Edukasi

Mahasiswa Revolusi

12 Juni 2018   20:57 Diperbarui: 12 Juni 2018   21:21 443 0 0

Mahasisawa merupakan tingkatan tertinggi dalam hal pendidikan. Ada beban menumpuk dipundaknya karena mahsiswa adalah penyambung suara, penggerak demokrasi bagi kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah. Tentang kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat.

Pada zamannya, banyak aktivis mahasiswa langsung berdemonstrasi ketika ada kebijakan pemerintah yang mencekik rakyat miskin dengan permisalan harga pangan melonjak tinggi, harga bbm naik drastis, dengan upah buruh-buruh yang teramat minim.

Tetapi kini, seakan dimakan waktu mahasiswa mulai banyak yang tidak bersuara. Aktivis yang memperjuangkan rezim revolusi sudah termakan usia, tidak ada lagi penggerak mahasiswa yang turun kejalan dengan niat memperjuangkan hak-hak masyarakat miskin terutama di ibu kota.

Mahasiswa seakan berdiam diri, entah apa yang ditunggu oleh mereka untuk bisa kembali menunjukan tajinya sebagai barisan paling depan melawan kebijakan aneh dari kepemerintahan.

Hari buruh, hari pendidikan nasional, hari pancasila dan hari-hari besar lainnya sudah mulai adem tanpa suara mahasiwa.

Mungkin prestasi-prestasi sudah mulai berkembang, pola kecerdasannya pun bisa dibilang mengikuti zaman dengan teknologi yang ada sekarang, tapi demokrasi saat ini seakan bungkam.

Ada apa dengan mahasiswa? Apa mereka menyerah melawan kebijakan yang benar-benar menutup ruang untuk berdemokrasi? Apa mereka menyerah menjadi pembela hak-hak masyarakat? Apakah mereka menyerah dengan segala bentuk membangun demokrasi yang seadil-adilnya?

Bisa jadi mereka disibukkan dengan jam-jam perkuliahan. Bisa jadi mereka disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk dengan deadline waktu yang cuman sehari.

Bisa jadi juga mereka telah lupa dengan tuntutan mereka sebagai mahasiswa. Rezim orde baru dimana mahasiswa berhasil menggulingkan pemerintahan yang semena-mena dengan membuat kebijakan. Media di bungkam, organisasi masyarakat yang membahayakan kepemerintahan di ancam sampai-sampai gerakan mahasiswa dibatasi untuk berdemokrasi.

Tetapi pada masa itu aktor utama pengguling orde baru adalah mahasiswa, mereka mampu mengalahkan tekanan dari pemerintah karena keberaniannya, karena mahasiwa berfikir untuk membangun negeri, dan mahasiswa memikirkan rakyat kecil yang tinggal di nusantara ini.

Tetapi di masa sekarang, masa revolusi, masa dimana mahasiswa harusnya lebih bisa berfikir cerdas, lebih bisa menancapkan tiang-tiang pondasi untuk negeri ini, dan yang terjadi sekarang adalah mahasiswa tak mampu mengemban tugas yang dititipkan oleh masyarakat kecil di penjuru Indonesia.

Wahai mahasiswa pendidikan memang nomor satu, tetapi pendidikan tanpa tindakan adalah hal yang tabu. Lihat lah buruh-buruh tua yang turun kejalan menuntut upah yang layak demi terus melangsungkan kehidupannya. Lalu, mahasiswa hanya bungkam karena mereka takut tidak bisa ikut wisuda.

Hilang sudah kisah Bung Karno yang meminta 10 pemuda untuk menaklukan dunia dan kisah hebatnya Gajah Mada menyatukan nusantara. Orang tua di pinggir jalan rindu dengan suara demokrasi.

Anak-anak yang bermain layangan rindu pada kakaknya yang meneriakkan keadilan. Remaja usia siap dewasa menantikan dibericontoh berdemonstrasi yang bisa membuat reformasi. Jangan hanya diam melihat si buncit tertawa. Mari suarakan bersama, teriakanlah bahwa mahasiswa hidup kembali, demokrasi tak lagi mati. Maka, bangsa ini akan siap menyambut keabsahan demokrasi.