Mohon tunggu...
Dimas Ridody
Dimas Ridody Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Sudah SH. tertarik mengenai kebebasan yang kreatif dan aktif. berjuang tidak memiliki batasan. hanya norma dan agama yang membatasi kita untuk hidup dengan layak

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Caleg Harusnya Cerdas , IQ Anda Berapa ? Seberapa Cerdaskah Anda?

20 Januari 2014   21:18 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:38 85 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Indonesia dalam waktu dekat akan menyongsong Pemilu 2014 , nasib bangsa Indonesia selama 5 tahun akan ditentukan dalam pemilu Legislatif , kemudian pemilihan calon Presiden .Pemilu legislatif akan diselenggarakan 9 April 2014 . disaat itu lah semua masyarakat akan berkumpul dan mempertaruhkan 5 tahun nasib mereka oleh para wakilnya. Yang jumlahnya tidak sampai 0,001% dari jumlah rakyat Indonesia.
Dalam beberapa momentum yang ditayangkan beberapa siaran televisi sebut saja Mata Najwa milik Metro TV dan Duel Kandidat milik TV One yang dengan penuh rasa terima kasih telah membuka mata masyarakat tentang bagaimana kualitas para calon legislatif . Dari tayangan tersebut memang hanya sebagian kecil dari ribuan calon yang memperebutkan 566 kursi DPR . Karena harus diakui televisi memang menjadi pusat informasi pertama dalam menjangkau masyarakat .
Dalam calon-calon legislatif dalam dikategorikan dalam beberapa latar belakang yaitu politikus wajah lama yang telah menjadi senior , selebritis yang telah memiliki banyak penggemar , aktivis-aktivis yang ingin naik kelas hingga rakyat biasa yang memiliki keberanian untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif . Memang benar politikus senior jelas memiliki pengalaman karena mungkin itulah makanan sehari-hari mereka. Namun bagaimanakah dengan para pendatang baru ? apakah mereka akan menawarkan perubahan yang lebih baik atau hanya sebatas pendobrak suara partai belaka . Sudah menjadi rahasia umum bahwa artis-artis sudah ikut-ikutan untuk mencoba peruntungan dengan digandeng oleh partai politik , seakan akan partai politik adalah manajemen mereka semasa menjadi selebritis .
Salah satu kategori yang punya kans besar adalah aktivis dan juga rakyat biasa , disini yang saya singgung adalah dengan 2 parameter . Parameter preventif dan juga efektif . Dimana preventif adalah bagaimana ketika mereka sudah menjadi anggota DPR mereka tidak tersangkut masalah . Mulai dari masalah kode etik maupun pidana korupsi . Selain itu masalah efektif dimana sosok tersebut bisa menunjukkan rasa baktinya terhadap rakyat tanpa harus disebut melakukan pencitraan . Wajar saja ini menjadi bahan bahasan saya karena masalah korupsi dan kode etik menjadi salah satu poin penting . Kenapa ? Lihat saja ketika mereka berdebat dalam acara televisi bagaimana sopan santun dalam berbicara dan menyangkal debat . Jangan dulu pikirkan studi banding DPR , asal mereka tidak korupsi saya setuju dengan studi banding yang menurut saya adalah ajang refresing dari ketegangan di kursi panas .
Dalam menjaring calon-calon wakil rakyat , partai politiklah yang paling bertanggung jawab karena dari merekalah para anggota dewan telah berhasil duduk di kursi DPR tapi apakah mereka juga bertanggung jawab atas kualitas mereka sebelumnya . memang saya tidak paham secara jelas bagaimana Parpol melakukan seleksi pantas tidaknya calon tersebut mengemban tugas atau sebaliknya ada faktor-faktor penilaian lain yang dilihat oleh Parpol yang tentu saja tujuan utama adalah memenangkan suara terbanyak dan akhirnya menempatkan wakil mereka di Pemilihan Presiden.
Bila melihat seleksi bagaimana seharusnya caleg , saya hanya menawarkan bagaimana latar belakang mereka secara pendidikan karena dalam politik tidak ada lagi yang namanya kenaifan dan kepolosan , masyarakat tidak ingin lagi proses pendidikan politik dasar di parlemen . Setidaknya caleg memiliki pendidikan yang baik dibidangnya , misalkan dia seorang pakar , seorang analisis , seorang akademis cerdas sehingga para tokoh-tokoh nantinya memiliki solusi yang relevan , terstruktur serta tingkat keberhasilan yang tinggi bukan sekedar janji yang cocok dikatakan kepada anak sekolah dasar kelas 3-6 . namun, bukan berarti saya mendiskriminasikan masyarakat dengan latar belakang bukan seorang yang berpendidikan tinggi karena semua itu bukanlah parameter kesuksesan sejati . Parpol yang memang berniat menjadikan Caleg yang bukan murni dibidangnya seyogyanya memberikan pendidikan politik berjangka mulai dari pemula hingga kelas medio dan expert . Seeloknya juga para caleg bersabar meningkatkan dan bercermin sudah siapkah mereka berjihad untuk 5 tahun kedepan .
Indonesia juga butuh bukti sebelum memilih caleg , karena mereka belum banyak bisa memberikan kontribusi dalam memajukan masyarakat. Salah satu alasan jokowi menang di Pilkada DKI adalah suksesnya menjadikan Solo lebih baik dan menjadi ikon masyarakat. Yang terihat disini adalah Caleg baru melakukan visi mereka bila sudah terpilih . Bagaimana jika tidak ? Bagaimana jika mereka gagal lalu menghilang dari aktivitas dan janji mereka untuk meraih suara .
Sesungguhnya indonesia butuh mereka yang ahli , bukankah Nabi Muhammad SAW pernah bilang bila suatu bidang tidak diserahkan kepada ahlinya atau tinggal menunggu kehancuran . Silahkan anda fikir bagaimana 5 tahun kedepan tapi jujur masyarakat indonesia saat ini jauh lebih cerdas . Jangan sampai masyarakat lebih cerdas dari caleg dan mereka menyesal sudah memilih . Lihatlah sosok Presiden RI pertama dan juga wakilnya , mereka adalah sosok yang sangat cerdas bahkan ketika sejarah mencatat bagaimana Indonesia disegani di Eropa Timur ketika itu , tidakkah anda masyarakat merindukannya ?

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan