Robbi Gandamana
Robbi Gandamana swasta

tak perduli..jika dengan menulis ini tak menjadikanku apa-apa...tapi setidaknya aku sudah memberi warna pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Kita Tidak Sedang Piknik di Bulan Ramadhan

16 Mei 2018   10:52 Diperbarui: 16 Mei 2018   16:41 384 5 4
Kita Tidak Sedang Piknik di Bulan Ramadhan
dokpri


Kalau ada yang marah dengan status di atas, itu karena terbiasa berpikir lurus. Bulan puasa memang bulan penderitaan. Kalian pikir bulan puasa itu bulan piknik? Nggak lah. Di bulan ini kita digembleng, dibikin 'babak belur', di-Ospek Tuhan. Di bulan ini setan dirantai oleh lapar kita. Karena perut kenyang adalah sumber dari segala nafsu.

Siang hari lapar, malamnya Terawih, tidur belum pulas sudah harus bangun untuk sahur. Begitu terus sebulan, sampai kita benar-benar paham apa yang namanya penderitaan. Betapa selama ini kita ternyata manja. Tiap hari piknik kuliner, badokan tok ae raimu. 

Walaupun menderita (lapar) selama sebulan, tapi puasa Ramadhan itu cuman mencicipi penderitaan. Lapar kita di bulan itu bukan laparnya wong mbambung---> orang yang terpaksa lapar karena nggak ada makanan, nggak jelas kapan sahur dan berbuka.

Di ujung penderitaan bercampur nikmat dan haru itu akhirnya kita benar-benar takjub akan nikmat luar biasa yang diberikan Allah. Dan akhirnya takbir "Allahu Akbar!"----makanya takbir saat demo atau kampanye itu wagu, nggak ada apa-apa kok teriak takbir. Tuhan diajak kampanye---.

Lagian kita berpuasa di bulan Ramadhan itu pun karena perintah wajib. Kalau nggak diwajibkan bakalan nggak ada yang puasa. Ala raimu, ngaku ae. Secara kodrati manusia itu lebih suka kenyang daripada lapar.

Jadi sebenarnya nggak ada manusia yang suka puasa. Kalau ada yang melakukan puasa (di luar Ramadhan) itu karena untuk tujuan kesehatan, karena puasa terbukti menyehatkan. Sama halnya dengan orang yang minum jamu, walau pahit tapi tetap diminum karena dia paham manfaatnya. Jadi bukan karena suka. T : T

Juga, orang mau melakukan puasa itu karena ngincer pahalanya yang berlimpah. Kalau nggak ada pahalanya, bakalan aras-arasen menjalankannya. Itu lah manusia, puasa karena ada maunya, "Ya Alloh, saya puasa Senin Kemis, jadikan saya PNS..". Oke kalau itu maumu Ndes..

Orang yang hebat adalah yang mau melakukan perbuatan berat yang tidak disukai tapi dilakukan dengan ikhlas karena tahu itu bermanfaat atau baik bagi dia.  Apa hebatnya kalau ada orang melakukan sesuatu hal karena memang suka pada hal tersebut. Jadi kalau kita nggak suka puasa tapi tetap melakukannya dengan ikhlas karena Allah, itu hebat.

Jadi mari kita sama-sama teriak, "Aku nggak suka puasa!!!!!!" (tapi jangan ditambahi : "diakali wong Arab!").

Tuhan itu mengayomi hambaNya. Segala perintahNya untuk kebaikan manusia, bukan untuk Dia. Manusia mau puasa atau enggak, no problem bagi Dia. Tuhan tidak gila hormat. Dan Tuhan sama sekali tidak merepotkan hambaNya (dibandingkan segala nikmat yang diberikan pada manusia), manusia saja yang manja. Dia cuman menunjukan cara hidup yang baik dan sehat.

Menurut dokter Paulus Adrian dari Jogja (dulu sempat viral), tubuh kita diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim yang  populer disebut enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk dan yang lama dibuang.  Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali. Ketika berpuasa itu lah regenerasi sel berlangsung dengan optimal. Makanya orang puasa sebulan itu bisa jadi detoksifikasi (pencegahan sekaligus penyembuhan) yang ampuh terhadap berbagai penyakit.

Maka, berpuasalah.


- Robbi Gandamana -