Mohon tunggu...
Ridha Ulya
Ridha Ulya Mohon Tunggu... Jurnalis - bila gelap jalan di bumi, jalan ke langit selalu terbuka :)

---

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

"A Quarter-life Crisis, Beyond the Darkest Year(s)"

16 Maret 2018   23:52 Diperbarui: 17 Oktober 2018   15:54 2192 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"A Quarter-life Crisis, Beyond the Darkest Year(s)"
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Quarter-Life Crisis didefinisikan sebagai masa ketika seseorang akan mulai merasa insecure/ ragu, hilang arah terhadap masa depan, terutama mengenai karir, finansial, dan relationship.

Masa ini bisanya disebut dengan sindrom kegalauan umur 20-an, dialami oleh 86% orang pada rentang usia 20 hingga 30 tahun (mayoritas usia diatas 25 tahun), dan biasanya terjadi pada masa akhir kuliah atau masa peralihan dari dunia perkuliahan menuju dunia kerja

Masa ini mungkin agak kurang dikenal dan jarang dibahas dibandingkan masa Mid-Life Crisis (krisis pada usia paruh baya). Masa ini juga berbeda dengan Mid-Life Crisis yang biasanya dipicu oleh peristiwa tertertu seperti masalah kesehatan, pensiun, perceraian,dan kehilangan pekerjaan. Quarter-Life Crisis kadang dapat terjadi tanpa pemicu apapun, kadang diawali oleh  pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti "sebenarnya apa ini? Aku sebenarnya hidup untuk apa? Apakah memang seharusnya aku memilih perkerjaan ini?" serta pertanyaan-pertanyaan menganai tujuan hidup lainnya yang  dapat merubah suasana hati seseorang dari bahagia menjadi sedih tiba-tiba. Kamu dapat tiba-tiba menjadi merasa hancur, panik, murung,  hilang arah dan tujuan hidup, seperti terjebak dalam situasi yang tak ada penyelesaiannya.

Quarter-Life Crisis menjadi masa yang  sangat krusial karena pada fase ini terjadi peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa dimana dunia yang awalnya terlihat menyenangkan, tiba-tiba berubah menjadi berkebalikan, menghadapkan kita pada kenyataan yang tanpa pilihan, yaitu: menjadi pribadi yang dewasa. Masa yang awalnya kita tidak memiliki tanggungjawab apa-apa menjadi panik dengan tumpukan tanggungjawab yang secara instan harus mampu kita emban.

Mengapa masa ini sangat menantang? Karena pada masa inilah kita benar-benar mulai dituntut untuk mandiri. Bertahan dan mulai menghadapi, menyelesaikan masalah sendiri dengan tingkat kerunyaman yang nggak main-main. Sering kali pada fase ini bebagai masalah yang selama ini kita pendam seperti beriringan muncul ke permukaan. Masalah dari masa kecil, masalah keluarga, hubungan romantisme, perkuliahan, pekerjaan, finansial, semuanya menuntut untuk diselesaikan .

Banyak orang yang berhasil melewati fase ini dan muncul kembali menjadi pribadi yang tangguh, dewasa, dan mampu mencapai kesuksesan dalam karirnya. Beberapa orang lainnya justru  mulai mengalami depresi dan ansietas berkepanjangan, sebagian kecil lainnya memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Apa yang bisa kamu lakukan agar tetap survive pada fase ini?

  • Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain 
  • Kamu secara tidak sadar mungkin akan mulai membandingkan diri dengan teman seusiamu. Kamu melihat bahwa teman yang dahulunya terlihat biasa saja kini bisa bekerja di perusahan besar, temanmu yang lainnya mulai terkenal sebagai seorang pembicara, beberapa dari mereka juga sudah mulai memberikan undangan pernikahan.  Kondisi ini akan mulai membuatmu panik. Kamu merasa jauh tertinggal, stagnan, dan merasa tidak akan mampu sampai di titik yang sama seperti mereka.
  • Pada fase ini yang dapat kamu lakukan adalah berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain. Percayalah bahwa setiap orang memliki fasenya masing-masing. Selalu apresisasi dirimu dengan apa yang telah berhasil kamu capai dan tetaplah optimis terhadap masa depan 
  • Cobalah sisihkan waktu untuk merenungi akar dari permasalahan yang sedang kamu hadapi
  • Begitu banyaknya tuntutan yang datang dari keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sosialmu akan membuatmu semakin tertekan. Kamu perlahan akan mulai menyalahkan dirimu sendiri atas tuntutan mereka yang belum mampu kamu capai. Untuk menghindari semakin memburuknya situasi, cobalah sisihkan waktu untuk merenung setiap pekannya, menuliskan satu-persatu hal apa saja yang membuatmu merasa lelah dan frustasi. Kemudian cobalah mencari tahu akar permasalahannya. Hal ini akan membuatmu dapat menyelesaikan masalahmu dengan lebih tenang.
  • Be kind to yourself
  • Masa-masa Quarter-Life Crisis merupakan masa-masa yang sulit dan dapat menjadi lebih sulit jika kamu juga terus dihantui oleh kritikan dari dalam dirimu sendiri.  Inner-self voice ini tak selamanaya berdampak buruk, ia justru dapat membantu kamu melewati fase-fase sulit ini  jika kamu mau bersabar melatihnya, secara konstan mengubah kata-kata  kritikan dari dalam dirimu sendiri  menjadi kata-kata penyemangat, bahwa kamu masih punya kesempatan besar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan mencapai sesuatu yang lebih baik.
  • Cobalah bercerita pada orang lain
  • Ketika kamu merasa terjebak dalam suatu  masalah, kamu akan cenderung merasa buntu, tidak mampu memilikirkan jalan keluarnya. Ada beberapa orang  yang dari kecil selalu diajarkan untuk selalu menjadi pribadi yang kuat, yang harus selalu mampu menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga merasa enggan untuk bercerita jika ia sedang dalam masalah. Kadang kamu juga merasa tidak ingin bercerita karena takut merepotkan, menambah beban, atau malah dijudge sebagai pribadi yang lemah. Sebenarnya tidak masalah jika kamu ingin mencoba menyesaikan masalahmu sendiri terlebih dahulu. Namun jika masalah tersebut malah menjadi semakin besar dan kamu tidak lagi mampu menahannya, cobalah untuk berbagi pada orang yang kamu percaya.  Cobalah untuk bercerita, dan kamu akan menyadari bahwa sekadar becerita saja sudah mampu mengurangi setengah beban masalahmu.
  • Bercerita kepada teman, kelurga, atau seorang yang dapat kamu percaya akan membantumu melihat masalah secara lebih rasional, membantu mencari penyelesaian, menambah support, dan juga akan membuatmu merasa bahwa ada orang lain yang peduli padamu.
  • Cobalah mencari alternatif lain
  • Ketika kamu sudah menemukan akar permasalahannya, cobalah mencari berbagai kemungkinan yang dapat kamu lakukan untuk mengubah kondisi tersebut. Apakah dengan mencari pekerjaan baru, meminta maaf atas kesalahanmu, atau mulai belajar memperbaiki kepribadianmu sehingga lebih berani menghadapi masalah. Jangan ragu untuk mengambil sebuah keputusan besar jika kamu yakin akan dapat memperbaiki kondisimu saat ini, termasuk berganti perkerjaan maupun pindah rumah.
  • Berdoa / meditasi
  • Jika kamu penganut agama tertentu, berdoa dapat menjadi hal yang sangat membantu terutama pada fase-fase dimana kamu tengah percaya bahwa tak ada serorang manusiapun lagi yang akan mampu untuk membantumu, tapi Tuhan-mu akan. Berdoa juga dapat menjadi pilihan yang tepat saat kamu benar-benar tak mau ada seorangpun tahu mengenai masalahmu. Selain itu, kamu dapat melakukan meditasi untuk membuat pikiranmu lebih tenang, dan tidak melulu fokus pada masalah yang tengah kamu hadapi.

Jika kita melihat sekilas, maka Quarter-Life Crisis akan tampak sebagai sebuah proses yang sulit dan seperti tak ada jalan keluar. Karena sebagai manusia kita cenderung ingin selalu berada di zona nyaman dan menghindari rasa sakit.  Namun jika kita melihat dari sisi lain, Quarter-Life Crisis bisa menjadi fase transisi yang justru dibutuhkan oleh setiap orang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada dasarnya, Quarter-Life Crisis akan terjadi di masa kamu merasa belum mencapai potensi terbaik yang kamu mampu capai dan merasa tertinggal di belakang. Kamu sebenarnya dapat memanfaatkan momen ini untuk kembali merenungkan apa yang ingin kamu capai dan berjuang untuk itu.

"Quarter-Life Crisis dapat diibaratkan seperti fase perubahan ulat menjadi kupu: kepompong. Ulat bisa makan dan bergerak sepuasnya, namun kepompong tidak. Fase kepompong adalah fase yang akan dihadapi oleh setiap ulat. Merupakan fase yang sangat menantang karena pada fase ini ulat tidak diperbolehkan untuk makan dan banyak bergerak. Kemampuan ulat untuk bersabar menghadapi fase ini, dan mengatasi gangguan dari luar akan membuatnya berhasil menjadi kupu-kupu yang sempurna."

Hal yang sama terjadi pada fase Quarter-Life Crisis. Keberhasilan kamu melewati fase ini akan membentukmu menjadi pribadi yang dewasa, penuh dengan kesabaran, daya tahan, kekuatan dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, persiapkanlah dirimu dan support system terbaikmu untuk menghadapinya. Dan jangan pernah ragu untuk meminta bantuan pada orang yang kamu percaya, baik pada keluarga, teman, maupun konselor.

Percayalah, kamu tidak sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x