Mohon tunggu...
Riap Windhu
Riap Windhu Mohon Tunggu... Perempuan yang suka membaca dan menulis

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Dapat dihubungi di email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Suatu Hari, Saat Harus Mengalami Delay Pesawat di Bandara

29 Maret 2018   23:47 Diperbarui: 29 Maret 2018   23:55 0 4 8 Mohon Tunggu...
Suatu Hari, Saat Harus Mengalami Delay Pesawat di Bandara
Mengalami delay pesawat memang tidak menyenangkan, tapi sekaligus bisa memberikan pengetahuan dan belajar menjaga sikap untuk penerbangan yang selamat, aman, dan nyaman (dokpri)

IBU mulai gelisah. Kami masih berada di ruang tunggu (boarding room). Tidak hanya ibu, pakde yang juga ikut dalam penerbangan, mulai bertanya-tanya. Belum terdengar adanya pengumuman atau kejelasan mengenai pesawat terbang yang akan kami naiki sore itu di tahun 2017.

"Kenapa belum boleh ke pesawat, ya?" tanya Pakde. Lelaki sepuh yang sudah berusia 75 tahun lalu itu, bertanya ke saya. Dengan tersenyum, saya mulai memperhatikan jadwal penerbangan yang tertera. Ya, seharusnya kami sudah berangkat untuk menempuh perjalanan ke Jakarta.

Sebenarnya pula kami berharap sudah bisa sampai di Jakarta sebelum Maghrib. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi. Penerbangan kami ditunda. Delayed. Boarding room Bandara Sultan Thaha, Jambi sore itu seluruh kursi tunggunya sudah dipenuhi penumpang.  

Mereka pun sama seperti kami, menunggu diperbolehkan melewati gate masuk dan bisa segera menuju pesawat. Saya bertanya kepada seorang perempuan yang duduk dekat dengan saya. Sebagai penumpang maskapai yang sama tujuan Jakarta, kami pun sama-sama tidak tahu kapan kami berangkat.


Akhirnya, saya melangkah menuju petugas yang ada di dekat gate boarding. Sudah lebih dari sepuluh  menit melewati jam pemberangkatan pesawat. Petugas berseragam itu hanya mengatakan agar  saya  dipersilahkan untuk menunggu karena memang belum ada pengumuman. "Nanti akan ada pengumuman untuk naik ke pesawat  sesuai dengan rute tujuan dan dan nomor penerbangan," ujarnya.

Lantaran belum bisa dipastikan, akhirnya saya kembali ke tempat ibu dan pakde yang masih duduk di kursi ruang tunggu. Saya tidak bisa meninggalkan mereka lama-lama.  Kami melakukan penerbangan bertiga. Saya harus selalu berada bersama mereka. Keduanya sudah lanjut usia.

Mata saya menangkap pakde sesekali melihat ponsel yang dipegangnya. Muncul rasa tidak tega memperhatikannya. Keluarga pakde di Jakarta pasti sudah menunggu.  Penundaan penerbangan seperti ini tidak kami duga sebelumnya. Akhirnya saya membuka bingkisan kotak berisi kue-kue dan roti yang dibawakan oleh para sepupu di Jambi.

"Pakde, makan dulu aja kuenya," kata saya mempersilakan pakde. Sayang, lelaki tua itu malah menggeleng karena merasa masih kenyang. Kami memang sudah santap siang bersama-sama dengan keluarga besar di Jambi sebelum keberangkatan ke Jakarta.

Ibu pun hanya mengambil satu sambil meminta dibelikan minuman. Saya pun melangkah menuju sebuah convenient  store yang ada untuk mencari air mineral. Sambil menunggu pengumuman mengenai keberangkatan maskapai, membeli sesuatu termasuk cara untuk mengisi waktu.

Kebetulan, saya pun jadi sempat untuk mampir juga sebentar ke toko oleh-oleh asal Jambi yang ada di sekitar ruangan. Meski harga lebih mahal bila membeli di bandara, tidak apa-apa karena tujuannya sekaligus melihat-lihat untuk menghabiskan waktu. Saya hanya menambah seperlunya untuk oleh-oleh keluarga di Jakarta.

Ibu dan pakde masih duduk mengobrol di kursi yang sama. Untunglah, meski kali ini saya harus mengawal mereka, kedua manula yang saya hormati ini tergolong sehat. Di usianya yang ke-67 pun, ibu bersikukuh untuk membawa tasnya sendiri. Tak ingin saya yang membawa semuanya dan beliau tak membawa apa-apa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
KONTEN MENARIK LAINNYA
x