Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd, Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara, Kepulauan Riau "Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan"

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Antara Operasi Plastik dan Operasi Intelijen

9 November 2018   19:53 Diperbarui: 9 November 2018   19:57 379 0 0
Antara Operasi Plastik dan Operasi Intelijen
(Foto : Netralnews.com)

Ratna Sarumpaet melakukan operasi plastik atau mempermak wajahnya dengan maksud agar kelihatan lebih cantik, lebih muda, lebih menarik, lebih segar, dsb. Tetapi yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Bukannya tambah kinclong, muka Ratna malah bengkak-bengkak, lebam-lebam bahkan babak belur seperti habis dikeroyok. 

Walaupun menurut dokter hal tersebut adalah sesuatu yang wajar sehabis melakukan sedot lemak di wajah dan akan pulih setelah 3 - 5 hari kemudian, tetapi diluar dugaan Ratna Sarumpaet memanfaatkan kondisi wajahnya untuk mengarang sebuah kebohongan besar yang menggemparkan Indonesia.

Ratna membuat pengakuan palsu dikeroyok 3 orang tak dikenal di sekitar Bandara internasional Husein Sastranegara, Bandung. Tetapi anehnya Ratna tidak berani melaporkan kejadian tersebut ke polisi dengan alasan diancam oleh pelaku.

Tidak sedikit orang yang percaya terhadap skenario dan sandiwara yang dikarang dan diperankan oleh Ratna sendiri. Tak tanggung-tanggung, korbannya antara lain: pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, politisi senior Amien Rais, Joko Santoso, Rocky Gerung, Mardani Ali Sera, Hanum Rais, Rachel Maryam, termasuk sebagian masyarakat Indonesia yang mempercayai berita tersebut sebagai sungguhan.

Tetapi akhirnya kebohongan itu pun terbongkar oleh pengakuan Ratna sendiri. Dan hal tersebut pun menguatkan siapa sebenarnya "pembuat hoaks terbaik" dan siapa "Ratu Hoaks Nasional". 

"Serupa tapi tak sama" namun masih berhubungan dengan "operasi" tapi bukan "operasi plastik", Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab curiga ada operasi (intelijen) dari Indonesia yang menyebabkan dirinya diperiksa intelijen Arab Saudi. Habib Rizieq menduga ada intelijen busuk dari Indonesia yang mencoba memfitnahnya terkait "bendera" yang ada di dinding rumahnya. (Detik.com, 8/11/2018)  

Slamet Ma'arif, juru bicara FPI kepada Kabar Malam TVONE mengatakan, ada oknum yang memasang bendera tersebut di rumah Habib Rizieq Shihab. Usai dipasang, ada pula pihak lain yang sudah siap mengambil gambar perihal pemasangan bendera tersebut di depan rumah Habib Rizieq Shihab.

Terkait tudingan tersebut, juru bicara Badan Intelijen Nasional (BIN), Wawan Hari Purwanto mengatakan tuduhan yang ditujukan ke BIN soal rekayasa penangkapan Rizieq Shihab ini merupakan pandangan sepihak. Menurut dia, operasi intelijen di negara lain itu jelas dilarang. "Bisa dideportasi atau bahkan dijatuhi hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negeri itu," ucapnya. (Tempo.co, 9/11/2018)

Masalah bendera yang dipasang di dinding rumah tinggal Habib Rizieq Shihab saja masih menjadi bahan perdebatan di dunia maya. Ada yang mengatakan bahwa bendera yang dipasang itu "bendera tauhid" tetapi ada pula yang mengatakan bahwa foto tersebut adalah hasil editan dan sebenarnya yang dipasang itu adalah "bendera ISIS".

Tetapi apapun itu semua, apakah operasi intelijen atau tidak, kita semua berharap semoga kasus ini terbuka secara terang-benderang seperti kasus operasi plastik Ratna Sarumpaet sehingga tidak timbul perdebatan yang lebih panjang dan saling memfitnah ditengah-tengah masyarakat.

Semoga pemerintah Arab Saudi memproses dan menuntaskan kasus ini secepatnya, sehingga jelas siapa yang berbohong, siapa yang dibohongi, siapa yang memfitnah dan siapa yang difitnah, siapa yang didzolimi dan siapa yang mendzolimi, siapa yang mengkriminalisasi dan siapa yang dikriminalisasi.

(RS)