Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Apresiasi untuk Kejelian Paspampres

25 Maret 2014   09:22 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:31 0 0 0 Mohon Tunggu...
Apresiasi untuk Kejelian Paspampres
13956885781158446555

[caption id="attachment_300418" align="aligncenter" width="569" caption="Iring-iringan kendaraan presiden yang dikawal Paspampres (Sumber: Paspampres.mil.id)"][/caption] Sebelumnya, saya kurang begitu antusias menyimak berita mengenai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Maklum, stigma negatif mengenai pasukan elite ini terlanjur melekat dalam diri saya. Baik itu pengalaman pribadi, mendengar cerita orang mengenai resimen Tjakrabirawa yang menjadi cikal-bakalnya, atau mengetahui berita dari media. Misalnya, beberapa tahun silam, saya pernah memiliki pengalaman kurang menyenangkan ketika dibentak salah satu anggota Paspampres. Itu ketika saya yang sudah rela "mengalah" di pinggir jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat demi membiarkan rombongan kendaraan presiden lewat. Eh, meski sudah menjauh beberapa meter, oleh anggota Paspampres malah disuruh mundur lebih ke belakang dengan alasan menghalangi laju orang nomor satu di negeri ini. Dalam benak saya saat itu sempat berpikir liar, "Eh, gw yang bayar pajak buat ngebangun jalan ini kok malah diusir. Padahal, presiden itu siapa yang bayar gajinya kalo bukan rakyat, termasuk gue?" Ya, pemahaman yang bagi saya wajar. Bahkan, hingga kini pun, terkadang saya masih kurang terima jika ada anggota Paspampres yang berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya di jalan raya. Apalagi, diperburuk dengan berita yang beredar luas mengenai sikap Paspampres yang terkesan berlebihan. Namun, justru kerap kecolongan dengan hal-hal yang aneh. Banyak contoh yang terkesan menggelitik bagi yang membaca, tapi memalukan untuk Paspampres itu sendiri. Baik saat kecolongan kakek tukang kebun di acara resmi Presiden saat pembukaan ASEAN Fair di kompleks Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Nusa Dua, Bali, 25 Oktober 2011. Atau, 40 orang pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) membentangkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 29 Maret 2007. Bahkan, Paspampres juga kalah sigap dengan rombongan siswa Sekolah Dasar (SD) yang menerobos barikade Ring 1 Presiden SBY. Itu terjadi pada Desember 2010 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

*     *     *

Namun, pandangan tersebut sedikitnya lenyap sejak Senin (24/3). Terutama setelah membaca sebuah berita mengenai kesigapan anggota Paspampres dalam melakukan pengawalan. Dalam artikel berjudul Ketika Lengan SBY Terluka dan Cincinnya "Hilang" (Sumber: Detik.com) itu tampak begitu beratnya tugas anggota Paspampres. Tidak hanya mempertaruhkan nyawa di lapangan demi menyelamatkan presiden. Melainkan juga mengurus hal-hal yang dianggap remeh tapi krusial. Seperti reaksi jeli anggota Paspampres yang melihat cincin Presiden SBY tidak ada. Sebelumnya, mereka menganggap cincin tersebut dicuri oleh kerumunan massa yang berebut bersalaman dengan tokoh berusia 64 tahun tersebut. Namun, setelah dikroscek lebih lanjut, ternyata Presiden SBY memindahkan cincinnya dari jari tangan kiri ke tangan kanan. Bagi saya pribadi, meski terkesan sepele, yaitu hanya cincin. Namun, kesigapan anggota Paspampres itu sangat heroik. Maklum, bagaimanapun, presiden merupakan simbol negara. Tentu, tidak selayaknya jika terjadi apa-apa dengan kepala pemerintahan tersebut. Terlebih, saya rasa setelah banyak tudingan negatif mengenai banyaknya kasus kecolongan itu, Paspampres sudah banyak belajar. Khususnya agar benar-benar menjalankan tugasnya untuk mengamankan kegiatan orang nomor satu di negeri ini. Agar, jangan sampai Peristiwa Cikini yang menimpa mantan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pada tahun 1957 terulang kembali. Atau, kita juga tidak ingin mengalami tragedi penembakan Presiden Amerika Serikat ke-35, John Fitzgerald Kennedy pada 1963. Jika itu terjadi, bukan hanya Paspampres saja yang mendapat malu, melainkan juga seluruh masyarakat Indonesia. Satu hal yang tak kalah pentingnya dari Paspampres, agar saat menjalankan tugas, terutama saat di jalan raya tidak melukai perasaan rakyatnya.

*     *     *

Referensi: - Ketika Lengan SBY Terluka dan Cincinnya 'Hilang" - Soal Iring-iringan Presiden, Paspamres Surati Polda Metro - Penjelasan Komandan Paspamres tentang Onthel Nyelonong di Bali - Ring 1 Paspamres Bobol: Ah, Gedung Putih Juga Pernah Kecolongan - Paspampres.mil.id

*     *     *

Postingan Sebelumnya tentang Militer dan Kepolisian: - Semarak HUT TNI ke-68 di Monas - Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI AD - Sepenggal Kisah di Museum Abdul Harris NasutionDi Usia TNI ke-66 Ini Semoga Tidak Ada Lagi Paswalyur: Pasukan Pengawal SayurPengalaman Sehari di Mabes Polri - Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge - Tidak Semua Polisi Berperilaku Kurang Baik

*     *     *

- Jakarta, 25 Maret 2014