Mohon tunggu...
Rizki Maheng
Rizki Maheng Mohon Tunggu... Football Blogger - visit my Blog at www.pengamatbola.id

Rizki Maheng adalah seorang Football Blogger atau Blogger Pengamat Bola yang mulai rutin menulis ulasan sepakbola sejak 2012. Sebagai Football Blogger, Rizki Maheng pernah rutin tampil sebagai Analis dalam Program Football Insight yang tayang di Berita Satu TV. Ulasan Rizki Maheng bisa dibaca di Blog pengamatbola.id atau didengarkan via Channel Podcast Bung Rizma

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kalah dari Vietnam, Cuma Satu Kata: Menyedihkan

15 Oktober 2019   23:52 Diperbarui: 15 Oktober 2019   23:53 0 4 2 Mohon Tunggu...

Cuma satu kata, menyedihkan. Ya, pemandangan timnas Indonesia dikalahkan 1-3 oleh Vietnam dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (15/10/19) adalah sebuah tontonan menyedihkan. Skuad asuhan Simon McMenemy takluk di kandang sendiri tanpa bisa benar-benar memberikan perlawanan yang pantas.

Padahal sebelum laga digelar, timnas Indonesia diliputi optimisme berbekal statistik pertemuan yang positif. Tercatat Indonesia dan Vietnam sudah 23 kali bertemu sejak 1991 dimana Indonesia menang 9 kali, hanya kalah 5 kali dan sisa laga berakhir imbang. Dua pertemuan terakhir di AFF 2016 pun berakhir manis dengan kemenangan 2-1 di Stadion Pakansari Cibinong, Bogor dan hasil imbang 2-2 di kandang Vietnam, Stadion Nasional My Dinh, Hanoi.

Optimisme makin menebal ketika melihat rekam jejak juru taktik tim Garuda, Simon McMenemy. "Saya punya rekor bagus melawan Vietnam dan juga belum pernah kalah di Dipta" ujar McMenemy dikutip dari Bolacom. Bersama tim sekelas Filipina, McMenemy mengalahkan Vietnam di kandangnya dengan skor 2-0 pada gelaran AFF 2010. Pria Skotlandia itu juga selalu menang dalam dua laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta saat menangani Bhayangkara FC.

Namun semua optimisme itu tak berbekas samasekali diatas lapangan. Penampilan Evan Dimas dkk saat menjamu Vietnam teramat buruk, sangat buruk. Entah karena faktor mental down akibat sudah kalah tiga kali beruntun dan sadar bahwa performa timnas senior sedang mendapat sorotan tajam, permainan anak asuh Simon McMenemy jauh dari kata memuaskan, apalagi untuk dimaklumi.

Tidak terlihat koordinasi permainan yang rapi. Saat memegang bola, tim Garuda seperti tidak punya strategi penyerangan yang matang. Umpan-umpan tidak akurat dan kegagalan mengontrol bola dengan baik jadi pemandangan rutin dari timnas di laga ini. Parahnya, tiap kali kehilangan bola, Vietnam bisa begitu mudah mengalirkan bola dari belakang ke tengah sampai kedepan. Singkat cerita, Indonesia di laga ini bingung menyusun serangan dan gelagapan saat diserang.

Usai kalah dari UEA, McMenemy sesungguhnya sudah mencoba memberikan sentuhan perbaikan menghadapi laga ini. Tercatat sembilan perubahan pada starter awal dari skuad yang kalah melawan UEA diterapkannya. Hanya Rudolof Yanto Basna dan Beto Goncalves saja yang masih bertahan dalam sebelas awal. Sisanya, M Ridho, Putu Gede, Abduh Lestaluhu, Otavio Dutra, Bayu Pradana, Evan Dimas, Saddil Ramdani sampai Riko Simanjuntak kembali mengisi skuad utama. Dalam formasi 4-2-3-1, McMenemy ingin memberikan keseimbangan pada permainan tim Merah Putih.

Sangat disayangkan, strategi tidak berjalan dengan baik melawan Vietnam yang terlihat menerapkan formasi 3-4-3. Duo bek sayap Putu Gede dan Abduh Lestaluhu gagal menampilkan sinergi dengan gelandang serang sayap yang dihuni Saddil dan Riko. Alhasil serangan sayap yang biasanya jadi senjata andalan timnas Indonesia gampang saja diredam oleh sayap-sayap Vietnam.

Buntu disayap, Evan Dimas dan Stefano Lilipaly di tengah juga tidak bisa berbuat banyak mengkreasi serangan. Pressure yang dilancarkan gelandang-gelandang Vietnam membuat Evan dan Lilipaly sulit membangun serangan lewat permainan umpan dari kaki ke kaki. Bayu yang bertugas jadi gelandang petarung untuk memenangkan bola gagal memberikan ruang bagi gelandang kreator serangan seperti Evan dan Lilipaly untuk berkreasi.

Buntu disayap, mati ditengah. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya, umpan-umpan lambung dan jauh menjadi pilihan awak timnas untuk menghadirkan bola di wilayah pertahanan Vietnam. Keputusan fatal karena serangan timnas jadi mudah dipatahkan. Beto lantas terasingkan di lini depan. Penyerang naturalisasi itu bahkan sampai harus beberapa kali turun ke bawah untuk menjemput bola.

Hal yang paling menyakitkan dari semua ini adalah, ketiga gol yang bersarang ke gawang timnas berawal dari momen-momen yang seharusnya tidak terjadi. Gol pertama dipicu dari kegagalan pertahanan timnas mengamankan umpan lambung ke depan mulut gawang. Sialnya, Yanto Basna yang seharusnya bisa mengamankan bola malah gagal mengontrol si kulit bundar tepat di muka gawang. Pemandangan empuk untuk gol pertama Vietnam.

Nama Yanto Basna kembali jadi "headline" pada gol kedua dan ketiga Vietnam. Pada gol kedua, pemain yang dipercayakan ban kapten tersebut melakukan sliding tackle di dalam kotak terlarang dan memicu keputusan penalti. Dirinya kembali jadi sorotan pada gol ketiga Vietnam. Kegagalannya mengantisipasi umpan terobosan ke daerah pertahanan Merah Putih membuat situasi satu lawan satu Nguyen Tien Linh melawan M. Ridho.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2