Mohon tunggu...
Riap Windhu
Riap Windhu Mohon Tunggu... Perempuan yang suka membaca dan menulis

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Dapat dihubungi di email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

The Music of Silence, Tidak Ada Mimpi yang Mustahil

21 Mei 2020   21:58 Diperbarui: 23 Mei 2020   05:02 300 32 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
The Music of Silence, Tidak Ada Mimpi yang Mustahil
Amos saat bernyanyi dengan penyanyi rock Zucchero Fornaciari (sumber: screenshot tayangan Mola TV)

"Setiap tuna netra belajar alat musik atau jadi tukang pijat," ucap Amos pada kedua orang tuanya. Amos ingin bekerja di bidang yang berbeda, yakni dengan mengambil jurusan hukum.

Amos pun sempat mengungkapkan, Tuhan itu Ada? Namun agar ayahnya tak kecewa, Amos akhirnya tetap belajar musik di SMA Lajatico. Setelah lulus SMA, Amos kemudian bekerja di sebuah bar piano bersama temannya Adriano. Amos sempat menyanyikan sebuah lagu pada ulang tahun seorang pengunjung wanita bernama Elena, yang kelak menjadi istrinya.

Amos bermain musik tanpa mendengar. Pamannya yang selalu mendukung berusaha agar Amos bangkit. Dia mengundang seorang kritikus opera dan meminta Amos untuk bernyanyi di hadapannya. Namun, kata-kata kritikus itu justru menjatuhkan mental Amos.

Hingga suatu hari, seorang petugas stem piano yang mengagumi bakat langka dan suara emas Amos memperkenalkannya pada Suarez Infiesta, seorang mastro hebat yang sudah bekerja dengan semua penyanyi hebat. Salah satunya Franco Corelli, yang merupakan salah satu penyanyi yang disukai Amos.

Sang maestro mengajukan syarat untuk siap menjadikan musik satu-satunya alasanmu untuk hidup Amos. Hanya bersedia mengajari untuk menjadi penyanyi tenor hebat jika Amos mau melakukan pengorbanan hebat.

Maestro mengajarkan diam adalah disiplin yang paling penting dan sulit. Menurutnya, penyanyi sebelum pertunjukan harus berada dalam keadaan hening yang absolut. Sulit namun setelah mempelajarinya maka tidak membutuhkan kata-kata. Bahkan bisa merasakan sendiri suara napas.

Namun, Amos sudah punya keuntungan luar biasa karena sudah akrab dengan suara. Selama ini suara memandu langkah untuk menjalani kehidupan. Keheningan musikal menjadi penuntun untuk melewati bagian terdalam diri. Lalu diungkapkan melalui kesempurnaan lagu yang indah.

Sebagai hadiah, maestro mengajaknya rekaman di sebuah studio. Di tempat itulah, Amos bertemu dengan Samuel Trani, agen musisi yang kemudian meneleponnya dan memberi tawaran untuk menyanyi bersama penyanyi rock Zucchero Fornaciari. Eksperimen musik menggabungkan musik klasik dengan rock

Sayangnya, kemudian hingga bertahun-tahun tidak ada kabar. Dalam keadaan nyaris putus asa karena tidak ingin bergantung hidup pada ayahnya, Amos menerima telepon dari Zucchero. Dari situlah, dimulai kesuksesan pertama Amos yang berhasil menjejakkan kaki ke Sanremo dan menjadi penyanyi klasik terkenal di dunia.

Pesan dalam film The Music of Silence

Amos dengan tukang stem piano yang memperkenalkannya pada maestro terkenal (sumber:imdb.com)
Amos dengan tukang stem piano yang memperkenalkannya pada maestro terkenal (sumber:imdb.com)
Film The Music of Silence memang termasuk lawas karena dibuat pada tahun 2018. Namun, saat menonton tayangan perdananya di Mola TV Movies, siapapun yang akan melihatnya akan merasa tersentuh dan terinspirasi. 

Seorang dengan keterbasan, yakni tuna netra seperti Amos Bardi mampu meraih kesuksesan meski tidak dalam usia yang belia lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x