Mohon tunggu...
Ridho Alvarez
Ridho Alvarez Mohon Tunggu... Mahasiswa

Never Give Up

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Maraknya Perokok di Usia Dini

23 Januari 2020   15:05 Diperbarui: 23 Januari 2020   15:09 25 0 0 Mohon Tunggu...
Maraknya Perokok di Usia Dini
merdeka.com

Rokok adalah lintingan atau gulungan tembakau yang digulung / dibungkus dengan kertas, daun, atau kulit jagung, sebesar kelingking dengan panjang 8-10 cm, biasanya dihisap seseorang setelah dibakar ujungnya. Rokok sangat berbahaya untuk tubuh, didalamnya mengandung banyak zat-zat yang bahaya, seperti Nikotin, Karbon Monoksida, Tar, Hidrogen Sianida, dll.

Sering kita temukan bahwa yang merokok bukanlah orang dewasa dan orang tua juga, melainkan banyak juga yang merokok pada usia dini, sering kali kita jumpai anak-anak merokok di warnet, angkringan, dan tempat lainnya. Hal ini tentunya sangat disayangkan, karena anak-anak usia dini sudah merusak tubuhnya sendiri dengan merokok dan tidak memikirkan pada kesehatannya.

Jumlah perokok usia dini meningkat dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, pravelensi merokok pada usia 10 sampai 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,9% dari tahun 2013 (7,20%) ke tahun 2018 (9,10%). Angka persentase tersebut jauh melampaui batas atas yang ditentukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2019 sebesar 5,4%.

Faktor yang menyebabkan anak usia dini merokok mungkin masalah sepele, seperti mengikuti orang tua yang merokok, bergaul dengan teman yang merokok sehingga mencoba untuk merokok, maupun lingkungan sekitar.

Melihat hal itu, mungkin pemerintah harus membuat peraturan baru berupa batasan memperjual belikan rokok usia di bawah 18 tahun. Mungkin hal itu bisa mengurangi angka jumlah perokok pada usia dini di Indonesia, dan lebih peduli dengan kesehatan tubuh agar tidak terkena penyakit yang muncul akibat merokok, karena usia muda adalah usia yang sangat produktif, sayang apabila sesuatu yang tadinya bisa membuat hal-hal positif, tapi mereka gunakkan untuk merokok dan terkena penyakit.

Sangat disayangkan apabila anak remaja sudah terkena penyakit paru-paru. Selain bisa menyebabkan kematian lebih cepat, merokok juga bisa mengganggu kenyaman bagi orang disekitar kita karena mereka menghirup udara rokok.

Pembatasan rokok juga bisa mendapatkan keuntungan, yaitu aktivitas olahraga menjadi semangat, kesehatan terjaga sejak dini, bisa menghemat duit, dll. Dengan tidak merokok, kita akan membuat udara sekitar menjadi segar dan tidak menggangu orang yang disekitar kita.

Bila kita renungi kembali apakah harus Indonesia yang menjadi produsen rokok dan indonesia pulalah yang harus menjadi konsumennya? Tidakkan. Karena bisa kita ekspor rokok-rokok kita ke luar negeri, bahkan dengan kita ekspor rokok itu keluar negeri kita bisa mendapat omset yang lebih besar dan itu bisa sangat menguntungkan Indonesia. Hal yang sangat terpenting dengan adalnya hal ini adalah meningkatnya kesehatan bangsa Indonesia terutama anak-anak muda yang akan menjadi penerus bangsa.

Tapi kebijakkan ini akan menjadi hal yang sia-sia jika kita tidak bekerja sama dengan berbagai pihak, entah dari orang tua maupun distributor yang menjual rokok, karena apabila tidak adanya kerja sama dari pihak pihak itu, rasanya sangat mustahil bagi Indonesia untuk mencapai semua itu. Maka marilah kita wujudkan Indonesia yang sehat dan lebih baik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x