Mohon tunggu...
Robbi Gandamana
Robbi Gandamana Mohon Tunggu... ilustrator

Bukan penulis dan pemburu reward. Hanya penggembira yang mencoba mewarnai dunia

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Aibon to Break Free

5 November 2019   17:37 Diperbarui: 5 November 2019   20:19 0 8 2 Mohon Tunggu...
Aibon to Break Free
ilustrasi: shutterstock

Kedewasaan seseorang itu bisa dilihat dari sikapnya saat menghadapi orang yang nggak asyik. Misalnya bagaimana dia menjawab komen reseh, misuh, atau apa pun komen yang nylekit di medsos.

Komen di medsos kok diseriusi, kalau berani ya ketemuan di dunia nyata. Kalau sudah kebablasan (nyinggung sara) ya tinggal di-screenshot, viralkan, biar dicyduk aparat.

Debat di medsos itu mubazir. Tiwas ndasmu pecah. Aku gak melok-melok. Apalagi dengan debater tipe kuntilanak (suka tertawa) : "..hahaha...lha kamu nganu hahaha... makanya pakai anumu hahahaha.."

Asli menyebalkan. Padahal di dunia nyata sama sekali nggak tertawa. Malah sebaliknya, ngamuk pol, mukanya merah menyala iso gawe nyumet rokok.

Dia memang sengaja tertawa untuk mendongkrak emosi lawan debatnya. Makane ojok diladeni. Pernah sekali aku ngeladeni orang seperti itu. Akibatnya, seharian aku jadi bad mood, males nggambar. Wasyu ok.

Aku nulis begini nggak ada maksud sok dewasa. Gak rek, aku durung iso dewasa. Sik seneng misuh-misuh. Konon lelaki itu nggak bisa benar-benar dewasa. Tapi minimal berusaha dewasa. Belajar berendah hati dengan perbedaan. Nggak golek menange dewe.

Pesene Simbah, jangan pernah merasa menang di dalam kehidupan. Jangan pernah kecil hati disebut kalah. Menang dan kalah tidak begitu hakikatnya. Kemenangan di dunia itu semu. Dan dalam konteks kehidupan, manusia diciptakan tidak untuk mengalahkan manusia lainnya.

Tentu saja dalam olahraga atau yang lain memang harus ada yang kalah dan menang. Kalau kalah sportif, kalau menang tidak merendahkan. Optimis oke saja, tapi jangan merasa paling hebat. Juga tidak rendah diri. Sak madyo ae.

Debat itu nggak ada yang kalah. Yang ada ngalah. Kalaupun (seolah-olah) menang itu karena kuat ngotot. Nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran itu relatif dan dinamis. Semua tergantung sikon dan kesepakatan. Kebenaran nggak kayak matematika, dua ditambah dua pasti empat. Nggak mungkin lima.

Makane nek mbelani Capres ojok nemen-nemen. Lha wong kebenaran agama saja relatif apalagi politik. Tiwas awakmu mbelani Prabowo sampek kelangan konco karo dulur, ternyata gabung dengan Jokowi. Padahal sudah terlanjur berkoar-koar dimana-mana kalau anti Jokowi. Taek.

Jangan terlalu membela Jokowi, Prabowo atau tokoh yang lain. Orang yang terlalu membela itu sebenarnya sakit secara psikis. Mereka itu bisa dikatakan sudah mati dalam hidupnya. Lha gendeng kok, sudah nggak bisa obyektif lagi.  Jagoannya dibela terus, apa pun kelakuannya pasti dijempol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x