Edukasi Pilihan

"Follow Up" Bromo, Mengukir Relief Harapan di Puncak Keabadian

9 November 2018   22:52 Diperbarui: 9 November 2018   23:15 145 1 1
"Follow Up" Bromo, Mengukir Relief Harapan di Puncak Keabadian
dokpri

Sengaja kutulis catatan perjalanan ini, agar keserederhanaan kisah hidup ini tidak hanya terkenang di dalam hati dan sirna seiring melemahnya ingatan, usia dan tulang belulang yang akan mati. Kukisahkan saja agar bisa sedikit menginspirasi.

Sore itu 23 November 2017, di tengah rintiknya hujan Jogja yang semu-semu mengguyur, kami bersiap untuk memulai projek follow up Bromo. Setelah persiapan yang matang, gonta-ganti proposal, perkelanaan mencari sponsorship, rapat dan koordinasi yang berkali-kali dan tentunya uji materi, dengan segelintir relawan yang sempat beberapa kali rombak formasi, kami memutuskan untuk pergi dan meniti projek pertama bagi kami relawan baru di komunitas ini. Dari terminal giwangan, bus kami melaju sekitar pukul lima sore. 

Terlihat ekspresi kami ada yang begitu antusias untuk melakukan perjalanan ini, karena sudah terbiasa mendaki gunung. Ada yang harap-harap cemas karena mungkin ini adalah perjalanan pertamanya ke gunung. Ekspresi agak cemas salah satunya tergambar nyata diwajahku, karena memang ini adalah perjalanan pertamaku untuk mendaki gunung. 

Perjalanan ini akan cukup panjang, karena bus kami harus melaju dan membelah wilayah DIY menuju ke Probolinggo, Jawa Timur. Estimasi perkiraan sampai adalah sekitar pukul empat pagi. Namun, ternyata kami baru tiba di Probolinggo pukul enam pagi. 

Sesampainya di terminal Probolinggo, kami beristirahat di warung untuk sekedar minum teh hangat dan sarapan guna meredakan goncangan-goncangan selama perjalanan. Sambil menunggu teman kami yang sedang melakukan negosiasi mencari mobil engkel yang akan membawa kami menuju gunung Bromo.

Dengan mobil engkel yang berbodikan warna pucat kemerahan, kami bertandang menuju ke penginapan kami di desa Ngadirejo, Bromo. Udara pagi gunung Bromo nan segar seakan tak segan masuk ke mobil engkel kami, karena kaca mobil engkel ini terbuka lebar tanpa AC, membuat pemandangan berikut udara di Gunung Bromo ini terlihat dan terasa tak basa-basi. Lembah, bukit, lereng dan relief gunung dari kaki gunung Bromo hingga setengah ketinggian gunung ini dengan ramah memanjakan mata kami dengan keindahan.

dokpri
dokpri
Terlintas di sepanjang perjalanan para dewa dewi bersarung penjaga gunung Bromo. Inilah mereka "suku Tengger". Suku asli gunung Bromo, yang dulu hanya ku dengar dari pelajaran-pelajaran sosial di sekolah. Kini kami bisa menyaksikan mereka secara langsung. Berdasarkan sejarahnya dikatakan bahwa suku tengger merupakan turunan dari Rara Anteng dan Jaka Seger. 

Terlihat mereka sedang bersiap untuk melakukan aktivitasnya di pagi hari, ada yang sedang menaiki motor menuju kota, ada yang mencangkul ladangnya dan menabur pupuk. Terlihat pula beberapa warga yang memikul karung hasil panen dari ladang mereka. Sungguh inilah warisan kearifan lokal dari tuhan untuk Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.  

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Sesampainya di rumah pak Mun (salah satu rumah warga yang akan kami tempati) kami langsung dijamu dengan teh khas Bromo yang berwarna kemerahan. Terasa nikmat sekali mengisi relung-relung perut kami yang memang butuh kehangatan. 

Rumah yang akan kami tempati ada sekitar empat rumah dengan jumlah kami yang akan disebar sekitar 4-5 orang setiap rumah. Rumah pak Mun inilah yang dulu ditempati oleh relawan komunitas kami saat erupsi gunung Bromo tahun 2011. 

Saat itu relawan dari komunitas kami membantu desa Ngadirejo ini terutama di bidang pendidikan pasca erupsi. Diantaranya membantu membangun kembali sekolah yang rusak, memberikan pengajaran bagi anak-anak dan melakukan trauma healing bagi anak-anak. Kami juga disuguhi dengan sarapan pagi yang tak kalah nikmat dengan minuman teh diawal. 

Menu yang dihidangkan memang sederhana yaitu mie rebus, tempe goreng dan telur dadar, tapi terasa mantap untuk mengganjal perut-perut kami dan menambah sedikit jaringan lipid yang nanti muaranya akan dibakar sebagai energi agar kami bisa bercengkrama akrab dengan dinginnya gunung Bromo.

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Setelah sarapan selesai, targetan yang ingin kami lakukan bukan langsung melakukan projek melainkan bersosialisasi terlebih dahulu dengan warga desa dan anak-anak. Kami mengitari perumahan warga suku Tengger di desa Ngadirejo Bromo ini. Mentari belum terlalu tinggi, mungkin masih beberapa derajat lagi untuk mencapai purna rekahnya pagi. 

Terlihat dikejauhan para dewa-dewi dengan ikatan sarung dipundak sudah sibuk bertani. Dengan hubungan yang sebelumnya telah terjalin, kami dengan mudah melakukan ramah tamah saat sosialisasi, bahkan ada beberapa yang menawari untuk bertandang kerumah mereka. 

Sapaan dari ranumnya kehijaun sayuran tomat, daun bawang, seledri, kol, wortel, buncis dan jagung serta hamparan tanah berwarna hitam legam yang kaya humus dan jajaran pure-pure yang menawarkan kedamaian dan dinginnya udara Bromo yang belum bertali dengan matahari seakan berselimut hangat dengan keramahan dewa-dewi bersarung ini (warga suku Tengger).

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Ketika bel istirahat disekolah mulai berbunyi kami segera berkenalan dan bermain dengan anak-anak disini. Kami memulainya dengan bernyanyi, melakukan ice breaking khas BFM dan bermain voli, bola kaki dan mewarnai bersama. 

Anak-anak di desa ini memiliki wajah yang kemerahan seperti tomat ranum yang siap dipanen, hematku rona merah dipipi ini adalah salah satu bentuk adaptasi kulit terhadap lingkungan yang bersuhu rendah. Kami juga sempat melakukan diskusi kecil dengan guru-guru di SD Ngadirejo ini mengenai persiapan yang harus dilakukan untuk projek esok hari. 

Beberapa guru di desa ini juga ternyata seorang muslim karena menggunakan hijab, sebelumnya kukira di Bromo ini semua penganut Hindu, tapi setelah dikonfirmasi ada juga yang beragama muslim, kristen dan katholik.

dokpri
dokpri
dokpri
dokpri
Selesai melakukan sosialisi, kami kembali kerumah pak Mun karena memang penempatan kelompok kami belum disebar. Selama beberapa menit kami melakukan diskusi mengenai persiapan dan pematangan materi yang akan dilakukan esok hari. Diskusi segera ditutup, karena nampak sayu-sayu mata kami karena dua perihal kenyang, kenyang yang pertama adalah kenyang perut setelah sarapan pagi dan yang kedua adalah belum kenyang tidur, karena selama perjalanan tidak semua dari kami bisa tertidur dengan nyenyak. 

Aku dan keempat temanku ditempatkan di rumah bu Ika. Bu ika adalah tipikal pribadi yang ramah, beliau langsung menyapa kami ketika kami tiba dirumahnya, seduhan teh hangat berwarna kemerahan khas Bromo kembali menyapa dinginnya tubuh kami. Seperti suku tengger umumnya, keluarga bu Ika juga mengenakan sarung di pundak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3