Mohon tunggu...
Riko Noviantoro Widiarso
Riko Noviantoro Widiarso Mohon Tunggu... Peneliti Kebijakan Publik

Pembaca buku dan gemar kegiatan luar ruang. Bergabung pada Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP)

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Edukasi Transportasi Publik, Tekan Kemacetan Mudik

8 Mei 2019   10:36 Diperbarui: 8 Mei 2019   16:59 0 7 3 Mohon Tunggu...
Edukasi Transportasi Publik, Tekan Kemacetan Mudik
Ritual mudik lebaran tidak pernah lepas dari kemacetan lalu lintas. Hal ini bukti pemerintah gagal mengedukasi penggunaan transprotasi publik. (foto: kompas.com)

Musim mudik lebaran sudah semakin dekat. Pemerintah terus mempercepat perbaikan prasarana jalan yang digunakan bagi pemudik lebaran. Sejumlah kebijakan rekayasa lalu lintas pun dipersiapkan. Demi mencapai layanan mudik yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Pada musim mudik tahun ini Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik mencapai 18,2 juta jiwa. Dari jumlah itu pemudik asal Jabodetabek sebanyak 14,9 juta jiwa. Dengan daerah tujuan utama pemudik adalah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berdasarkan data tersebut juga menunjukan penggunaan moda para pemudik Jabodetabek cukup bervariasi. Pemudik yang menggunakan bus sebanyak 4,4  juta jiwa atau setara 30 persen.

Pemudik yang mobil pribadi sebanyak 4,3 juta jiwa atau 28,9 persen, pengguna kereta api sebanyak 2,4 juta jiwa atau 16,7 persen dan pemudik yang menggunakan pesawat sebanyak 1,4 juta jiwa atau 9,5 persen. Sedangkan pemudik motor sebanyak 942.621 jiwa atau 6,3 persen.

Dari data tersebut menunjukan jumlah pengguna mobil pribadi sebagai moda transportasi mudik masih terbilang banyak. Jumlahnya mencapai 4,3 juta jiwa yang berselisih sedikit dengan penggunan bus sebanyak 4,4 juta jiwa. Masih ditambah pula pengguna kendaraan roda dua yang cukup besar.

Kenyataan ini membuat volume kendaraan di jalur mudik lebaran menjadi padat. Terlebih penggunaan dilakukan dalam waktu yang relative bersamaan. Sehingga berdampak pada tingkat kemacetan lalu lintas yang selalu muncul setiap musim mudik lebaran. Termasuk polusi udara.

Tentu saja meningkatnya jumlah kendaraan di jalan raya selama mudik berkolerasi pada tingkat kecelakaan lalu lintas. Pada musim mudik lebaran tahun 2018 tercatat jumlah kecelakaan lalu lintas mencapai 1.928 peristiwa, 458 jiwa diantaranya meninggal dunia. Jumlah itu terjadi pada H-8 lebaran sampai H+8 lebaran (Korlantas, 2018).

Melihat sederetan data tersebut tentu cukup memprihatinkan. Musim mudik lebaran yang sepatutnya dapat menjadi moment berharga, tak jarang berakhir tragis. Padahal pemerintah telah berupaya melakukan berbagai langkah menekan kecelakaan lalu lintas. Terutama selama musim mudik lebaran.

Edukasi keselamatan bertransportasi memang perlu. Namun hal itu belumlah cukup. Pemerintah perlu terus mendorong penggunaan transportasi publik sebagai moda pilihan utama bagi pemudik. Hal ini sangat berkolerasi dengan menekan kemacetan lalu lintas, sekaligus menekan kecelakaan lalu lintas.

Meningkatnya kesadaraan pemudik dalam penggunaan transportasi publik akan berdampak langsung terhadap jumlah penggunaan mobil pribadi di jalan raya. Khususnya selama mudik lebaran. Termasuk pula menekan volume kendaraan yang terlalu berlimpah di jalan raya.

Semakin banyaknya kendaraan yang beroperasi di jalan raya, peluang tingkat kecelakaan semakin besar. Maka perlu menguranginya melalui pengalihan penggunaan kendaraan pribadi sebagai sarana mudik lebaran, dengan mendorong pemudik menggunakan transportasi publik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2