Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Meningkatnya Prestasi Indonesia di Asian Games 2014

6 Oktober 2014   10:14 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:13 0 0 0 Mohon Tunggu...
Meningkatnya Prestasi Indonesia di Asian Games 2014
14125637531009080572

[caption id="attachment_364229" align="aligncenter" width="700" caption="Kontingen Indonesia dalam upacara pembukaan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, Jumat (19/9/2014). (tribunnews.com)"][/caption] Wajah-wajah layu terlihat dari sebagian besar kontingen Indonesia yang berdatangan di Bandara Soekarno Hatta. Sore itu, mayoritas atlet, pelatih, dan jajaran pengurus olahraga di tanah air baru tiba dari Incheon, Korea Selatan. Tidak ada selebrasi suka cita yang terpancar dari mereka. Itu menjadi ironis mengingat, para penyambut, yang sebagian besar terdiri dari media, keluarga, kerabat, dan fan dari atlet atau pelatih justru memberi sambutan meriah. "Saya telah gagal. Semoga empat tahun mendatang, saya bisa memperbaikinya," demikan ucapan yang terlontar dari seorang atlet saat dikerubungi media. Sosok jelita itu terlihat lesu saat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Pun begitu ketika dia dimintai foto bareng dengan beberapa orang yang diketahui merupakan fans-nya. Nyaris tanpa ekspresi, kecuali senyum kecut di depan kamera.

*      *      *

Pesta olahraga antarnegara se-Asia telah berakhir. Asian Games (AG) edisi ke-17 ini menyisakan kekecewaan dari sebagian besar pelaku olahraga di tanah air. Itu karena gagalnya atlet, pelatih, dan pengurus dari mayoritas cabang untuk meraih target yang diemban mereka. Ya, pada Asian Games Incheon itu, kontingen Indonesia hanya mampu meraih 20 medali yang terdiri dari 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu.Alhasil, kita hanya menempati posisi ke-17. Ironis, sebab Indonesia kalah dari sesama negara se-Asia Tenggara. Sebut saja, Thailand yang berada di urutan kelima dengan total 47 medali (12, 7, 28). Begitu juga dengan dua negara serumpun, Malaysia di posisi 14 dengan 33 medali (5, 14, 14), dan Singapura pada urutan 15 dengan 24 medali (5, 6, 13). Tentu, jika dibandingkan ketiga negara tersebut, perolehan Indonesia sangat jauh dari ekspekstasi masyarakat. Maklum, pada AG ke-16 di Guangzhou, Tiongkok (2010), kita mampu meraih posisi 15 dengan total 26 medali (4, 9, 13). Secara kasat mata, wajar kalau banyak yang menilai, prestasi olahraga Indonesia di AG 2014 ini tergolong stagnan bahkan disebut mengalami penurunan. Sama-sama meraih empat emas dari edisi sebelumnya, namun kalah jauh dari total medali (20 berbanding 26). Namun, apakah benar, Indonesia mengalami penurunan prestasi? Tentu saja tidak. Bagi saya, justru, prestasi "wakil rakyat" kita di Incheon sudah jauh lebih baik ketimbang di Guangzhou. Apa dasarnya? Contohnya mudah. Tolok ukurnya adalah medali emas yang diraih. Sebab, pada AG 2010, empat emas yang diraih hanya dari dua cabang olahraga. Perahu Naga menyumbang tiga emas dari nomor 1000 meter, 500 meter, dan 250 meter. Satu medali emas lagi diraih cabang bulu tangkis dengan ganda campuran Markis Kido dan Hendra Setiawan. Sementara, edisi kali ini medali emas direngkuh lewat tiga cabang berbeda. Bulu Tangkis melalui ganda putri (Greysia Polii dan Nitya Krishinda) serta ganda putra (Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan). Lalu, cabang atletik (Maria Natalia Londa) dan Wushu (Juwita Niza Wasni). Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan cabang Perahu Naga? Bagi saya, ini yang menjadi pengurai dari simpul kusut penyebab stigma "terpuruknya" prestasi olahraga Indonesia di AG 2014. Pasalnya, cabang Perahu Naga memang tidak dipertandingkan. Kenapa? Sebab, itu sesuai dengan sidang Dewan Olimpiade Asia (OCA) di Incheon, 5 Januari lalu. Salah satu alasan tidak diadakannya pertandingan cabang Perahu Naga karena keinginan dari panitia lokal (Korea Selatan). Wajar, dalam sebuah event olahraga seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade, tuan rumah memang seperti memiliki "hak veto". Tentu, Indonesia boleh "membalasnya" saat menjadi tuan rumah pada AG 2018 dengan menurunkan cabang andalan yang saat ini tidak dipertandingkan dan berpotensi mendulang banyak emas, misalnya Pencak Silat.

*      *      *

Jadi, jelas, sebenarnya secara prestasi olahraga Indonesia tidak mengalami penurunan di AG 2014. Bahkan sebaliknya, menurut saya, prestasi "wakil rakyat" kita malah semakin meningkat. Itu dapat dilihat dari sumbangsih cabang Atletik dan Wushu yang tak disangka-sangka, namun malah sukses mengerek bendera merah putih ke tiang tertinggi di Incheon. Secara hitung-hitungan kasarnya, tanpa Perahu Naga pun, Indonesia bisa meraih empat medali emas. Bagaimana jika cabang tersebut ikut diikut sertakan? Pasti, kita bisa meraih minimal tujuh medali emas atau lebih. Bukankah, Indonesia merupakan "raksasa" di cabang Perahu Emas yang membuat negara seperti Tiongkok pun sempat khawatir. Fakta itu yang akan dijadikan andalan untuk kontingen Indonesia agar memasukkan cabang seperti Perahu Naga dan Pencak Silat. Jika dua cabang tersebut dimasukkan serta dukungan "luar biasa" dari penonton, bukan mustahil makin banyak bendera merah putih yang berkibar di tiang tertinggi. Tentu, kita tidak memasang target muluk-muluk menjadi runner-up seperti mengulangi pencapaian pada AG 1962 yang digelar di Jakarta dengan total 51 medali (11, 12, 28). Melainkan, kontingen kita cukup menempati posisi lima besar supaya Indonesia tidak hanya dikenal berhasil sebagai penyelenggara (tuan rumah), tapi juga sebagai peserta. Jika tercapai, itu akan membuat ratusan juta rakyat Indonesia menjadi bangga menyaksikan sang saka merah putih berkibar dan merinding ketika menyanyikan lagu "Indonesia Raya".

*      *      *

Artikel Sebelumnya: - Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu

Referensi: - Situs resmi AG 2014 - Fluktuasi Indonesia di AG

*      *      *

- Cengkareng, 6 Oktober 2014

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x