Mohon tunggu...
Rika Wahyuningtyas
Rika Wahyuningtyas Mohon Tunggu... seseorang yang ingin mengetahui banyak hal

seseorang yang menyukai traveling

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Anak Jadi Pembunuh, Siapa yang Salah?

19 Maret 2020   12:20 Diperbarui: 19 Maret 2020   12:29 29 0 0 Mohon Tunggu...

Berita mengenai seorang gadis ABG di Taman Sari bunuh bocah 6 tahun menggemparkan banyak pihak. Seperti yang diberitakan, ABG berinisial NF (16) itu menyerahkan diri ke Polsek Metro Taman Sari Jakarta Barat pada Jumat (6/3/2020) pagi. Dia mengaku telah membunuh korban. Jasad bocah malang yang merupakan anak tetangganya sendiri itu sempat disimpan di dalam lemari pakaian rumahnya.

Usai menghabisi nyawa korban, pelaku NF justru mengaku merasa puas. Ia bahkan tak sedikitpun menyesali perbuatannya. Saat polisi menyelidiki lebih lanjut, diketahui fakta bahwa NF punya kebiasan menonton film horor yang memiliki adegan sadis. Salah satunya, dia suka menonton film Chucky. Di mana menceritakan seorang boneka mainan anak-anak yang bisa hidup dan suka membunuh, sarat adegan kekerasan dan darah. Dari sana, terungkap motif sementara pelaku melakukan pembunuhan anak tetangganya itu karena terinspirasi dari film horor sadis.

Mendengar berita ini, mungkin orangtua menjadi khawatir bahwa film yang mengandung kekerasan dapat memengaruhi anak berbuat kriminal. Namun sebenarnya, dalam sebuah studi, menunjukkan bahwa film-film bergenre horor dan kekerasan dengan rating 13 tahun ke atas tidak akan mengubah anak menjadi penjahat, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dikutip dari WebMD, sebuah penelitian yang diterbitkan pada Januari 2019 di jurnal Psychiatric Quarterly menunjukkan data baru yang mematahkan teori bahwa film mengerikan memicu kekerasan pada anak. Para peneliti menemukan bahwa ketika film rating 13 ke atas menjadi lebih ganas antara tahun 1985 dan 2015, angka pembunuhan dan kekerasan secara keseluruhan benar-benar turun.

Anak-anak dapat memerankan kembali hal-hal yang mereka lihat dalam film selama bermain, tapi hal itu tidak berubah menjadi kekerasan dalam kehidupan nyata, seperti intimidasi atau serangan. Ketakutan dan kecemasan adalah reaksi emosional yang lebih umum usai menonton film kekerasan maupun horor sadis. Mengutip Huffpost, perlu dilihat faktor risiko serius lainnya yang dapat menyebabkan seseorang menjadi agresif atau kasar. Juga, cara kekerasan dirasakan tergantung pada anak dan usianya, kepekaan unik, temperamen individu, minat pada apa yang dia tonton, dan bahkan rumah serta lingkungan sosial.

Oleh karena itu disarankan untuk mendampingi anak saat menonton film horor dan lainnya. Sehingga, orangtua dapat membantu anak merespons perasaan dan ketakutan tentang apa yang mereka tonton. Kini remaja berusia 15 tahun itu ditempatkan sementara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Perlakuan pun beda dengan orang dewasa, ada di UU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, ada beberapa asas yang berlaku dalam memproses hukum terhadap gadis remaja itu.

Ada empat asas dalam melakukan peradilan terhadap pelaku, pertama asas anak sebagai korban, kedua harus ada pendamping dari orang tua, ketiga didampingi pengacara atau Bapas, keempat tahanannya dipisahkan dari orang dewasa,

Perilaku NF yang merasa puas atas pembunuhan yang telah dilakukannya berasal dari berbagai macam faktor. Biasanya, faktor lingkungan hingga kebiasaan menonton film dengan kategori menyeramkan dan membahayakan bisa menjadi penyebabnya dan hal tersebut secara psikologis juga membahayakan untuk kemajuan atau perkembangan jiwanya kedepannya.

Factor yang lain juga dapat dilihat dari kepribadian NF. Apakah remaja 15 tahun tersebut gampang bersosialisasi dengan keluarga dan teman atau tidak. Menanggapi hal tersebut pihak yang berwajib bersama Tim Dokter Kejiwaan Rumah Sakit masih meneliti isi pikiran di dalam kepala NF. Sebab, faktor penyebab munculnya rasa puas pasca pembunuhan harus dilihat dari pertumbuhan pada bagian otak manusia. Karena bicara tentang pertumbuhan bagian otaknya, perlu diketahui juga apakah itu tumbuh sempurna atau tidak yang membuat dia rasa baik hati menolong empati itu tumbuh atau tidak. lagi dilihat, kan lagi diteliti di dalam otaknya.

Lantas, setelah kejadian memprihatinkan ini terjadi, siapa yang harus disalahkan, apakah tersangka NF ataukah orang tua tersangka NF. Pasalnya hal seperti ini bisa terjadi mungkin saja karena factor dari kelalaian dari pihak orang tua tersangka karena tidak terlalu memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh sang anak, mulai dari hobi dan kebiasaan yang biasa dilakukan oleh sang anak. Apalagi kebiasaan sang anak yang bisa dibilang cukup mainstream untuk usia anak-anak yang seumuran dengannya, yaitu menonton film yang menyeramkan, membahayakan dan mengandung unsur kekerasan, padahal hal tersebut nantinya akan mempengaruhi tumbuh dan kembang anak tersebut. Jadi, sekali lagi perlu ditekankan bahwa pengawasan dari orang tua sangatlah penting disini. Karena model parenting yang baik yang diterapkan ke anak sejak dini akan menumbuhkan mindset yang baik pula untuk pertumbuhan anak yang bersangkutan kedepannya.

Ditulis oleh:     Anita Diah Prasetyawati

                        Rika Wahyuningtyas

VIDEO PILIHAN