rizkaita
rizkaita

Mari berbicara lewat barisan kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Terlalu Tampan", Pengingat untuk Meninggalkan yang Tidak Perlu

11 Februari 2019   23:17 Diperbarui: 12 Februari 2019   07:43 34 0 0
"Terlalu Tampan", Pengingat untuk Meninggalkan yang Tidak Perlu
Poster Film Terlalu Tampan. Sumber: IMDB

Orang Indonesia sudah dikenal pintar memanfaatkan sesuatu yang sedang hangat dibahas. Kesempatan ini juga yang diambil Sabrina Rochelle Kalangie selaku sutradara. Bersama Rosita Anandia selaku produser, mereka mengadaptasi cerita yang dibaca jutaan orang di Indonesia sejak tahun 2017. Film ini menggunakan alur maju dengan perkenalan tokoh yang tak terburu-buru. Jadi, saya yang tak membaca komik daringnya pun bisa berkenalan dengan karakter tokoh tanpa kebingungan.

Tapi keduanya tak lantas rakus menaruh segala aspek di komik besutan Avisiena dan Savenia. Tokoh keluarga Kulin sebagai pusat cerita isinya memang tampan semua. Bahkan Iis Dahlia sebagai Bu Suk juga sengaja didandani untuk hingga gari tegas wajahnya memperlihatkan ketampanan. Tapi ketampanan keluarga ini tak cukup terlalu, sebab peran Okis bagi saya hanya sampai di terlalu tengil. Ya namanya kemungkinan genetis kan ya.

Kulin yang berada di tingkat terakhir SMA diceritakan tak pernah keluar dari rumah. Ia terlalu takut pergi ke sekolah. Bahkan hanya untuk keluar rumah, ia memilih mengenakan helm. Adegan ini mengingatkan saya dengan film Wander. Kedua tokoh mengalami hal yang sama, takut terlalu menarik perhatian. Hal-hal seperti ini sebenarnya umum terjadi di masa remaja. Bahkan kadang terbawa sampai dewasa. Ngaku deh, sering dari kita merasa punya satu hal spesial dalam diri yang rasanya cuma kita yang mengalami.

Beberapa dari kita tak berani membuka diri atau kebalikannya. Kita tak jarang jadi merasa Maha atau paling, seperti Amanda dan Mas Okis yang diperankan oleh Nikita Willy dan Tarra Budiman. Oh jangan lupa genk 3Tak (Tri tak) juga masuk kategori kedua. Tenang saja, pilihan karakter tokoh di film ini juga diperluas oleh adanya Rachel Amanda sebagai Rere. Rere bersikap layaknya teman sebangku kita (saya, setidaknya). Ia tidak perlu ngartis untuk menjadi anak SMA walaupun punya pesona. Ia melihatmu sebagai manusia yang bukan hanya punya muka tapi juga jiwa.

Di dunia nyata, punya dua tipe teman yang kurang percaya diri atau sebaliknya memang agak merepotkan. Kita harus sabar-sabar 'membukakan pintu' untuk mereka untuk mau bergaul atau malah jadi orang suruhan mereka. Seperti yang dialami Kibo di film ini. Peran yang tidak dominan tapi menghangatkan seluruh jalan cerita. Lagi-lagi, Kibo juga jadi teman yang sifatnya tak jauh-jauh dari sahabat lama kita. Masih ingat siapa saja? Coba dihubungi sekarang.

Jika Wander membuat saya berkali-kali menangis, Film Terlalu Tampan membuat saya beberapa kali tertawa geli. Selain karena perbedaan genre, film ini memang sengaja menghadirkan efek dramatis seperti dalam komik. Tapi sekali lagi, dalam porsi cukup. Saya tak sampai merutuki efek paksaan yang tidak akan terjadi di dunia nyata jika ada cowok ganteng lewat depan saya. Meski tetap saja, saya lebih banyak tertawa karena dialog yang dilemparkan tokoh.

Film ini mampu menjadi kelanjutan popularitas komiknya yang selesai di awal tahun lalu. Sayangnya, entah mengapa saya hanya bersama sepuluh orang lain waktu menonton film ini. Visual pemain sepadan dengan komik, pengambilan gambar juga sesuai dengan emosi dialog. Cerita juga lucu sekaligus tak menggurui. Saya diingatkan untuk kembali membuka diri terlepas dari apa yang saya miliki saat ini. Memang sesuatu yang terlalu takkan membawa kita kemana-mana kan? Seperti film ini, teknis gambar, suara, hingga cerita membuat saya percaya film Indonesia punya masa depan cerah di hari kemudian.