Rintar Sipahutar
Rintar Sipahutar Guru

Rintar Sipahutar, S.Pd, Guru Matematika SMP Negeri 1 Lingga Utara, Kepulauan Riau "Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan"

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Gara-gara "Cebong" dan "Kampret" Ada di Jalan Tol, Arus Mudik Pun Lancar

12 Juni 2018   13:56 Diperbarui: 12 Juni 2018   14:10 1268 2 0
Gara-gara "Cebong" dan "Kampret" Ada di Jalan Tol, Arus Mudik Pun Lancar
(Ilustrasi : pwmu.co)

Ada yang menarik ketika KOMPAS.com sebagai media massa nasional terbesar di Indonesia saat ini, memuat sebuah artikel dengan judul: "Jalan Tol yang Harusnya Menyatukan 'Cebong' dan 'Kampret' (Senin, 11/6/2018).

Pada sebuah paragraf dituliskan: "Tak peduli nasabah itu pendukung pemerintah ("cebong") maupun pendukung kelompok yang berseberangan atau biasa dijuluki "kampret". Yang jelas bank akan menyalurkan dana tersebut kepada perusahaan yang memerlukan pembiayaan".

Yang menarik perhatian penulis disini bukan masalah pembangunan jalan tol ditinjau dari ekonomi makro dan manfaatnya yang berhasil mengurai kemacetan sehingga memperlancar arus mudik tahun ini. Tetapi yang unik sesungguhnya adalah penggunaan istilah "cebong" dan "kampret".

Entah siapa yang memulai, tetapi demikianlah penggunaan nama-nama hewan kepada manusia, baik secara perorangan atau kelompok begitu meluas sejak zaman dahulu kala hingga saat ini terus berkembang, baik untuk maksud positif maupun negatif.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama telah dikenal istilah "Yehuda seperti singa" (Kej 49:9) sebagai simbol kekuatan. Demikian seterusnya dan pada zaman penjajahan Belanda pun dikenal istilah "adu domba" sebagai upaya "memecah-belah" rakyat.

Kita juga mengenal istilah: "macan Asia, ayam kampus, kupu-kupu malam, lintah darat, tikus berdasi, kuda hitam, kambing hitam, kambing congek, kucing garong, keong racun, otak udang, dsb.

(Dok : Wikipedia)
(Dok : Wikipedia)
Ada yang menyebutnya sebagai gaya bahasa "hewanifikasi", yaitu penggunaan sifat-sifat atau perilaku hewan kepada manusia. Tetapi istilah "hewanifikasi" sama sekali belum atau tidak ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sehingga penggunaan istilah ini dianggap tidak tepat atau non-formal.

Juga bukan majas personifikasi atau metafora tetapi lebih tepat sebagai majas simbolik, yaitu gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda yang lain sebagai perbandingan, misalnya melukiskan manusia sebagai hewan atau dengan tumbuhan.

Setelah penggunaan media sosial semakin meluas, penggunaan istilah-istilah baru pun berkembang begitu pesat. Mulai dari hanya berupa singkatan, akronim, plesetan, bahasa prokem (bahasa gaul) hingga penggunaan majas-majas perbandingan, dsb.

Yang lebih kencang dan lebih meriah adalah saling mengejek dengan julukan tertentu, antara dua kubu politik yang berbeda di media sosial. Khususnya pada saat menjelang Pilpres 2014 yang mempertemukan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa hingga saat ini.

Sebutlah muncul istilah "cebong" dengan bentuk jamaknya "cebongers". Kemudian ada istilah "pasukan nasi bungkus", "bani onta", "bani daster", "kaum sumbu pendek", "kaum bumi datar" dan yang sekarang lagi populer adalah "Kampret", yang semuanya dimaksudkan sebagai ejekan.

Sekali lagi entah siapa yang memulai istilah-istilah atau julukan-julukan seperti itu tetapi saya pikir dia itu cukup berhasil membuat membuat istilah atu julukan baru menjadi populer di jagat maya, entah itu tujuannya baik atau buruk.

Tetapi sekali lagi, yang jelas istilah atau julukan tersebut adalah ejekan yang merendahkan. Sehingga jelas tidak ada kubu yang mau menerima julukan-julukan seperti yang dialamatkan kepadanya.

(Dok : wikybrew.com)
(Dok : wikybrew.com)
Seperti yang dituliskan KOMPAS.com pada artikelnya yang seakan-akan "menyetujui" bahwa "pendukung pemerintah" sebagai "cebong" dan "kelompok yang berseberangan" sebagai "Kampret".

Saya yakin tidak satupun pendukung pemerintahan Jokowi yang sudi disamakan atau diumpamakan dengan cebong. Cebong adalah berudu, yaitu fase kedua dari empat fase yang harus dilalui dalam metamorfosis katak. Apa hebatnya cebong atau berudu? Hehehe... Menjadi katak sajapun tidak ada istimewanya.

Demikian juga dengan julukan "Kampret". Kampret adalah hewan malam yang berbau sangat amis. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai anak kelelawarDalam bahasa Batak dikenal sebagai arifarif. Berasal dari kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Chiroptera, Subordo Microchiroptera.

Dan saya yakin kelompok yang berseberangan dengan pendukung pemerintah pun tak akan sudi disebut atau disamakan dengan "kampret". Apa istimewanya? Hehehe... Tetapi pun demikian, kedua kubu yang fanatik membabi buta masih terus saling melontarkan kedua istilah untuk saling mengejek.

Entah istilah atau julukan apalagi nanti yang akan muncul di Pilpres 2019, mungkin para ahli bahasa perlu mengamatinya. Apakah dalam pemakaian atau penggunaan istilah-istilah itu ada perubahan atau pergeseran makna, baik berupa perluasan makna (generalisasi), penyempitan makna (spesialisasi), membaik (ameliorasi), memburuk (peyorasi), persamaan (asosiasi) atau pertukaran tanggapan (sintesia).

Terlepas dari semua istilah di atas, satu hal yang perlu kita syukuri, kalau dulu jika si "Komo" lewat membuat jalanan menjadi macet, tetapi sekarang keberadaan "cebong" dan "kampret" di jalan tol ternyata membuat semuanya menjadi lancar. Tentu saja karena keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur yang bernilai sangat mahal.

(RS)