Mohon tunggu...
Rizky Afriono
Rizky Afriono Mohon Tunggu... -

Saya adalah orang Indonesia biasa yang bangga menjadi bangsa Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Nusantara Tenggara Barat Riwayatmu

14 Desember 2013   20:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:55 164 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

A.Pendahuluan

Dibalik pantai-pantainya yang indah dengan latar belakang anggunya gunung-gunung yang menjulang ditanahnya, agaknya Nusa Tenggara khususnya Nusa Tengggara Barat atau sering disingkat dengan sebutan NTB adalah tempat dimana peradaban manusia bertemu dengan kekuatan alam yang menciptakan kehidupan yang harmonis dari masa ke masa. Berawal dari penyebaran manusia dimuka bumi dengan mengikuti hewan buruan hingga pelaut-pelaut tanggguh bangsa Austronesia dari Asia Timur yang menjelajahi lautan hingga mencapai pantai-pantai di Benua Amerika bagian selatan. Bersamaan dengan masa-masaPrimus Interpares hingga masa pembentukan kerajaan-kerajaan kecilyang silih berganti. Namun tidak seperti daerah lain di Nusantara bahkan di dunia NTB memiliki keunikan, karena hasil letusan dahsyat Gunung Rinjani (1257 M) dan Gunung Tambora (1815 M) menjadikan debu erupsi dahsyat tersebut seperti semen alami yang menjaga kelestarian peradaban manusia yang terkubur didalamnya. Oleh sebab itu tidaklah salah bila sebagian ahli sejarah dan arkeolog menyebut Nusa Tenggara Barat sebagai laboratorium peradaban manusia.

1.Zaman Modern Awal

Zaman modern awal berlangsung 60 Juta tahun yang lalu, pada zaman ini dibagi menjadi duayaitu zaman tersier dan zaman kwarter . Zaman tersier ditandai dengan munculnya hewan-hewan menyusui dan hominidae (mahluk menyerupai manusia modern) serta berkurangnya reptile-reptile besar.Zaman selanjutnya adalah zaman yang terpenting dalam kehidupan manusia yaitu zaman keempat atau pada masa geologi disebut masa dilivium / pleistosen yang berlangsung selama 600.000 tahun, pada masa inilah manusia modern (Homo Sapiens) muncul. Di Eropa, Asia dan Afrika pada akhir masa pleistosen berdasarkan penelitian arkeologi banyak ditemukan artefak, ekofak dan fitur yang menggambarkan sistem religi mulai berkembang, seperti rock art di goa-goa Perancis selatan. Di Indonesia sendiri penggambaran religi semacam ini banyak ditemui di Papua Timur di Kepulauan Fak-Fak berupa cap-cap telapak tangan berwarna merah, daerah lainya yang menggambarkan kehidupan masyarakat prasejarah berada di Kepulauan Nusa Tenggara di Goa Liang Bua Nusa Tenggara Timur dengan temuan berupa beliung persegi,gerabah (periuk, kendi, pedupaan dan pecah-pecahan), alat serpih, tulang hewan, arang dan moluska.

Peninggalan ini menandakan penyebaran manusia pertama ke kepulauan Nusantara,berawal dari migrasi ras australomenasoid yang masuk melalui semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Nusatenggara dan Papua. Di Sumatera mereka meninggalkan jejak kebudayaan berupa sampah dapur kulit kerang (kjoken modinger),di Jawa didaerah wajak banyak ditemukan alat serpihdan kerangka manusia Homo Wajakensis, di Nusatenggara di Liang Bua alat-alat perundagian dan di Papua Timur ditemukan banyak karya seni batu (rock art). Migrasi australomenasoid melalui jalan darat, selain karena mengikuti hewan buruan, hal ini juga diakibatkan oleh masa zaman es glasiasi yang mengakibatkanturunya permukaan laut yang membuat daratan-daratan semakin luas sehingga menyebabkan terhubungkanya beberapa daratan yang dahulunya terpisah. Setelah masa interglasiasi masa pencairan es ditandai dengan peningkatan ketinggian air laut yang menyebabkan pengurangan luas wilayah daratan dan munculnya pulau-pulau dan kepulauan baru.

Pada masa ini hominidae pertama yang melalui jalan daratan menuju Kepulauan Nusantara menghasilkan meganthropus paleojavanicus dan pithecanthropus mojokertensis yang sisa-sisa peninggalanya ada pada Pulau Jawa bagian timur. Pada tahun 2011 ditemukan manusia hobit di kepulauan Sunda Kecil dan Nusa Tenggara. Sebenarnya mereka seperti halnya komodo yang mengalami proses pengkerdilan selama ratusan ribuan tahun sehingga menjadi mengecil, tinggi sebenarnya homidae ini rata-rata 2 meter namun ketika tiba di kepulauan Nusa Tenggara menjadi terisolasi dan menjadi kecil dengan ukuran tinggi rata-rata kerangka dewasa 1 m. Manusia Moderen Australemanosoid melalui jalan barat mengikuti Semenanjung Malaya, melalu Sumatera, Jawa dan tiba di Nusa Tenggara. Ras Australemanesaoid ini pada saat ini menjadi penduduk mayoritas Pulau Papua dan sekitarnya.

Suku bangsa lainya yang menyebar adalah sukus bangsa asutronesia yang terkenal sebagi pelaut-pelaut ulung. Suku bangsa ini memasuki Kepulauan Nusantara melalui jalan timur yaitu Taiwan, Philipina, Sulawesi dan berakhir di Nusatenggara dan jalur kedua Taiwan, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil Hal ini terlihat dari jejak-jejak kebudayaan seperti adanya penemuan Nekara tipe Heger yang secara atributif sama dengan nekara yang ditemukan didaratan Asia sehingga beberapa teori berpendapat bahwa nekara ini dibawa dari daratan Asia. Kedatangan manusia ke kepulauan Nusa Tenggara seperti hal-halnya perkembangan kebudayaan di nusantara, pada awalnya mereka menempati pinggir-pinggir pantai tempat pertemuan laut dengan air sungai pemilihan lokasi ini beradasarkan prinsip dasar kehidupan yaitu memilih lingkungan yang dapat menopang kehidpan dasar seperti sumber makanan dan air bersih.

Gambar 1. Nekara tipe Heger I dari Pulau Sangeang, Nusa Tenggara Barat

Maka berkembanglah desa-desa kecil dipinggir pantai dikepulauan Nusa Tenggara, mereka memakai prinsip dasar primus interpares (yang terkuat menjadi pemimpin dikelompoknya). Hal ini dapat terlihat hingga sekarang di Nusa Tenggara Timur dalam proses pemburuan Paus di Lamalera, dimana pemimpin perburuan dipilih penombak terbaik dan terkuat dari kelompok tersebut. Jadi dapatlah kita simpulkan bahwa pemukiman pertama Nusa Tenggara berada di pinggir pantai.Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan menggunakan kajian toponimi (sejarah penamaan suatu daerah), seperti di Semenanjung Malaya pemukiman pertama dapat dikatakan berawal kata kuala yang berarti daerah rawa pinggir pantai. Di Sumatera pemukiman awal bernama luhak yang biasanya berada di persimpangan dua sungai besar , seperti luhak tanah datar.Di Pulau Jawa seperti Hyang, Parahyangan yang berarti sesuatu asal mula yang tinggi dan suci.

2.Zaman Kerajaan-Kerajaan Kuna

Zaman protosejarah di NTB berawal dari penulisan-penulisan karya-karya mpu (orang yang ahli membuat keris) kerajaan-kerajaan Sumatera dan kerajaanJawa yang menyebutkan kata-kata Lombok, Mirah, Taliwang, Saksak, Dompo, Bima dan Sapi. Sebagai daerah nusantara (seberang pulau Jawa), hal ini berawal dari konsepsiimperium Majapahit pada abad ke-12 M dalam membagi wilayah-wilayah kekuasaanya yang terdiri dari berbagai kerajaan-kerajaan kecil dan banyak kepulauan.Konsepsi penyebaran imperium berawal dari mpu sindok mulai melakukan penaklukan ke wilayah Bali dan Sunda Kecil pada abad ke 10. Masyarakat lokal Nusa Tenggara yang sudah hidup dan menetap selama ribuan tahun dipaksa menerima konsepsi baru dari Pulau Jawa yaitu agama Hindu dan Buddha. Hal ini kedepanya sangat mempengaruhi corak kerajaan-kerajaan yang berdiri di Nusa Tenggara sama dengan kerajaan-kerajaan yang tumbuh di Sumatera dan Jawa.

Masyarakat Nusa Tenggara khususnya masyarakat Nusa Tenggara Barat, memiliki local genius yang sangat kental dimana unsur-unsur dasar kebudayaan diserap dan disesuaikan dengan akar kebudayaan yang sudah ada. Sehingga munculah hasil-hasil kebudayaan baru seperti huruf sasak yang berkembang dari huruf kawi, dan hasil-hasil karya sastra yang mengadopsi karya sastra Jawa dan Sumatera. Sehingga banyak cerita-cerita dan hikayat yang sudah hilang di Sumatera dan Jawa namun masih dapat ditemukan di Nusa Tengara Bara namun dengan versi yang sedikit berbeda. Pada abad ke-13 Gunung Salamas (red. Sekarang Rinjani) meletus dengan dahsyat, hal ini memaksa Pulau Jawa melakukan dekolonisasi ulang di Nusa Tengara Barat karena, kerajaan-kerajaan kecil (vandal) yang sudah berdiri sebelumnya hancur dan penduduknya tercerai berai. Pada masa Majapahitlah, dimana Nusa Tenggara Barat dapat di katakan sebagai bagian resmi inti dari kerajaan Majapahit, bukan daerah perdikan, taklukan atau diluar Pulau Jawa.

13870291252021413167
13870291252021413167

Gambar 2 Wilayah Kekuasaan Majapahi Abad Ke-14

Nusa Tenggara Barat pada saat masa Islam abad ke-14 sangatlah unik dimana, Banyuwangi (Kerajaan Blambangan), Bali adalah daerah-daerah yang masih mempertahankan corak kerajaan Hindunya. Sedangkan Nusa Tengara Barat mulai menerima konsepsi keagamaan baru yaitu Islam, hal ini membuat kondisi Nusa Tenggara Barat menjadi daerah perebutan kekuasaan antara Kerajaan Belambangan dan Kerajaan Bali melawan kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri di Nusantara seperti Demak di Jawa dan Gowa di Sulawesi. Pusat-pusat pendidikan keagamaan di Nusa Tenggara mengikuti pola perkembangan di Pulau Jawa dari mandala (pada masa Hindu) menjadi pesantren (pada masa Islam). Paham-paham Islam yang masuk ke Nusa Tenggara sangatlah beragam dari ajaran sinkrentisme antara Hindu dan Islam, aliran Syiah dan aliran Sunni. Hal ini menyebabkan masyarakat Nusa Tenggara Barat sangatlah dinamis dan terbuka akan berbagai pemikiran baru. Namun ketaatan beragama masyarakat Nusa Tenggara sejak zaman Hindu hingga masa Islam sangatlah terlihat dari banyaknya hasil karya sastra keagamaan baik Hindu maupun Islam, jejak-jejak pembentukan mandala-mandala dan pesantren-pesantren yang masih terlihat hingga sekarang dan berkembang pesat.

Rizky Afriono

Penulis Alumni Arkeologi UI Tahun 2011

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan