Mohon tunggu...
Rina R. Ridwan
Rina R. Ridwan Mohon Tunggu... Ibu yang suka menulis

Pembelajar Di Sekolah Kehidupan Novel: Langgas (Mecca, 2018) IG: rinaridwan_23

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Hakikat Sakit

17 Juli 2019   07:33 Diperbarui: 17 Juli 2019   07:38 0 1 1 Mohon Tunggu...

Minggu lalu, saya mendampingi seorang sahabat yang baru di vonis kanker. Bukan hal yang baru bagi saya, karena sudah beberapa kali saya  melakukan pendampingan pada penderita kanker, dari anak-anak hingga dewasa. Semua berawal dari sakitnya ibu mertua dulu yang terlambat tahu dengan kanker yang dideritanya.

Sahabat saya ini cukup luar biasa menerima vonis kankernya. Sebelum dia menjalani pemeriksaan, dia yang merasakan kelainan di payudaranya, sudah banyak googling dan mencari tahu segala hal lewat orang-orang yang pernah mengalaminya. Begini cerita yang dia sampaikan kepada saya.

"Saat sakit pertama, aku berusaha menahan dan berprasangka sebagai bagian dari hormon yang berfluktuasi layaknya perempuan lain. Namun begitu meningkat rasa sakit itu dengan disertai bengkak dan demam, aku mulai mencari informasi. Sengaja aku menutupi semua itu dari keluarga dekat, terutama dengan ibu yang sudah tua.

Ketika sakit itu makin sering, aku yang sudah mendapatkan bayangan akan kemungkinan kanker, mencoba menata hatiku dulu. Tak perlu orang tahu bagaimana aku teteskan air mata kesakitanku. Semua aku bagi hanya pada Allah di penghujung malam. Aku memohon untuk diberi kekuatan lahir batin menerima apapun yang memang sudah digariskan untukku.

Aku pun melangkah untuk menjalani pemeriksaan setelah berkonsultasi dengan keluarga, terutama kakak-kakakku. Dan saat hasilnya kuterima, kembali aku menata hati bersama doa yang tak henti aku lantunkan. Sempat aku melihat kekhawatiran mereka, namun aku tak boleh jatuh mengasihani diri sendiri.

'Ibu mau kabar baik atau kabar baik sekali'begitu kata dokter sore itu. Aku menjawab setenang mungkin,'Apapun kabar yang dibawa dokter, saya sudah siap.' Dan mengalirlah kalimat-kalimat tentang kanker payudara dengan jenisnya, stadiumnya, dan segala cara pengobatannya. Aku mendengarkan semua dengan saksama, sementara yang mendampingiku tampak lebih terkejut dibandingkan aku.

Tentu saja setelah itu, seluruh saudara kandung dan ibuku mengetahuinya. Aku melihat begitu cepatnya rona kasihan, khawatir dan sejenisnya muncul. Namun aku tak mau ikut larut dengan 'permainan' yang sudah aku duga sebelumnya. Aku harus jauh lebih kuat dari mereka."

Hanya dua hari setelah vonis, sahabat saya sudah siap menjalani operasi mastektomi. Operasi yang berjalan selama dua jam tersebut, lancar dan tanpa hambatan sedikit pun. Sahabat saya siuman dan kembali masuk kamar perawatan bersama kantung darah yang menggantung di sisi lengannya.

Esoknya, ketika saya mengunjungi, tak hendak bicara apa pun selain membicarakan hal lain diluar sakitnya. Kami bercanda dan menikmati makanan yang berlimpah di kamar rumah sakit, buah tangan para pengunjungnya. Dari nasi bungkus untuk penunggu, hingga buah-buahan.

Senang sekali melihatnya doyan makan seusai operasi. Wajahnya terlihat bahagia melihat para sahabatnya berkumpul memberi semangat tanpa membicarakan sakitnya. Berbeda dengan pengunjung lain yang sebagaimana kebiasaan kebanyakan orang kita, bicaranya selalu berkisar'sakit apa?' lalu ngoceh tentang pengobatan alternatif dan penderita yang ada di keluarganya yang begini dan begitu. Bukan memberi penghiburan dan kekuatan, terkesan makin membuat stress yang sakit.

Beruntung sahabat saya tak menanggapi semua itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x