Mohon tunggu...
Riki subagja
Riki subagja Mohon Tunggu... Mahasiswa Administrasi Publik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kesuksesan ku di tentukan hari ini

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Komunikasi pemerintah Krisis mengenai Corona yang Sadis untuk Masyarakat yang Apatis Analisis

21 Maret 2020   00:30 Diperbarui: 21 Maret 2020   00:50 108 0 0 Mohon Tunggu...

Angka transmisi COVID-19 di Indonesia berpotensi berlipat ganda secara eksponensial membuntuti deret ukur yang kuantitasnya berangsur membengkak dan akhirnya tak tertangani. Apabila tak ada upaya untuk cepat meredakan laju penyebaran dengan menghilangkan faktor-faktor krusial yang bisa memperluas wabah penyakit ini. Oleh karena itu pemerintah harus cepat tanggap dalam menangani kasus ini, terutama berkaitan dengan penyebaran informasi. Baik informasi mengenai bahayanya virus corona sampai kebijakan yang di ambil oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19 ini.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi IX dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai bahwa virus corona bisa berakibat fatal jika pemerintah lamban dalam menanganinya.

“jangan sampai ini sebagai bola salju yang meninabobokan masyarakat sehingga masyarakat ini merasa, ‘oh kita engga ada kok’, tapi ternyata ketika itu boom, semakin kalut kita”, ucapnya saat diundang di acara Mata Najwa, Rabu malam (4/3/2020).

Dan benar saja, sekarang virus corona ini seakan-akan menjadi suatu yang sangat mengagetkan masyarakat. Ditambah lagi dengan informasi yang simpang siur tentang virus corona tersebut. Jika salah informasi tentang virus ini maka akan berakibat fatal, terutama informasi mengenai penyebaran dan kebijakan yang di ambil pemerintah.

Berita hoax seakan menjadi suatu yang gak aneh di setiap peristiwa heboh di Indonesia. Seperti halnya sekarang ini saja, informasi mengenai COVID-19 yang datang ke Indonesia pasti akan di buntuti dengan informasi-informasi hoax tentang virus tersebut. Bahkan Kementrian Komunikasi Dan Informatika telah menemukan per 17 Maret 2020, bahwa sudah ada 242 kasus hoax mengenai virus corona atau COVID-19.

Pembuat dan penyebar berita hoax tidak lain dan tidak bukan yaitu orang-orang yang tidak krisis, tidak cerdas, apatis terhadap kebenaran suatu informasi. Yang langsung menyebar luaskan informasi tanpa di analisis terlebih dahulu kebenarannya. Jika hal itu terus terjadi, maka akan berakibat munculnya kekacauan informasi di masyakarat. Biasanya informasi yang keliru cenderung bertambah cepat bersirkulasi luas. Terlebih bila informasi yang dimaksud mengenai virus corona, karena menyangkut keselamatan hidup seseorang.

Mengutip dari pernyataan Ketua Masyarakat Anti-Fitnah (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho yang menyesalkan perilaku pemerintah yang kerap membuat ketidakpastian laporan mengenai virus corona. Menurut beliau, peristiwa ini terjadi lantaran beberapa pejabat publik menyampaikan pemberitahuan yang bertentangan mengenai virus corona. Menurut ia Situasi tersebut membuat masyarakat kebingungan.

Oleh karena itu saya menghimbau terutama pemerintah dan lembaga-lembaga atau media-media yang terkait menangani dan memberikan informasi terkait virus Corona ini untuk memberikan informasi yang jelas dan tidak simpang siur. Dan juga untuk masyarakat Indonesia, kita harus krisis, cerdas dan cepat tanggap dalam merespon kebenaran informasi mengenai virus corona ini. Menganalisis terlebih dahulu tentang kebenaran informasinya dan mengikuti anjuran apa yang di putuskan oleh pemerintah dalam menangani penyebaran COVID-19 saat ini.

Dari informasi yang berkualitas kita sama-sama bisa memutuskan penyebaran wabah penyakit yaitu virus corona atau COVID-19 ini. Oleh karena itu perlu dibutuhkan kesadaran baik dari pemerintah, media-media dan masyarakat untuk saling berkomunikasi, berpikir kritis dan tidak apatis untuk menganalisis informasi mengenai virus corona ini, sehingga kita semua bisa mengakhiri wabah penyakit ini secepatnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x