Mohon tunggu...
Dean Ridone
Dean Ridone Mohon Tunggu... Saya Hanya orang Biasa

lesung pipit

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Langkah Konyol Golkar

29 Juli 2016   15:43 Diperbarui: 29 Juli 2016   16:08 2 1 1 Mohon Tunggu...

Ketika Golkar  keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP), dipandang bukan sesuatu yang aneh, mengingat KMP sebelumnya sudah kena amputasi lantaran ditinggal dua parpol lainnya, PPP dan PAN. Golkar bisa dibilang hanya bisa mengekor. Tetapi bila ditinjau dari fatsun dan sejarah perpolitikan di Indonesia,  tidak mengenal Golkar ada di luar pemerintahan. Berbeda dengan PDIP yang mampu bertahan selama 10 tahun di luar pemerintahan.

Keikutsertaan Golkar pada KMP dianggap sebagai kecelakaan politik. Aburizal Bakri atau biasa disebut Ical, beserta kelompoknya disebut sebagai orang yang telah mencelakakan Golkar. Para penentang Ical cs, yang telah berkolaborasi dengan pemerintah berupaya terus melemahkan kekuatan Golkar versi Ical. Pada akhirnya Ical cs menyerah  mengikuti kemauan Agung yang diboncengi oleh pemerintah.

Mereka sepakat berdamai dalam kongres luar biasa. Dan Setya Novanto, yang nota bene adalah orangnya Ical terpilih sebagai ketua umum Golkar. KLB pun menghasilkan sebuah keputusan penting lainnya untuk Golkar, yakni Golkar menyatakan dukungannya kepada pemerintah Jokowi - Jk tanpa syarat saat itu. Meski awal dukungannya tanpa syarat, Para petinggi Golkar tidak menyembunyikan rasa senangnya jika pemerintah Jokowi-JK bisa menempatkan kader-kader Golkar masuk di kabinetnya.  

Cita-cita Golkar tercapai. Salah satu kadernya, Airlangga Sutarto, masuk ke jajaran kabinet Jokowi - JK. Walaupun hanya satu, setidaknya terpilihnya Airlangga jadi langkah awal modal  kepercayaan Jokowi kepada Golkar. Sudah barang tentu, niatan Golkar tidak terbatas hanya terpilihnya Airlangga. Kedepannya, Golkar ingin memainkan peranan penting guna menarik lebih kepercayaan Jokowi.

Langkah cepat segera dia ambil, dengan mencuri start dukungan ke Jokowi pada pilpres 2019 pada Rapimnas kemarin. Apa yang dilakukan oleh Golkar dianggap sebagai langkah konyol dipandang oleh sebagian kalangan pengamat. Pilpres 2019 masih lama, masih menunggu 3 tahun lagi. Tentunya dinamika politik akan terus berlangsung. Apakah Golkar siap menerima, jika Jokowi dalam 2 terakhir kedepannya, memperoleh penilaian negatif dari masyarakat?

Kecuali PDIP, partai-partai pendukung pemerintah tidak berani menjaminkan kepercayaannya, dengan tidak buru-buru mencalonkan Jokowi pada pilpres 2019. Pastinya ada pertimbangan dan kalkulasi politik yang harus diperhitungkan. Pengamat menilai dan menduga langkah konyol Golkar, dicurigai sebagai upaya menggerogoti kekuatan PDIP di pemerintahan. 

Dipandang Golkar, PDIP selama ini terkesan cuek terhadap Jokowi, maka segera Golkar memainkan peranannya, sambil berharap bilamana PDIP tidak memilih Jokowi, Golkar sudah siap mengambil alih. Harapan lainnya dari Golkar, yakni elektabilitas Golkar makin meningkat seiring upayanya mencuri start dibandingkan partai-partai pendukung Jokowi sebelumnya.

Apakah langkah konyol Golkar akan berhasil? tentu saja bisa, jika memang benar PDIP abai dengan Jokowi, atau juga tidak jika PDIP mampu menghimpun kekuatan relawan Jokowi dan Mega mematahkan usaha Golkar. Atau bisa saja keduanya tidak berhasil, atau malah terpuruk seandainya Gerindra melahirkan tokoh baru yang mampu menyaingi kepopuleran Jokowi. Sekedar catatan, Jokowi dan Ahok ditemukan sebagai tokoh nasional oleh Gerindra. Persaingan PDIP dan Gerindra akan semakin ketat, untuk mempertahankan reputasi di tengah ancaman kekonyolan Golkar.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x