Media

Pengaruh Model Pembelajaraan Kooperatif terhadap Pemahaman Konsep

11 Agustus 2017   10:01 Diperbarui: 11 Agustus 2017   10:04 108 0 0

Matematika merupakan ilmu yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan dan merupakan pengetahuan dasar yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, dimana matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang penting untuk setiap jenjang pendidikan. Matematika juga bermanfaat dalam pengembangan berbagai bidang keilmuan yang lain.

Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah "agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah" (Depdiknas: 2006). Sesuai dengan kutipan Depdiknas, dapat dikatakan mengembangkan kemampuan pemahaman konsep siswa merupakan salah satu tujuan utama pembelajaran matematika di sekolah. Diharapkan dalam setiap pembelajaran matematika, siswa dapat memahami konsep matematika dengan baik, serta mampu menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep tersebut.

Menurut Mona zevika, dkk (2012: 45) pemahaman berasal dari kata paham yang artinya "mengerti benar". Dalam pengetian yang lebih luas pemahaman dapat diartikan dengan mengerti benar sehingga dapat mengkomunikasikan dan mengajarkan kepada orang lain. Pemahaman konsep merupakan hal yang diperlukan dalam mencapai hasil belajar yang baik, termasuk dalam pembelajaran matematika.

Pentingnya kemampuan pemahaman konsep dalam matematika adalah karena matematika mempelajari konsep-konsep yang saling terhubung dan saling berkesinambungan. Seperti yang diungkapkan Suherman (2003: 22), "Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya." Sehingga untuk dapat menguasai materi pelajaran matematika dengan baik maka siswa haruslah telah memahami dengan baik pula konsep-konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat dari konsep yang sedang dipelajari. Dengan kata lain, salah satu syarat untuk dapat memahami materi pelajaran selanjutnya dengan baik adalah memahami materi yang sedang dipelajari dengan baik.         

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMAS Harapan Jaya kota Tangerang terlihat bahwa pembelajaran yang dilaksanakan belum dapat mengembangakan kemampuan pemahaman konsep siswa secara maksimal. Hal ini terlihat dari kurangnya kemampuan pemahaman konsep siswa berdasarkan indikator-indikator pemahaman konsep. Seperti, saat guru meminta siswa untuk memberikan contoh-contoh dari konsep yang telah dipelajari, sedikit sekali siswa yang dapat menjawab. Pada saat siswa diberi latihan, kebanyakan siswa hanya menyalin pekerjaan temannnya yang lebih pintar. Pemahaman konsep siswa yang masih rendah juga terlihat pada saat guru meminta siswa menyebutkan kembali materi yang telah dipelajari, sebagian besar siswa tidak dapat menyebutkan kembali konsep yang telah mereka pelajari sebelumnya.

 Selain itu, saat mempelajari materi ajar yang baru, siswa terlihat kesulitan dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat memahaminya. Hal ini disebabkan karena kebanyakan siswa tidak ingat dengan materi prasyarat untuk materi yang sedang dipelajari. Terbukti, pada saat guru meminta siswa untuk menyebutkan kembali materi prasyarat, sebagian besar siswa hanya diam dan menunggu guru untuk mengingatkan kembali materi prasyarat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak ingat lagi dengan materi prasyarat. Dengan kata lain, siswa tidak memahami dengan baik konsep pada materi prasyarat sehingga siswa tidak mampu untuk menyebutkan kembali materi tersebut.

Keadaan ini berakibat  pada masih banyak siswa yang belum tuntas hasil belajar matematikanya. Berdasarkan hasil ulangan tengah semester matematika semester ganjil siswa kelas X SMAS Harapan Jaya Kota Tangerang tahun pelajaran 2016/2017, lebih dari 65% dari jumlah siswa dikelas X belum mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 70.

Salah satu cara untuk memaksimalkan hasil belajar siswa adalah dengan pembelajaran kooperatif. Suherman (2003: 260) menyatakan bahwa "Cooperative learning mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya". Selanjutnya Suherman (2003: 260) menyatakan bahwa "Cooperative learning menekankan pada kehadiran teman sebaya dan berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan atau membahas sesuatu masalah atau tugas". Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang menekankan kerjasama dan keterlibatan semua anggota tim untuk menyelesaikan suatu masalah atau suatu tugas.

Upaya untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa adalah pemberian model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write. Asep Ikin Sugandi (2011: 43) mengatakan Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) adalah model pembelajaran yang berusaha membangun pemikiran, merefleksi, dan mengorganisasi ide, kemudian menguji ide tersebut sebelum siswa diharapkan untuk menuliskan ide-ide tersebut.sedangkan menurut Miftahul Huda (2014: 218) mengatakan strategi Think Talk Write (TTW) dapat mendorong siswa untuk berfikir, berbicara, dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu. Strategi TTW memperkenalkan siswa untuk memengaruhi dan memanipulasi ide-ide sebelum menuangakannya dalam bentuk tulisan.

Alur pembelajaran kooperatif tipe TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berfikir (Think) atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, berbicara (Talk) dan membagi ide dengan kelompok masing-masing sebelum menulis (Write). Pada tahap Talk siswa diminta bertukar pikiran dengan teman kelompoknya sesuai dengan solusi yang mereka peroleh masing-masing pada tahap Think dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi kelompok (Write), sehingga akan meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa

Memperhatikan karakteristik matematika sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatis, secara rasional dapat diprediksi bahwa kemampuan awal matematika siswa akan memberikan pengaruh terhadap pencapaian hasil belajar. Uraian, rasional, dan temuan penelitian di atas, mendorong peneliti melaksanakan penelitian mengenai pengaruh Model pembelajaran Think Talk Write terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.