Sosbud

Internet Sehat untuk Generasi Hebat di Tengah Hiruk Pikuk Pemilu 2019

23 April 2019   23:27 Diperbarui: 23 April 2019   23:36 9 0 0

Internet mungkin sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita. Pada masa modern sekarang ini kemudahan akses internet semakin tidak terbatas. Internet sendiri merupakan jariangan komputer yang terhubung secara global. 

Dengan menggunakan internet kita bisa mencari informasi dan menyebarluaskan informasi dengan cepat dan bersifat menyeluruh. Tidak hanya itu, internet berkembang menjadi alat transaksi, pendidikan, juga hiburan bahkan bisa menjadi alat penghakiman atau pembully-an.

Pengguna internet pada tahun 2017 di Indonesia mencapai 54,7 persen dari total penduduk indonesia, demikian menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Hal ini tidak bisa dipunkiri lagi bahwa manusia kian tergantung dengan internet, termasuk anak-anak sekalipun. 

Mereka sudah sangat akrab dengan yang namanya internet, mereka lahir ditengah pesatnya kemajuan teknologi, anak umur lima tahunpun sudah bisa membuka tontonan di youtube, anak SD dan SMP sudah mahir menunjukkan diri di sosial media dengan up date status di facebook, intagram, whats app, dan lainnya. 

Bahkan seorang bayi yang baru lahirpun sudah mendapat akun sosial medianya sendiri yang dibuatkan oleh orang tuanya. Tidak heran banyak sekali pelanggarran-pelanggaran yang terjadi dalam dunia maya. Oleh sebab itu perlu adanya penggunaan internet secara sehat.

Internet sehat merupakan cara berperilaku yang beretika saat mengakses suatu informasi di internet. Pengguna internet yang sehat tidak melakukan aktifitas yang melanggar hukum dan norma seperti pelanggaran hak cipta, mengakses konten negatif seperti pornografi, cyber bullying (penghinaan dan kata-kata kasar di internet), penghinaan dan pelecehan SARA, dan lainnya. 

Program internet sehat ini sendiri pertama kali dicanangkan oleh Kementrian komunikasi dan informatika. Internet sehat ada bukan berarti internet sedang sakit dan butuh untuk diobati, namun karena adanya aktifitas seperti yang sudah disebutkan di atas. Dengan tujuan agar dapat mengurangi dampak negatif dari penggunaan internet itu sendiri.

Seperti yang kita ketahui, kita baru saja menjalani pesta demokrasi yaitu Pemilu (pemilihan umum) yang sangat meriah. Namun kemeriahannya tidak cukup sampai disitu saja, di sosial media masih ramai akan debat siapa menang dan siapa yang kalah, disini kita bisa melihat adu mulut antar pendukung para paslon yang berbeda, saling menjatuhkan satu sama lain, dan lain sebagainya. 

Namun, apakah kita pernah berfikir kalau kicauan ria yang terlontar itu bisa berdampak buruk bagi generasi penerus bangsa ?. Kita tidak menyadari kalau anak-anak pun bisa mengaksesnya dengan mudah, dan sekarang apakah kita harus menyalahkan anak yang ikut-ikutan dalam pembicaraan dewasa ini ?.

Memang tidak ada salahnya mengeluarkan pendapat di sosial media, karena kita merupakan negara demokrasi yang dibebaskan untuk berpendapat. Namun juga kita harus memperhatikan etika dalam berbahasa, jangan semena-mena menggunakan kata-kata yang kasar dan tidak sepatutunya di lontarkan oleh mulut manis seorang netizen. 

Karena perlu kita ketahui bahwa yang mengakses internet itu bukan hanya orang dewasa saja, melainkan anak- anak yang masih dibawah umur, yang tidak bisa membedakan yang mana harus diikuti atau tidak, dan juga salah atau benar informasi masih ditelan mentah-mentah

Pemikiran yang masih kekanak-kanakan bisa membuat mereka terjerumus mengikuti tingkah laku orang dewasa, anak-anak yang masih polos akan ikut meramaikan sosial media mereka dengan pembahasan politik yang mereka sendiri tidak tau kebenarannya. 

Dan selanjutnya akan timbul perbedaan pendapat, kemudian saling mengejek satu sama lain dan akan menimbulkan pertengkaran antar anak. Dan bisa membuat psikologi anak terganggu akibat dari saling bully tersebut.

Ini bukanlah salah anak. Pada hakikatnya anak akan menirukan sesuatu yang dilihat dari orang yang dianggap lebih dewasa dari mereka. Oleh sebab itu perlu adanya tindakan internet sehat dari para pengguna internet yang budiman. 

Sebelum mengekspos sesuatu perlu adanya pertimbangan, apakah memang benar-benar aman untuk diakses oleh siapa saja, atau bisa menggunakan penjelasan batasan umur berapa saja yang boleh mengakses data atau informasi tersebut, dan ada baiknya kata-kata yang digunakan di saring terlebih dahulu, jangan terdapat kata-kata bullying ataupun penghinaan yang berbau SARA. Sehingga anak-anak akan lebih aman berselancar di dunia maya.

Peran orang tua juga sangat penting untuk menuntun anak dalam menggunakan internet dengan sehat dan aman. Orang tua perlu mengontrol aktifitas anak, jangan terlalu memberikan kebebasan dalam berinternet, bila perlu beri batasan waktu untuk mengakses internet, misalnya 60 menit saja dalam sehari. 

Sebagai orang tua juga perlu menjadi sahabat anak, tempat anak menjadi nyaman bercerita apa saja yang mereka lakukan, sehingga akan mudah mengontrol aktifitas anak. Tentu saja dalam hal ini para orang tua harus mengenali prilaku apa saja yang  dilakukan yang sesuai dengan umur anak-anak mereka.

Pada usia 4 sampai 10 tahun, anak akan sangat aktif dalam melakukan eksplorasi, orang tua harus membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di internet, pengawasan secara exstra perlu dilakukan, seperti ketika anak mengakses internet harus ditemani dan diarahkan oleh orang yang lebih dewasa.

Usia 10 sampai 14 tahun, anak mulai ingin memiliki kebebasan lebih, karena sudah memasuki tahap pra remaja yang sudah memiliki nalar berfikir untuk menjalani interaksi yang lebih luas yaitu dengan pertemanan. 

Tentu saja tak luput dalam pengawasan orang tua, meski tidak diawasi secara langsung namun bisa menggunakan aplikasi yang menunjang untuk menyaring konten yang tidak baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2