Ekonomi Pilihan

Proyek Jalan Tol dan Dikotomi "Kaya" dan "Miskin"

12 Februari 2018   13:22 Diperbarui: 12 Februari 2018   13:30 827 1 1

Pendahuluan

Sekarang ini masih ada segelintir orang-orang yang meragukan manfaat proyek-proyek infrastruktur yang sedang gencar dilaksanakan di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan itu sebagai proyek politis dan pencitraan semata. Khususnya setelah acara "ground breaking" proyek jalan tol Padang - Pekanbaru yang dilaksanakan pada hari Jumat yang lalu, di medsos beredar komentar-komentar negatip, tanpa data yang valid, kecuali sekedar copasdari beberapa media on line yang tidak kredibel.

Dengan gencarnya pembangunan proyek-proyek infrastruktur sekarang ini, khususnya proyek jalan tol, mereka berpendapat bahwa proyek-proyek tersebut hanya untuk sekedar pencitraan dan kelak hanya untuk bisa dinikmati orang-orang berduit, atau lebih spesifik hanya oleh orang-orang bermobil. Tidak ada manfaatnya untuk rakyat miskin. Sebab menurut pemahaman mereka, jalan tol hanya untuk dilalui kendaraan roda empat milik pribadi, bukan untuk rakyat yang naik angkot atau becak.

Padahal seperti kita ketahui, tujuan utama jalan tol/ bebas hambatan adalah sarana utama urat nadi ekonomi yang akan memperlancar:

1. distribusi barang, produk-produk pertanian dan pertambangan,

2. pariwisata, angkutan massal bis/ travel antar kota/ provinsi,

3. pembangunan sentra-sentra ekonomi yang merata di semua wilayah, dan lain-lain.

Mari kita bandingkan sejenak dengan Amerika Serikat (AS) dan RR China (RRC).

1. US Freeway & Toll Road System (Jalan bebas hambatan di Amerika Serikat).

Ide jalan bebas hambatan ('toll road' and 'freeway system') di AS dimulai pada tahun 1916, pada era pemerintahan Presiden Woodrow Wilson dengan diterbitkannya "Federal Aid Road Act of 1916".

Detail proyek dilanjutkan pada tahun 1938, pada masa pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt, yang selanjutnya diteruskan oleh Presiden Dwight Eisenhower setelah Perang Dunia II selesai.

Negara bagian Kansas diklaim sebagai negara bagian pertama yang mempunyai sistem jalan bebas hambatan di akhir tahun 1950 an. Jalan tersebut sekarang merupakan bagian dari jalan bebas hambatan I-70 (Interstate-70).

Setelah 35 tahun berjalan, panjang total jalan bebas hambatan di AS mencapai 77.000 km, di luar jalan biasa dan "County roads". Jalan bebas hambatan tersebut diberi nomor ganjil untuk jalur Utara -- Selatan, misalnya I-5; I-95; I-87, dll, yang sudah pernah penulis lalui. Sementara untuk jalur Timur -- Barat diberi nomor genap, misalnya I-40; I-80; I-90, dan lain-lain, yang juga sudah pernah penulis lalui.

Selanjutnya jalan-jalan bebas hambatan tersebut dikembangkan sampai ke perbatasan Kanada di utara dan Meksiko di selatan.

Ekonomi AS tumbuh dengan pesat di atas 10% sejak jalan-jalan tersebut dioperasikan. Meski pun akhirnya pertumbuhan tersebut melambat sejak AS terlibat banyak perang di luar negaranya. Hanya berkisar 3,3% per tahun sejak 1980 sampai saat ini.

2. Express Way of China (Jalan bebas hambatan di RR China)

Jalan bebas hambatan di RR China (RRC) dimulai pada awal 1980 an di masa kepemimpinan Deng Xiaoping yang menggantikan Ketua Mao Zedong.Meski pun sebagai pemimpin sebuah negara komunis, Deng Xiaoping pada saat itu mempunya motto: "Menjadi Kaya adalah Mulia"(To be Rich is Glorius).

Maka sejak RRC memulai proyek-proyek raksasanya di bidang infrastruktur, termasuk jalan raya bebas hambatan, ekonominya melejit dengan pertumbuhan rata-rata di atas 10% mengalahkan semua negara maju di dunia. Sehingga RRC layak disebut satu-satunya negara dengan sistem ekonomi Sosialistis- Kapitalis.

Sampai akhir tahun 2017, panjang total jalan bebas hambatan di RRC adalah yang terpanjang di dunia, mencapai 136.000 km, melebihi semua panjang jalan bebas hambatan di AS.

Keberhasilan RRC dalam proyek-proyek infrastrukturnya telah menggenjot juga pertumbuhan ekonominya rata-rata di atas 10% pertahun. Pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia sampai sekarang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2