Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Inferioritas, Penyebab Merajalelanya si "Bule Predator"

11 Oktober 2017   18:37 Diperbarui: 12 Oktober 2017   12:10 5877 10 5
Inferioritas, Penyebab Merajalelanya si "Bule Predator"
David Bond, seorang turis petualang yang berhasil menundukkan banyak wanita bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Dia hanya perlu waktu kurang dari 1 jam untuk mengencani wanita. Hal terburuknya, dia mendokumentasikan kejadian itu dan wanita secara wajar menerimana. Ajaib. Sumber: makasar.tribunnews.com

Belum lewat satu purnama, satu kisah berloncatan di berbagai media tentang seorang laki-laki bule pemburu kenikmatan. Pemburu --seorang lelaki bule-- kenikmatan ini merajalela di Bali, mencari mangsa untuk mendapatkan 'kenikmatan' secara gratis. Namanya ditengarai David Bond.

Perbuatannya bahkan dilakukan dengan dokumentasi yang cukup mantap. Setidaknya menurut pemberitaan media. Tanpa malu dan merasa risih, perempuan-perempuan yang dikencaninya itu mau difoto dalam berbagai gaya. Model dokumentasinya mirip-mirip sebuah catatan perjalanan liarnya.

Bahkan yang lebih luar biasa, wanita-wanita yang diajaknya 'terbang ke surga' itu, dapat ditundukkan dalam waktu singkat. Bahkan ada yang kurang dari 1 jam. Tepatnya 55 menit. Ngeri!

Jika wanita yang diajaknya berkencan itu pekerja seks komersial, mungkin tidak jadi masalah. Untuk hal ini, tidak perlu waktu yang panjang untuk mendapatkan 'kencan sesaatnya. Juga tidak akan menjadi heboh. Tetapi, wanita-wanita itu sepertinya wanita bukan "pelayan" dan baik-baik.

Banyak pertanyaan yang kemudian muncul. Kok bisa wanita-wanita itu jatuh ke dalam pelukan lelaki itu? Lalu, mengapa mau difoto dan didokumentasikan dengan demikian rapi? Apakah mereka dibohongi dengan berbagai cerita indah? Apakah mereka tertunduk begitu saja karena hipnotis dahsyatnya?

Melihat tampangnya, bolehlah doi dimasukkan kelas Don Juan. Wajah yang menarik itu, bisa jadi merupakan faktor yang dapat menjadi pemicu gampangnya wanita tersebut terlena dengan si pria bule. Tetapi apakah ada faktor lain yang kira-kira bisa memicu kerelaan para wanita itu untuk dikencani dengan konsep one night stand?

Pada proses awal tunduknya seorang wanita ke pelukan lelaki diawali dengan sebuah kondisi yang namanya "open". Kondisi terbuka ini menjadi pintu masuk ke dalam pelukan lelaki dalam sebuah relasi lelaki dan wanita.

Kondisi terbuka ini merupakan kondisi yang rapuh di mana wanita akan dapat diarahkan lelaki untuk melakukan apa pun. Ini bukan soal magic. Ini soal piskologis saja. Si perempuan bisa seperti terhipnotis.

Pertanyaannya, apa kira-kira yang membuat seorang wanita berada pada kondisi "open" ini. Fakta menyatakan bahwa wanita terbuka untuk keindahan, kenyamanan dan rasa aman. Ketiga elemen itu dapat dibentuk oleh karena sudah kenal lama, pria itu lucu, prianya kaya raya, prianya gagah dan rupawan dan juga karena prianya pintar berbicara dan bermulut manis plus suara macho. Ngebas-ngebas gitu.

Sekadar kondisi terbuka, memang tidak dapat menundukkan wanita dalam waktu 55 menit, seperti yang dilakukan bule pencari kenikmatan itu. Tetapi ada satu faktor lagi yang lebih dominan, yakni inferioritas.

Bule dan Segalanya Hebat

Secara umum warga negara Asia memiliki inferioritas terhadap Barat. Segala yang berbau Barat relevan dengan segala sesuatu yang hebat. Mind set seperti ini sudah tertanam baik. Mungkin anda pernah menyaksikan wanita Asia yang kelihatan bangga karena berjalan dengan seorang pria bule. Itu bentuk inferioritas tadi. Tidak luput juga warga negara Indonesia.

Menyedihkan. Itulah situasi yang terjadi terkait bagaimana bangsa Indonesia memandang dirinya di hadapan bangsa asing terutama Barat. Kaum yang di Indonesia sering disebut buleĀ ini dianggap lebih tinggi derajatnya dalam segala hal dibandingkan dengan orang Indonesia.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa, tetapi bahkan juga di kalangan elit sekalipun. Dalam banyak pertemuan sering terlihat bagaimana 'lemahnya' bangsa kita di depan bangsa asing.

Otak dan pikiran kita telah dicekoki dengan pandangan akan superioritas mereka. Bahwa mereka bangsa yang lebih unggul dalam segala hal. Bahkan dalam warna kulit pun, mereka merasa ras kulit putihlah yang terbaik.

Padahal, saya pernah agak mual ketika duduk di sebelah seorang bule yang kulitnya putih di angkot di Bandung sekitar tahun 1990-an. Kulitnya itu agak berbintik dan bulu tangannya putih. Maklum, itu the first and the closest encounter dengan bule dalam hidup saya, ketika itu, setelah merantau dari sebuah kampung, berjarak 45 kilometer dari Danau Toba ke arah Medan.

Tetapi, memang faktanya, banyak keunggulan yang mereka miliki dalam bermacam hal. Soal pendidikan, misalnya, sekolah mereka menjadi yang terbaik. Soal teknologi, kita bisa dikatakan berada 100 tahun di belakang mereka.

Lalu mereka menciptakan lingua franca internasional, bahasa Inggris. Untuk menguasai teknologi dan hal lain dari mereka, kita harus belajar dulu bahasa Inggris itu. Dalam konteks belajar lingua franca itu pun kita masih keteteran.

Bagaimana kemudian mempelajari secara ajeg teknologi yang dijabarkan dengan bangsa Inggris. Orang Indonesia berjuang dua kali lipat untuk belajar ilmu mereka. Pertama, belajar bahasa Inggris dan kedua belajar substansinya. Otak sudah capek belajar bahasa itu, hanya tersisa sedikit untuk belajar teknologi itu. Hasilnya, tidak mantap.

Kondisi ini menciptakan permasalahan serius. Kita menjadi tunduk di segala suasana. Lemah dihadapan mereka. Terbuka dan polos ketika berinteraksi. Proses pelemahan ini terus dikumandangkan dalam berbagai aspek termasuk produk budaya. Film-film, buku-buku, musik-musik dan berbagai media budaya lainnya, menciptakan gelombang pesan-pesan yang mengatakan bahwa bangsa Barat itu lebih unggul dari bangsa Indonesia.

Akibatnya dalam banyak hal kita kalah dan kita tidak bisa bangkit. Dampak luasnya, kita akan menjadi bangsa paria di hadapan bangsa-bangsa barat yang terus berkreasi untuk menjaga superioritas ini berkelanjutan. Sementara kita terlena tetap sebagai bangsa pemakai dan penikmat dengan mentalitas rendah. Bangsa yang inferior.

Bolehlah kita banggakan satu dua orang yang hebat. Bolehlah kita bercerita bahwa nenek moyang kita jauh lebih unggul dari nenek moyang mereka. Tetapi romantisme masa lalu tidak berguna jika realitasnya kemudian, kita kalah dan bertekuk, menjadi bangsa yang inferior di banyak sisi.

Pada gilirannya, jika hal yang sama akan terjadi terus-menerus, banyak yang akan menjadi korban. Persoalan inferioritas ini akan abadi. Sebabnya, tidak ada yang diperbuat bangsa ini untuk membalikkannya. Lihatlah foto Setia Novanto dan Trump. "Yes, very highly",vujar Setia mantap. Nah, terbukti kan?

Dapat dikatakan, jika inferioritas ini menjadi pintu masuk terjadinya kisah bule si pencari kenikmatan itu di Indonesia dan di beberapa negara Asia lainnya. Inferioritas ini menciptakan 'ketundukan' di hadapan para bule ini. Wanita-wanita menjadi gampang 'lemah' dengan segala hal berbau bule. Soalnya, sudah kalah duluan dan terpedaya.