Mohon tunggu...
RIYAN PRASETYO
RIYAN PRASETYO Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Mengurangi Miskonsepsi Materi Teori Evolusi dengan Metode Discovery Learning

2 Januari 2019   19:00 Diperbarui: 2 Januari 2019   19:20 473 0 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Salah satu cabang ilmu dalam pembelajaran biologi yaitu evolusi dianggap sebagai salah satu materi yang sulit di tingkat SMA saat ini karena sifatnya yang abstrak dan memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Sampai saat ini beberapa konsep dalam materi evolusi masih menjadi perdebatan untuk kebenarannya. Akan tetapi cabang ilmu biologi ini berperan penting dalam menjelaskan asal usul kehidupan dan hubungan antara makhluk hidup dengan macam kehidupan lain sehingga dapat berguna untuk pemahaman masa depan. Melalui cabang ilmu pembelajaran ini juga dapat membantu membangun konsep tentang sejarah adanya populasi dan komunikasi antar manusia (Adrianto, Candramila, & Ariyati, 2015).

Selain materi yang abstrak dan kompleks sehingga sulit dipahami, factor dari dalam diri atau internal individu juga menjadi penyebab sulitnya konsep materi evolusi dapat dipahami. Beberapa penelitian membuktikan bahwa terdapat rejecting atau penolakan terhadap teori yang dikemukakan dalam evolusi, baik dari pengajar (guru), siswa maupun masyarakat. Terbukti bahwa penolakan terhadap teori yang dikemukakan dalam evolusi menyebabkan siswa tidak memahami teori dan mendapat nilai yang tidak sesuai kriteria ketuntasan minimum. Penolakan terhadap teori ini akan menyebabkan siswa memiliki tingkat pemahaman terhadap materi evolusi rendah, kemudian akan timbul miskonsepsi, dan eror sehingga hal ini perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berpengaruh selama proses pembelajaran berlangsung dan pada tingkat pendidikan berikutnya (Adrianto et al., 2015).

Timbulnya miskonsepsi memang masih sering terjadi pada penyampaian teori evolusi di SMA sampai saat ini. hal ini disebabkan perbedaan tafsiran setiap orang yang berbeda satu sama lain terhadap satu konsep. Meskipun sebenarnya sebuah konsep dalam pembelajaran evolusi telah disepakati bersama oleh para ahli, kenyataannya masih terdapat perbedaan konsepsi antar individu. Hal ini juga dikuatkan d engan bukti bahwa konsepsi siswa di tingkat SMA juga berbeda dengan konsepsi para ahli yang lebih kompleks dan rumit. Miskonsepsi dalam pembelajaran evolusi di SMA muncul lebih banyak sebelum berlangsung proses pembelajaran bukan selama proses pembelajaran berlangsung yang disebabkan karena siswa telah membaa konsep awal sebelum ia memasuki proses pembelajaran yang disebut dengan prakonsepsi. Miskonsepsi yang berlangsung secara terus menerus ini dapat mengakibatkan turunnya prestasi belajar siswa, dan menjadikan pembelajran siswa kurang bermakna (Dina & Setiadi, 2018).

Miskonsepsi materi evolusi yang terjadi pada siswa disebabkan oleh pertama prakonsepsi awal dari siswa itu sendiri. Prakonsepsi merupakan konsep awal yang telah dimiliki siswa, konsep awal yang dibawa siswa dapat berasal dari tingkat pendidikan sebelumnya. Selanjutnya guru yang tidak memhami materi dengan baik atau kurang berkompeten juga menjadi penyebab munculnya miskonsepsi pada siswa. Bahan ajar yang digunakan siswa juga menjadi penyebab munculnya miskonsepsi, karena sumber belajar siswa SMA selain dari guru juga berpedoman pada bahan ajar atau buku teks. Metode mengajar yang digunakan oleh guru sangat berpengaruh pada tingkat miskonsepsi materi evolusi siswa di SMA, terutama jika guru hanya menggunakan metode ceramah di depan kelas tanpa interaksi yang intensif dengan siswa (Dina & Setiadi, 2018).

Miskonsepsi materi evolusi yang terjadi pada siswa SMA umunya sebagai berikut yang pertama evolusi hanya sebuah teori, dalam kehidupan setiap hari kata teori diartikan sebagai dugaan atau pendapat tanpa adanya bukti yang kuat. Namun pada kenyataannya untuk dapat dijadikan sutau teori, harus ada bukti yang kuat yang mendasari terlebih dahulu dan evolusi memiliki banyak bukti yang kuat dan diakui oleh para ahli. Kedua yaitu evolusi bersifat progresif, berbagai anggapan muncul bahwa makhluk hidup yang dapat bertahan dari seleksi alam hanyalah yang paling kuat, namun dalam evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup yang memiliki karakteristik sesuai dengan kondisi lingkungan bukan berarti harus yang paling kuat melaikan mampu menghasilkan keturunan ialah yang dapat bertahan dari seleksi alam. Ketiga evolusi hanya terjadi pada masa lalu, anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah atau keliru karena evolusi terjadi selama kehidupan masih berlangsung, bukti bahwa evolusi masih terjadi yaitu adanya resistensi antibiotic pada bakteri. Keempat yaitu filogeni adalah evolusi, sejatinya filogeni bukannlah evolusi karena filogeni hanya merujuk pada satu dari banyak fenomena evolusi yaitu pola penurunan dari induk sedangkan evolusi adalah konsep yang jauh lebih luas (Christyanti, 2015).

Penanganan terhadap miskonsepsi yang timbul dalam pembelajaran evolusi di SMA salah satu cara yang efektif yaitu penggunaan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode pembelajaran yang telah dibuktikan dengan penelitian dan memiliki hasil yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran evolusi yaitu dengan metode discovery learning. Dalam metode pembelajaran discovey learning siswa akan lebih aktif dalam memecahkan masalah untuk menemukan solusi dengan guru sebagai pemberi petunjuk terhadap permasalahan tersebut, sehingga pada akhir pembelajaran guru harus memberikan simpulan dari kegiatan yang dilakukan agar tidak terjadi miskonsepsi. Penelitian di lakukan pada siswa kelas XII IPA 1 di SMA Negeri 6 Bekasi dengan tiga tahap siklus yang berkelanjutan dalam penelitian, hasilnya yaitu terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari ketuntasan belajar siswa pada siklus pertama peningkatan sebesar 58%, siklus kedua sebesar 95% dan pada siklus ketiga ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Penerapan metode pembelajaran discovery learning ini memiliki pengaruh yang positif karena dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dilihat dari hasil wawancara dengan beberapa siswa dimana jawabannya rata-rata menyatakan bahwa dengan metode ini membuat siswa menjadi lebih tertarik dan berminat (Christyanti, 2015).

Daftar Pustaka :

Adrianto, O. M., Candramila, W., & Ariyati, E. (2015). Analisis Konsepsi dan Miskonsepsi Siswa Kelas XII IPA SMA Don Bosco Sanggau pada Materi Evolusi. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 6(4).

Christyanti, L. (2015). Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Biologi Materi Teori Evolusi Dengan Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Pada Siswa Kelas XII IPA1 Di SMA Negeri 6 Kota Bekasi. Jurnal Dinamika Pendidikan, 8(2), 102--109.

Dina, U., & Setiadi, A. E. (2018). MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI EVOLUSI KELAS XII IPA MADRASAH ALIYAH DI KABUPATEN KUBU RAYA. Jurnal Bioeducation, 5(1).

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan