Mohon tunggu...
Rijo Tobing
Rijo Tobing Mohon Tunggu... Novelis

Penulis buku kumpulan cerpen "Randomness Inside My Head" (2016), novel "Bond" (2018), dan kumpulan cerpen "The Cringe Stories" (2020) dalam bahasa Inggris. rijotobing.wordpress.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Para Guru Les yang Terlupakan

6 April 2020   22:27 Diperbarui: 8 April 2020   09:49 688 10 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Para Guru Les yang Terlupakan
ilustrasi guru les privat. (sumber: Shutterstock via kompas.com)

Efek langsung dari Covid-19 adalah kesehatan masyarakat dan negara, sedangkan efek tak langsungnya adalah situasi ekonomi yang terus merosot.

Covid-19 mengharuskan kita menjaga jarak satu sama lain untuk memutus transmisi virus antar manusia. Ia membuat kontak menjadi langka, dan kedekatan menjadi terlarang.

Sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia sudah mulai diliburkan sejak pertengahan bulan Maret. Jumlah orang terinfeksi (dan meninggal) yang terus meningkat mendesak penghapusan UN dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Mungkin banyak yang lupa kalau pendidikan itu tidak hanya ditempuh dengan jalur formal di sekolah, namun juga dengan jalur informal melalui les-les di luar sekolah. 

Ada les-les seputar mata pelajaran untuk membantu siswa yang masih kurang paham di sekolah. Ada les-les yang berkutat di bidang olahraga dan seni untuk mengasah minat dan bakat anak di luar sekolah.

Waktu guru-guru sekolah terpaksa bekerja dari rumah, penghasilan mereka tidak berkurang. Sejauh ini saya belum mendengar ada penyesuaian uang sekolah karena kegiatan belajar-mengajar dipindahkan dari sekolah ke rumah, dari di bawah pengawasan guru menjadi di bawah pengawasan orang tua.

Lalu bagaimana dengan penghasilan guru-guru les yang bernaung di bawah lembaga atau yang bekerja freelance, di saat murid-murid lesnya satu-persatu cuti les entah sampai kapan?

Di tengah pandemi seperti ini, kekhawatiran orang tua jika anaknya tiba-tiba jatuh sakit berlipat beratus-ratus kali. Sebelum pandemi, banyak orang tua yang masih menyuruh anaknya yang sakit flu untuk masuk sekolah dan melakukan kegiatan lain seperti biasa.

Ah, cuma flu doang.

Akan tetapi bagaimana jika anak sakit lebih dari itu, tanpa disadari menjadi carrier SARS CoV2, dan menulari orang yang kesehatannya lebih rentan? Atau anak sedang dalam kondisi tidak fit dan ditulari tanpa sengaja oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya?

Daripada terus khawatir, hampir semua teman saya menstop semua kegiatan les, sama seperti kegiatan sekolah, anak mereka sampai waktu yang belum ditentukan. Sangat sedikit dari mereka yang bersedia mengalihkan kegiatan belajar di les yang biasanya tatap muka menjadi online, seperti yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah.

Ribet.  
Takut anaknya ga bisa konsen, disuruh perhatiin guru malah main game.  
Boros kuota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x