Mohon tunggu...
Repa Kustipia
Repa Kustipia Mohon Tunggu... Ahli Gizi - Gastronomist (Gastronome)

Membahas Gastronomi di @gastrotourism_academy Berhenti Menjadi Ahli Gizi (Nutritionist Registered) di tahun 2021. Bertransformasi Menjadi Antropolog Pangan. Dokumentasi Lapangan ig : @repakustipia

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Eksistensi Jamu, Lestarikan atau Lupakan?

1 November 2022   07:26 Diperbarui: 1 November 2022   09:12 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar : unplash.com 

"Jamu.....Jamunya....Jamu"

Itulah suara lembut mbok-mbok dan mbak-mbak penjual jamu gendong yang masih eksis, segelas jamu brotowali hanya Rp. 3.000 , kunyit asam sudah Rp. 5.000, jamu beras kencur Rp. 4.000 , tambah anget pakai air mentol atau daun mint-nya nambah Rp. 2.000. 

"Iya boleh....jamu haid, jamu kuat, jamu keperkasaan, jamu anak cacingan, jamu kecantikan, jamu kesehatan, jamu nambah imun, jamu biar ga masuk angin, jamu biar ga centengan, jamu anti turun mesin, jamu singset set set"

Khasiat jamu yang langsung dipromosikan oleh penjual jamu. Melihat perkembangan jamu, inilah pusaka leluhur yang masih dipercaya obat asli Indonesia. Semenjak zaman kerajaan Hindu di Jawa, jamu sudah ada. Bahkan relief-relief candi borobudur menggambarkan kebiasaan minum jamu dan meracik jamu. 

Relief ini namanya Relief Karmawibhangga, dilansir dari Borobudur Pedia Kemdikbud : 

Dari posisinya yang berada pada kaki candi, relief Karmawibhangga dipahatkan berdasarkan kitab Mahakarmawibhangga. 

Kitab ini berisi tentang hubungan sebab akibat di dalam kehidupan manusia baik di dunia dan di akhirat. Setiap panil pada relief Karmawibhangga selalu merupakan lukisan dari hal tersebut. 

Jika diperbesar terlihat kegiatan meracik dengan batu dan sedang menyajikan ramuan. 

sumber gambar : wikipedia.com
sumber gambar : wikipedia.com

Mataram Kuno Sampai Masa Kependudukan Jepang di Indonesia 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun