Wanita

Hadiah Tidak Terbeli

3 Januari 2018   22:10 Diperbarui: 3 Januari 2018   22:19 460 0 0

Ada begitu banyak cara Ibu menunjukkan cintanya kepada saya dan adik --adik. Baik cara yang menyenangkan maupun menegangkan. Pun cara kami menyampaikan terima kasih kepada beliau. Ksatria Pertama yang sudah lihai dalam berbelanja online, hingga dengan sigap bernegosiasi dan menghasilkan sepaket peralatan kecantikan untuk Ibu atau perkakas rumah tangga lainnya. Ksatria Kedua yang dengan piawai membantu Ibu mengurus segala perkara ternak-ternak kami, dari pakan hingga kandangnya. Lalu Ksatria Ketiga yang sedia mengurus rumah, mulai bersih -- bersih lantai hingga piring -- piring kotor. Setidaknya, diusia beliau yang menginjak kepala empat, sudah ada empat sekawan yang siap mengabdikan diri untuk beliau.

Maka saya, putri satu -- satunya dari beliau. Tidak banyak yang kami lakukan untuk merayakan kebersamaan. Kami hanya melakukan hal-hal yang kebanyakan perempuan lakukan. Memasak bersama. Salah satu hadiah dari Ibu yang paling berharga adalah kesempatan belajar memasak dari beliau. Sebab disanalah, karir saya sebagai Ibu Rumah Tangga mulai disemai. ^^

Biasanya, kami akan melakukan sedikit diskusi perkara 'akan masak apa.' Lalu me-list bahan yang dibutuhkan dan kira -- kira pasar mana yang akan dituju. Well, proses yang paling menyenangkan ada di tahap belanja :D selain karena jalan -- jalan dan cuci mata, disaat berbelanjalah kami bebas bergandengan tangan. Agak kekanakan memang, tapi entahlah, bagi saya bergendengan tangan dengan Ibu dengan kaki kami yang berjalan beriringan ituuuu masha Allah nikmatnya. Bahagianya bisa pangkat banyak.

Kemudian sesampainya ditahap memasak bahan yang sudah dibeli, Ibu akan berlaku sebagai "diktator", bukan,,,bukan seperti pemimpin yang sangat otoriter dalam titah-titahnya :v maap. Maksud saya, dictator disini Ibu akan mendiktekan apa -- apa yang harus saya lakukan. Ya, mungkin mentor lebih tepat ya?

Dari bumbu apa yang harus di ulek atau diiris. Proses membersihkan bahan makanan. Kapan bahan -- bahan itu siap dimasukan ke alat masak. Dan yang pasti tingkat kematangan dan cita rasa beliau yang menentukan. Lantas ketika memang sudah ada kata 'ok' dari beliau. Taraaaaa.......hadiah dari Ibu dalam sepiring lezat kuiner rumahan pun nangkring di meja makan. Iya, yang masak makanan memang saya tapi kalau bukan karena arahan Ibu, belum tentu bahan -- bahan itu dapat disebut makanan meskipun sudah dimasak :v

Lahir dari keluarga petani sederhana, menumbuhkan kebiasaan untuk mensyukuri apapun sajian diatas meja. Alhamdulillah, dapur masih mengepul. Dan hadiah dari Ibu tidak pernah mahal, tapi juga tidak murah. Sebab semua hadiah dari Ibu yang dipersembahkan untuk kami tidak pernah dinilai harga tinggi. Ya, semua tidak berharga. Tapi juga tidak akan mampu dibeli.

Waktu dan tenaga. Ketika setiap detik dan raga beliau hembuskan atas nama kebaikan untuk kami. Anak -- anaknya. Waktu yang beliau ikrarkan dalam label fulltime-mommy. Dirumah dan hanya mengurus kami, sementara dulu teman -- teman sebayanya banyak yang mengejar karir.

Tidak hanya itu, pun genggaman tangan yang kenanakan itu. Bahkan ketika genggaman tangan kami tak seerat dahulu, sebab usia yang kian maju, bagi saya genggaman tangan itu masih sehangat dulu. Genggam percaya dan aman. Genggam yang percaya bahwa saya bisa melangkah sendiri tanpa meninggalkan ruang pengawasan dari seorang Ibu untuk anak perempuannya.

Bu, balasan apa yang bisa saya berikan atas setiap jerih hadiah darimu itu selain bakti ?

Semoga Allah memperkenankan kita berkumpul kembali di jannah.Nya..

Aaamiiiiin.