah sebagian kisah pilu dari tim Saber Community, alias relawan sapu bersih ranjau paku saat sedang menunaikan tugasnya di jalan raya. Dengan bermodalkan hanya beberapa lempeng magnet disertai tali rafia yang diikatkan pada satu lembar batang besi yang diberi roda kecil, anggota relawan sapu bersih "Saber Community" beraksi di beberapa ruas jalan di wilayah Jakarta. Rute yang mereka tempuh lumayan jauh, yaitu berkisar di sepanjang jalan Daan Mogot menuju Roxy, Harmoni, Istana hingga Kwitang arah Senen. Tujuannya hanya satu, yakni mencari paku yang banyak berserakan untuk membuat aman pengendara di jalan raya agar roda mereka tidak bocor secara sengaja oleh oknum tertentu. Ketika Siswanto, ketua Saber Community menerangkannya kepada kami dari Kompasiana, termasuk saya, Ibu Ani Berta, Ibu Reni Marthauli dan Bang Ali Rahman, usai menghadiri acara Kick Andy. Beliau mengatakan bahwa pelaku penyebar ranjau paku memang tidak semata oknum tukang tambal ban saja, melainkan banyak dilakukan oleh perampok yang sengaja mengambil keuntungan dari prasangka buruk masyarakat kepada profesi tertentu khususnya tambal ban. Seperti kalau seorang pengendara sepeda motor yang bannya bocor atau robek terlihat panik, lalu dihampiri oleh orang yang berpura-pura baik dengan menolong padahal mempunyai niat jahat untuk merampok. Sebab berdasarkan pengalamannya sehari-hari saat membersihkan jalan raya dari ranjau paku yang berserakan, Siswanto dan beberapa kawan komunitasnya yang berjumlah 16 orang, kerap menemukan kejadian yang terkadang menjengkelkan. Yaitu saat jalanan yang dilaluinya sudah bersih dari ranjau paku karena tersedot oleh alat yang dibawanya itu, namun saat melewati jalan pulang malah paku yang berserakan bisa lebih banyak lagi dari yang dikumpulkan sewaktu pergi. Padahal dengan mata kepalanya sendiri paku-paku tersebut sudah menempel di dalam alat magnetnya itu, tetapi karena ada saja orang yang berniat jahat maka oleh orang tersebut ditebarkannya kembali. Sungguh suatu pekerjaan yang menjengkelkan, karena sudah lelah menyusuri jalanan dari tempat tinggalnya di Daan Mogot hingga Cideng, eh malah paku tersebut berserakan lagi. Kalau sudah begini, paling Siswanto dan beberapa rekan komunitasnya hanya bisa geleng-geleng kepala akibat perbuatan jahat atau iseng dari oknum tersebut. Sewaktu kami menanyakan apakah kegiatannya itu dibayar oleh pemerintah atau suatu instansi, Siswanto hanya tersenyum. Beliau mengatakan, apa yang dilakukannya beserta anggota relawan Saber adalah inisiatif sendiri tanpa pamrih oleh pihak tertentu, yang gunanya untuk menimbulkan kenyamanan di jalan raya. Baik kepada pengendara lain maupun untuk dirinya sendiri termasuk anggota Saber yang dalam kesehariannya bekerja mengendarai sepeda motor. Kendati sama sekali tidak mendapatkan materi, Siswanto dan relawan Saber tetap merasa puas dan bangga karena usaha yang mereka lakukan sedikitnya telah diterima masyarakat luas, khususnya yang berdomisili di Jakarta. Kemudian beliau pun menambahkan bahwa beberapa bulan yang lalu, komunitas relawan Saber mendapatkan penghargaan dari Walikota Jakarta Barat karena aksi mereka yang sangat tulus dalam melakukan tugas yang memang bukan kewajibannya. Apalagi ditambah dengan apresiasi yang diberikan Kapolda Metro Jaya terhadap relawan Saber dengan memberikan penghargaan serta pakaian khusus dan ID card resmi sebagai warga negara yang turut membantu aparat kepolisian dalam memberikan kenyamanan di jalan raya dari ranjau paku. Menilik saat pertama kali dibentuknya pada bulan Agustus 2011 lalu, Saber Community atau relawan sapu bersih ranjau paku, awalnya hanya karena pengalaman gemas yang dialami beberapa anggota karena menyaksikan fenomena banyaknya paku yang bertebaran hampir di setiap sudut Ibukota. Sebab karena paku-paku tersebut, ban kendaraan mereka menjadi bocor akibat melewati jalan yang dipenuhi ranjau paku. Kemudian setelah tidak begitu puas dengan pelayanan yang diberikan beberapa tukang tambal ban yang kerap memberlakukan harga mahal saat akan mengganti ban dalam yang bocor hingga mencapai diatas rp 30.000 rupiah, meski tidak semua tukang tambal ban berlaku seperti itu namun banyak juga yang mengambil keuntungan dengan dalih malam hari gelap dan tiada satupun toko ban yang buka. Padahal keseharian dari Siswanto, Abdul Rohim serta anggota relawan lainnya hanya warga biasa yang bekerja sebagai tukang ojek, buruh bangunan, sopir angkot hingga pegawai swasta tentunya merasa keberatan. Usul punya usul, akhirnya beberapa dari mereka membentuk sebuah wadah komunitas warga yang bernama Saber Community, dengan maksud untuk kegiatan sosial bersama-sama membersihkan jalan raya dari ranjau paku. Hingga kini berjalan lebih dari setengah tahun, komunitas Saber tetap eksis bahkan anggotanya bertambah banyak dengan hadirnya simapatisan yang berasal dari beberapa warga yang juga terdorong tekadnya untuk bahu membahu membersihkan jalan raya dari ranjau paku. Kendati begitu, ujian untuk mereka pun bertambah banyak pula dengan ulah iseng dari sekelompok oknum yang sering menyebar paku dalam rentang waktu yang berlainan. Bahkan sekelompok oknum yang berniat jahat tersebut kerap dipergoki oleh anggota relawan hingga saling kejar-kejaran diantara mereka, dan tak jarang menyerang relawan dengan cara menimpuk dari belakang memakai botol minuman. Untung saja saat itu, salah satu anggota relawan Saber bernama Rohim yang sedang berkeliling tidak sampai terkena pecahan beling dari botol minuman tersebut. Pun begitu ketika Siswanto yang saat itu sedang menyusuri jalan dengan alat magnetnya, dari arah berlawanan dikata-katai dengan kalimat yang kasar dan tidak senonoh lalu kabur kembali setelah dihampirinya. Siswanto hanya bisa bersabar menyaksikan ulah oknum tak bertanggung jawab yang mungkin merasa tidak senang dengan keberadaan relawan Saber yang kerap menggagalkan aksi mereka berniat jahat di jalan raya. "Yang terpenting adalah kita sebagai warga negara wajib untuk saling menjaga dan membantu warga lainnya terutama pengguna jalan, walau dengan alat yang seadanya ini". Ucap Siswanto mengakhiri pembicaraan sambil memperagakan kegunaan alat penyapu ranjau paku yang telah ditempeli magnet dan bisa di dorong karena ditambahi beberapa roda kecil.

*      *      *

[caption id="attachment_170056" align="aligncenter" width="597" caption="Motif pakaian yang mirip dengan aparat kepolisian"]

1333555398620647668
1333555398620647668
[/caption]

*      *      *

[caption id="attachment_170057" align="aligncenter" width="597" caption="Alat penyapu ranjau paku yang ditempeli magnet dan beberapa roda kecil"]

1333555486187481593
1333555486187481593
[/caption]

*      *      *

Tidak Semua Tukang Tambal Ban Adalah Penebar Paku di Jalan

*      *      *

Jakarta, 5 April 2012

- Choirul Huda